Sunter Ancol > Laporan Utama

Ini Cara Sudin LH Kepulauan Seribu Atasi Tumpukan Sampah

Minggu, 19 Maret 2017 15:29 WIB
Editor : | Sumber : DBS

Ilustrasi sampah di Kepulauan Serbu
Ilustrasi sampah di Kepulauan Serbu
Foto : istimewa

Share this





Sampah buangan dari laut menjadi persoalan tersendiri bagi Pemkab Kepulauan Seribu, Sudin LH menerapkan beberapa langkah baru untuk mengatasinya.

KEPULAUANSERIBU – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu mulai memikirkan langkah untuk mengurangi buangan sampah di wilayah pesisir Jakarta ini. Beberapa cara dilakukan mulai dari mengaktifkan alat pemusnah sampah (L-Box), mendirikan bank sampah, serta meminta pemilik penginapan dan resor di Pulau Seribu.

Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Kepulauan Seribu yang mulai aktif kembali pada tahun 2017 ini  fokus mengurangi buangan sampah ke TPA Bantargebang. Kepala sudin Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu Yusen Hardiman mengatakan, total ada 16 unit L-Box yang tersebar di 10 pulau berpenduduk.

"L-Box sudah dipasang sejak tahun 2016 lalu, tapi belum diaktifkan. Baru awal Januari 2017 kemarin pengaktifannya," ujar Yusen, beberapa waktu lalu.

L-Box tersebut, Kata Yusen, nantinya dipakai untuk memusnahkan sampah basah dan sampah kering yang tak terpakai di bank sampah, atau yang tidak bisa dijual dan dijadikan kompos.

"Jadi sampah di Pulau Seribu ini sekarang punya tiga cara untuk menghilangkannya. Pertama lewat bank sampah dengan cara dipilah mana sampah yang bisa dijual dan dijadikan kompos. Kedua lewat memusnahkannya dengan alat L-Box. Ketiga dengan cara dibawa ke daratan Jakarta lalu dibuang ke TPA Bantargebang," ungkapnya.

Baca juga : Bau Busuk Warnai Pelabuhan Kaliadem Jakarta Utara

Saat ini rata-rata total sampah buangan dari Pulau Seribu mencapai delapan ton sampai 10 ton per hari. Dengan adanya 16 unit L-Box dan dua lokasi bank sampah di Pulau Pramuka dan Pulau Tidung, kata Yusen, setiap hari baru dapat mengurangi setengah ton sampai satu ton sampah yang mesti dibuang ke TPA Bantargebang.

"Nanti  kami perbanyak lagi lokasi bank sampahnya, sehingga makin banyak sampah yang bisa dimanfaatkan," jelasnya.

Yusen menjelaskan, sampah di Pulau Seribu berasal dari berbagai sumber. Mulai dari warga pulau, arus laut, 13 sungai yang muaranya menghadap ke Pulau Seribu, dan wisatawan.

Untuk itu, pihaknya telah memanggil para pemilik penginapan dan pemilik resor. Sebagai awal, kata Yusen, dirinya meminta para pengusaha melengkapi dokumen lingkungan agar benar-benar menaati regulasi.

"Kalau mau kami kelola sampahnya, ya mesti bayar retribusi ke Pemprov DKI para pengusaha itu," katanya.

Saat ini, belum ada pengusaha resor maupun penginapan yang memilih bekerja sama. Beberapa di antaranya masih memilih mengurus sampah sendiri dengan mesin penghancur.

Namun, kedepannya, Yusen yakin akan makin banyak pengusaha yang memilih bekerja sama dengan Sudin LH untuk mengelola sampah. Sebab, penginapan dan resor-resor di Pulau Seribu tak memiliki sistem pengolahan limbah yang baik.

Berbeda dengan dua kilang minyak yang ada di Pulau Seribu, di mana sistem pengolahan limbahnya sudah amat baik, bahkan memiliki lokasi pembuangan sendiri di Bogor, bukan ke TPA Bantargebang