​Nadya, Melayani dan Menikmati
Sunter Ancol > Profil

​Nadya, Melayani dan Menikmati

Kamis, 24 November 2016 16:02 WIB
Editor : Andi MZ | Reporter : Oktaviani

?Nadya
?Nadya

Share this





Info Karier - Dokter Nadya Andarina Nugraha, Case Manager Rumah Sakit (RS) Royal Progress, lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas YARSI pada 2009. Dia memulai karier profesional setelah melewati koas dan uji kompetensi nasional pada awal 2012. Ia bekerja di rumah sakit (RS) swasta ibu dan anak sembari mengajar. Tak lama kemudian, ia bergabung dengan RS Royal Progress di Sunter. Berkat kinerja bagus, pada Januari 2015 dipercaya sebagai koordinator dokter ruangan atau case manager.

Ia berkarier sebagai dokter, karena dorongan dari orangtuanya, meskipun itu bukan mimpi waktu kecil. Setelah menjalani, ternyata dia merasa cocok dan suka. “Yang membuat saya jatuh cinta dengan dunia kedokteran itu bisa mengetahui penyakit dan penyebabnya. Saat saya koas menolong orang sakit, keluargannya tertolong, dan mengucapkan terima kasih. Rasanya senang dan saat itu berpikir ini dunia saya,” ungkapnya.

Selama empat tahun menjadi dokter ia menemui berbagai macam kasus dari yang ringan, berat, hingga menyentuh hati. Meski hanya menjadi koordinator ruangan dia mengaku senang, karena bisa mendapatkan ilmu baru dari dokter spesialis. Bagi pemilik moto hidup melayani dengan hati dan selalu berbicara dengan senyum ini merasa enjoy dengan profesi sekarang. “Ada kalanya merasa jenuh. Apalagi ketika menangani pasien banyak mengeluh. Sejauh ini saya enjoy,” jelasnya.

Meski sudah menjabat koordinator dokter ruangan, tetapi dia masih ada obsesi melanjutkan ke pascasarjana atau mengambil dokter spesialis. “Saya akan terus belajar. Rencananya sudah matang. Inginnya ke spesialis mata. Semoga semua dapat terlaksana dengan baik,” pungkas kelahiran 28 tahun yang lalu ini.

Sunter Ancol > Profil

Bryan, Jujur dan Yakin

Kamis, 24 November 2016 15:28 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Oktaviani

Bryan
Bryan

Share this





“Intinya harus enjoy. Pekerjaan apapun jika kita dapat menikmati, maka tidak akan terasa berat.”

Info Eksekutif - Bryan, pemilik Barcode Barbershop, memiliki prinsip hidup jujur dan yakin. Produser sekaligus entrepreneur ini berkecimpung dengan dunia perfilman lebih dari 18 tahun. Sebelum buka usaha sendiri, ia bekerja di bidang advertising dan business development. “Saya mulai bergabung dengan salah satu rumah produksi di Jakarta pada 2002. Awalnya menjadi pimpinan produksi dan sekarang menjabat sebagai produser pelaksana,” tuturnya.

Ketika bekerja di dunia perfilman, banyak pengalaman yang dirasakan kelahiran Jakarta pada Agustus 1972 ini. Bagaimana bekerja sama dengan banyak selebritis dari berbagai latar belakang dan karakter. Ia harus mampu beradaptasi. “Intinya harus enjoy. Pekerjaan apapun jika kita dapat menikmati, maka tidak akan terasa berat,” tegasnya.

Sukses di dunia hiburan, pada Oktober 2015 ia membuka bisnis barbershop di Sunter. Keingingan untuk buka usaha ada dari dahulu. Dengan membuka Barcode Barbershop dia ingin melampiaskan keinginan membangun usaha yang bisa dikenal banyak orang. “Hal ini tentu membutuhkan proses. Apalagi usaha di bidang jasa. Pelayanan nomor satu,” ungkapnya.

Menjalankan dua profesi sekaligus tentu bukan perkara mudah. Dia harus memberikan kepercayaan penuh kepada teman-temannya di barbershop. Kesalahan dan human error yang terjadi tidak boleh terulang lagi. “Harus bisa belajar dari kesalahan. Saya biasanya pagi-pagi datang ke barbershop untuk mengontrol,” pungkas lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Sahid ini.

Sunter Ancol > Profil

Mellisa, Selalu Disiplin

Selasa, 01 November 2016 14:32 WIB
Editor : | Reporter : Oktaviani

Mellisa
Mellisa

Share this





“Harus berani keluar dari zona nyaman.”

Info Eksekutif - Mellisa, co-founder Salon MaGeo, memiliki moto dalam hidup: Use your time wisely. Jangan pernah menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak penting. Sebisa mungkin, selalu menghargai dan tepat waktu. Terbukti dengan prinsip hidup itu, dia bersama Giovanni, di usia muda berhasil mendirikan sekaligus membesarkan bisnis salon.

Ia memulai karier sebagai karyawati bagian finansial di salah satu perusahaan fashion ternama di Jakarta. Lulusan Universitas Bina Nusantara (Binus) International pada 2013 ini hanya bertahan kurang dari dua tahun. Pada penghujung 2015, dia memberanikan diri untuk menjadi entrepreneur.

Kelahiran Malang pada Mei 1991 ini memiliki bakat bisnis sedari remaja. Saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA), dia menjalankan bisnis online shop. “Waktu SMA jualan baju, tas, dan lainnya lewat online. Memang awalnya hanya iseng, tetapi ternyata lumayan menguntungkan,” ungkapnya.

Dia merasakan banyak perbedaan semenjak membuka Salon MaGeo. Dengan background pendidikan akuntansi, tetapi bergelut dengan bisnis kecantikan, itu bukan perkara mudah. Akan tetapi, hal itu justru memacunya untuk terus belajar dan mengasah kemampuan.

“Kita harus berani menantang diri dengan hal-hal baru. Jangan hanya bertahan di comfort zone saja. Orang yang stay di comfort zone, hidupnya akan stuck. Tidak pernah maju. Intinya harus berani keluar dari zona nyaman,” tutup penyuka berenang dan bersepeda ini.

Sunter Ancol > Profil

Pascal Bellon, General Manager Grand Mercure Jakarta Kemayoran

Selasa, 01 November 2016 14:09 WIB
Editor : | Reporter : Oktaviani

Pascal Bellon
Pascal Bellon

Share this





Info karier - Pascal Bellon, General Manager Grand Mercure Jakarta Kemayoran, merupakan warga negara asal Perancis. Dia hijrah ke Indonesia pada 1991. Lima tahun kemudian, tepatnya pada 1995 mulai bekerja sebagai profesional. Sekitar 21 tahun berkarier, ia dibergabung dengan Grand Mercure Jakarta Kemayoran dengan jabatan sekarang. “Saya telah bekerja di 35 negara, seperti USA (Amerika Serikat) dan Kanada. Lalu pada 1995 memulai karier di Indonesia. Grand Mercure adalah sebuah brand yang bagus. Jika terus dikelola dengan baik, hotel ini akan maju dan berkembang,” ujarnya.

Pascal menghabiskan waktu puluhan tahun di Indonesia. Itu membuatnya cinta dengan negeri ini. Dalam pandangannya, Indonesia memiliki banyak hotel dengan pertumbuhan yang sangat baik. “Negara ini berkembang dengan cepat. Bahkan sangat cepat. Begitu banyak hotel di tempat yang sama dan kita tidak dapat mengontrol pertumbuhan itu,” pungkas penyuka travelling ini.

Sunter Ancol > Profil

Rama Pratama, Front Office Manager Ibis Styles Sunter

Selasa, 01 November 2016 13:47 WIB
Editor : | Reporter :

Rama Pratama
Rama Pratama

Share this





Info Karier - Bekerja di dunia perhotelan bukan menjadi cita-cita awal Rama Pratama, Front Office Manager Ibis Styles Sunter. Terlahir dari keluarga militer membuatnya ingin menjadi anggota TNI. Namun, setelah lulus sekolah menengah atas semuanya berubah. Saat mencari pekerjaan ia diterima sebagai daily worker hotel di Pulau Bintan. Selama dua tahun bekerja membuatnya ingin berkembang. Pada 2005  memutuskan kuliah di Sekolah Pariwisata Bandung (NHI) Jurusan Administrasi Hotel. Setelah lulus pada 2009, Rama memulai karier profesional sebagai resepsionis di Hotel Acacia Jakarta.

Rama kemudian pindah ke Accor Group pada 2011, dengan jabatan resepsionis, supervisor, hingga auditing manager. Berkat kinerja bagus pada 2015, ia dipercaya menjadi front office manager Ibis Styles Sunter. Ia merasakan berbagai hal unik dan menantang selama bekerja di dunia perhotelan. “Saya bawel, senang berbicara, tidak bisa diam, selalu berinovasi. Saya selalu ingin memacu diri saya agar bisa lebih dari orang lain, tidak mau kalah. Target umur 35 tahun sudah menjadi general manager,” tutup kelahiran Sidoarjo, 25 Agustus 1985 ini.

Sunter Ancol > Profil

Chelda Tedmando, Pekerja Keras

Kamis, 06 Oktober 2016 13:56 WIB
Editor : Admin | Reporter :

Chelda Tedmando
Chelda Tedmando

Share this





Info Eksekutif - Cantik dan energik. Itulah gambaran awal terhadap Chelda Tedmando, pengelola sekaligus direktur PT Timur Makmur Perkasa (Luxus Grandhall MGK Kemayoran). Ibu dua anak ini berhasil masuk jajaran dewan direksi, karena prestasi dalam bekerja. “Walau berada dalam bisnis keluarga, saya  mengawali karier dari nol. Mulai dari marketing, bertemu dan menawarkan kepada konsumen. Secara perlahan jabatan naik hingga menjadi salah satu direktur,” katanya belum lama ini.

Bagi dia, bisnis pengadaan jasa pengolahan gedung di Jakarta menggiurkan. Selain sebagai pusat ekonomi dan bisnis, juga pusat pemerintahan, sehingga menunjang kemajuan usaha. Harga yang ditawarkan juga lebih murah ketimbang hotel. Kelebihan lain jasa penyewaan tempat acara adalah konsumen dapat mengatur interior sesuai dengan keinginan.

Ia bercerita, Luxus Grandhall MGK Kemayoran telah memasuki usia 12 tahun. Dahulu merupakan restoran dan pemilik merambah bisnis jasa penyewaan gedung. Hal yang harus tetap dipertahankan agar usaha semakin maju adalah meningkatkan kualitas pelayanan. “Memiliki pruduk yang bagus dan berkualitas. Selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap event. Terus berusaha kerja keras dan bersyukur kepada Tuhan menjadi modal utama agar perusahan ini lebih berkembang dan maju,” tutup alumni Universitas Trisakti ini.

Sunter Ancol > Profil

Rizki Permata Sari, Marketing Communication Manager Hotel Grand Mercure Kemayoran

Rabu, 05 Oktober 2016 16:13 WIB
Editor : Admin | Reporter : Oktaviani

Rizki Permata Sari
Rizki Permata Sari

Share this





Info Karier - Rizki Permata Sari, menjadi Marketing Communication Manager Hotel Grand Mercure Kemayoran sejak Februari 2016. Pengalamannya di bidang itu dimulai pada 2007, jadi asisten manajer marketing communication Handara Hotel & Resort Bali,  The Grand Bali Hotel, Redtop Hotel, serta public relation and marketing manager CS One Hotel. Sebelum terjun ke dunia perhotelan, ia bekerja sebagai pramugari, setelah itu mencoba dunia public relation dan menemukan passion.

Dalam menggapai karier, ia memiliki prinsip, dalam hidup harus memiliki target yang dilandasi oleh mimpi. Selain itu, dia juga menerapkan tiga hal: control, alt, del, yang memiliki arti harus terus mengontrol diri, memiliki alternative solution dalam menyelesaikan masalah, dan delete all situation to make attention & negative energy. Harus berpikir positif untuk dapat menyelesaikan masalah. “Kesuksesan tetap harus bermanfaat buat orang lain dan keluarga. Keep innovating & keef positive everyday.”

Sunter Ancol > Profil

Suroyo, Ikhlas Mengabdi

Rabu, 05 Oktober 2016 16:05 WIB
Editor : Admin | Reporter : Farid Hidayat

Suroyo
Suroyo

Share this





Info Tokoh - Suroyo, Ketua RW 01 Kelurahan Sunter Agung, merasa puas dengan mengabdi kepada lingkungan dan masyarakat. Menjadi orang nomor satu di RW tersebut merupakan panggilan jiwa, bukan mengejar populeritas. Meski tidak mendapat gaji, ia tetap berbuat yang terbaik. Dia menjabat sebagai ketua RW 01 di Kelurahan Sunter Agung selama tiga periode, dari 2009 sampai 2018. ”Saya tidak menyangka warga masih berikan kepercayaan untuk kembali menjadi ketua RW,” tuturnya.

Kelahiran Jakarta pada 11 Juni 1959 ini menjadi ketua RW di wilayah padat penduduk, membawahi 24 RT. Kendati demikian ia merasa senang, karena warganya aktif dan ramai. Dalam menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan, dia rajin berkoordinasi dengan ketua RT. “Jabatan RW hanya status. Walaupun kerja sosial, saya harus berbuat yang terbaik untuk warga. Harus tetap berbaur agar bisa mengerti keinginan warga,” ungkapnya.

Dia mengenal organisasi sejak 1993. Awalnya senang kumpul dengan teman dan tetangga. Membuatnya aktif di sekitar pemukiman maupun kelurahan. Pengalaman dalam kepengurusan adalah bendahara RT, sekertaris RW, pelaksana tugas RW, dan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM).

Selama menjabat sebagai ketua RW 01, beberapa kegiiatan berjalan dengan baik, seperti majelis taklim, pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK), jumantik, dan pembinaan kelompok lansia (BKL). Keberhasilan lain, pada 2014, ia bersama warga behasil membangun kantor RW 01. “Pembangunan selesai tahun ini. Kalau sebelumnya kantor RW kecil, sekarang diperbesar dengan dua lantai. Bawah untuk pendidikan dan lantai atas untuk pelayanan,” tuturnya.

Meskipun terkadang merasa lelah dengan tugas ketua RW, pensiunan dari perusahaan swasta ini mengaku senang dan menikmati.”karena bisa dekat dengan masyarakat dan di masa tua masih bisa mengabdi,” pungkasnya.

Sunter Ancol > Profil

Whisnu Wijaya, General Manager IBIS Styles Sunter

Rabu, 05 Oktober 2016 15:50 WIB
Editor : Admin | Reporter : Farid Hidayat

Whisnu Wijaya
Whisnu Wijaya

Share this





Info Karier - Whisnu Wijaya lahir pada 11 Februari 1980.  Ia menyelesaikan pendidikan terakhir di Ambarukmo Palace Tourism Academy Yogyakarta (AMPTA) pada 2000. Sebelum karier moncer seperti sekarang, dia pernah menjadi sales pengharum ruangan, sandal kesehatan, kosmetik secara door to door. Setelah itu, menjadi driver di Novotel Solo. Tak lama kemudian, karier meningkat hingga  menjadi Resident Manager Hotel Mercure Harvestland Bali pada 2012-2013.

Sukses dengan karier tersebut, Whisnu dipercaya menjadi general manager IBIS Styles Sunter pada April 2015. Keberhasilan yang diperoleh karena memegang beberapa prinsip. “Bagaimana masa depan kamu adalah tergantung apa usaha kamu hari ini. Kalau yang kamu usahakan hari ini adalah kebaikan, masa depan kamu akan baik. Begitu juga sebaliknya,” ujarnya.

Sunter Ancol > Profil

Elvie Tresya, Peduli Kanker

Senin, 05 September 2016 17:11 WIB
Editor : Dany Putra | Sumber : Team InfoSunter

Elvie Tresya
Elvie Tresya

Share this





Tokoh - Latar belakang pekerjaannya di bidang kesehatan membuat Elvie Tresya kerap bersentuhan langsung dengan beragam pasien. Dalam setiap kesempatan, dia  juga tak segan menyempatkan diri berinteraksi langsung dengan mereka. Terutama, pasien-pasien gagal ginjal dan kanker.

Beragam cerita mengharukan selalu terdengar. Secara perlahan, jiwanya seakan terpanggil untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk mereka. Apalagi, Elvie merasakan hal sama. Almarhum suaminya juga harus melakukan cuci darah untuk mengatasi penyakitnya.

Akhirnya, panggilan itu terwujud. Elvie dan beberapa kawannya membentuk Indonesia Care Cancer Community (ICCC), wadah berbagi informasi bagi para pengidap kanker. Juga, wadah motivasi agar mereka selalu optimistis menjalani hidup. “Sebenarnya, saya terinspirasi dari organisasi lain. Saat mendampingi almarhum suami berobat, saya bertemu dengan komunitas yang merangkul para pasien gagal ginjal. Kebetulan, ketika itu, saya juga lagi menyelesaikan pendidikan paska sarjana dengan tema psikologi kesehatan bagi penderita penyakit kanker. Lalu, ada yang mengajak saya membentuk organisasi serupa, kenapa tidak,” jelasnya.

Elvie dinobatkan sebagai ketua. Beragam program ia rancang. Mulai dari mengedukasi pasien dan keluarga pasien hingga bekerjasama dengan beragam rumah sakit sebagai wadah sosialisasi. ICCC juga kerap melakukan kunjungan ke pasien-pasien yang tengah menjalani kemoterapi. “Saat kunjungan, saya selalu bilang, kalian adalah pilihan Tuhan, kalian diingatkan oleh Tuhan agar terus mempersiapkan diri. Karena kematian pada dasarnya adalah suatu hal yang pasti bagi setiap manusia, hanya tinggal bagaimana kita menutupnya dengan sebuah senyuman,” katanya.

Bagi Elvie, dapat berbagi kebahagiaan dan penderitaan antar sesama manusia merupakan hal mulia. Dia tulus melakukannya meski dia bukan pengidap kanker. “Saya tidak pernah berharap apapun dari semua yang telah saya lakukan. Saya melakukannya dengan keikhlasan. Anggap saja ini sebagai  bekal tabungan saya kelak di akhirat,” selorohnya.

Sunter Ancol > Profil

Tan Armen Sutanto, Terus Berupaya Memberikan Manfaat

Jumat, 02 September 2016 14:37 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Bimo Aria

Tan Armen Sutanto
Tan Armen Sutanto

Share this





Info Tokoh - Sejak muda, Tan Armen Susanto memang senang berkecimpung dalam kegiatan kemasyarakatan. Bagi dia, ini merupakan pelarian agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal negatif. Sebab, pergaulan anak muda di lingkungan tempat tinggalnya sangat mengkhawatirkan ketika itu. Narkoba bukan hal tabu. Bahkan, sudah menjadi bahan yang harus ada setiap hari. “Dulu, saya tinggal di Kemayoran. Banyak teman seumuran saya yang mengonsumsi narkoba, seperti ganja. Maka itu, saya lebih senang aktif dalam organisasi,” tuturnya.

Selang beberapa tahun, Tan Armen pindah ke kawasan Sunter. Di lingkungan barunya, dia pun aktif sebagai pengurus RT. Awalnya, sebagai bendahara lalu terpilih menjadi ketua RT untuk beberapa periode. Pada 2001, Tar Armen pun sempat dipercaya menjadi dewan kelurahan, lembaga yang saat ini dikenal sebagai Lembaga Masyarakat Kelurahan (LMK). “Hingga, pada 2008, saya diberi mandat menjabat ketua RW 011 Sunter Agung,” katanya.

Bukan perkara mudah. Apalagi, lingkungan RW 11 dihuni oleh masyarakat yang cenderung individualistis. Butuh cara untuk menyatukan mereka. Biasanya, lewat ajang kumpul-kumpul, seperti kerja bakti atau even lain. “Paling tidak, mereka bisa saling kenal terlebih dahulu.  Saya pun tidak membatasi diri. Saya bisa bergaul dengan siapa saja, baik dari tukang parkir, pedagang kaki lima, hingga pebisnis sekalipun. Ternyata, ini memberikan banyak manfaat buat saya pribadi,” ungkap Tan Armen.

Namun, bukan berarti semua berjalan mulus. Tetap ada gejolak. Contohnya, sempat terjadi penolakan warga terhadap keberadaan preschool yang berlokasi persis di belakang Vihara Dharmacakka. Warga, ketika itu, menolak karena dinilai akan membuat wilayah RW 11 semakin padat dan bising. Dikhawatirkan juga mengganggu kegiatan ibadah.

Belum lagi permasalahan-permasalahan lain, semisal pro dan kontra kebijakan renovasi kantor RW. Banyak warga yang mendukung, banyak pula yang menolak. Bahkan, kantor RW sempat disegel saat itu. Namun, Tan Armen mafhum. Isi kepala setiap orang tidak semua sama. Bagi dia, inilah yang membuat semua berwarna dan indah. Kini, meski posisinya bukan lagi ketua RW, namun hanya sebagai penasihat RW 11, dia tetap senantiasa peduli memajukan lingkungan. “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung,” tutupnya.