Sunter Ancol > Komunitas

AccorHotels Cycling, Perekat Pertemanan

Jumat, 25 November 2016 14:35 WIB
Editor : Andi MZ | Reporter : Purwanto

AccorHotels Cycling
AccorHotels Cycling

Share this





Info Komunitas - Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mempererat keakraban dan tali persaudaraan. Salah satunya dengan membentuk komunitas. Seperti yang dilakukan karyawan dan pimpinan Hotel Accor. Atas dasar kesamaan hobi serta kesadaran untuk hidup sehat, beberapa orang sepakat membentuk AccorHotels Cycling Community pada 2 Januari 2016.

Menurut Endrian Hananto, Ketua AccorHotels Cycling Community, kehadiran selain sebagai sarana perekat komunikasi antarkaryawan, juga sebagai wadah bertukar ide dan informasi terkait industri perhotelan. Termasuk merumuskan kegiatan-kegiatan hotel yang bisa dilakukan bersama. “Banyak anggota yang memiliki hobi bersepeda. Apalagi saat ini olahraga sepeda semakin banyak digemari masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan. Mencirikan manusia modern yang memilih gaya hidup sehat rohani dan jasmani,” ungkap

Komunitas yang beranggotakan 35 orang ini rutin kumpul bersama setiap Minggu pagi pukul 06.00 WIB di Mercure Jakarta Kota. Selanjutnya gowes berkeliling kota sesuai dengan rute yang disepakati. Kegiatan setiap bulannya kumpul di salah satu Hotel Accor secara bergiliran, atau bersepeda ke luar kota. “Dalam menjaga kekompakan kami selalu menjaga komunikasi antaranggota, biasa via WhatsApp group,”jelasnya.

Selain bersepeda, AccorHotels Cycling Community juga sering melakukan beberapa kegiatan sosial. Salah satunya pada Agustus 2016 bekerja sama dengan seluruh Hotel Accor se-Jabotabek menyelenggarakan donor darah massal di bundaran Hotel Indonesia. Kegiatan itu sekaligus penyuluhan tentang bahaya narkoba. “Semoga komunitas ini semakin dikenal masyarakat dan bisa memberikan manfaat. Bukan hanya bagi yang bergerak di industri perhotelan, juga masyarakat lain,” pungkasnya.







Sunter Ancol > Komunitas

Sahabat Veteran Indonesia, Gerakan Moral

Kamis, 16 Februari 2017 18:03 WIB
Editor : Admin | Reporter : Malik Maulana

Komunitas Sahabat Veteran Indonesia
Komunitas Sahabat Veteran Indonesia

Share this





Sahabat Veteran Indonesia (SVI) berdiri pada 10 November 2010 atas inisiatif Krisbianto Muliawan.

Info Komunitas - Sahabat Veteran Indonesia (SVI) berdiri pada 10 November 2010 atas inisiatif Krisbianto Muliawan. Pembentukan komunitas yang fokus untuk gerakan moral ini dibentuk, karena tidak sengaja dan direncanakan. Berawal dari Krisbianto men-share foto salah satu veteran kepada para teman dan relasinya, sehingga menimbulkan reaksi spontan untuk memperhatikan kehidupan para veteran.

Agus Setyadharma, Sekertaris Umum SVI, mengungkapkan komunitas dibuat dengan tujuan mengajak anak muda agar tidak melupakan jasa para pahlawan dan veteran atau pejuang. “Mereka masih banyak yang hidup dalam kondisi kekurangan. Dengan suport semua pihak kami harapkan bapak dan ibu yang dulu berjuang untuk kemedekaan kita, sekarang dapat menikmati hidup lebih baik,” ungkapnya.

Setelah enam tahun berdiri banyak kegiatan dilakukan di berbagai kota, lebih dari 20 tempat. Semua kegiatan mendapatkan dukungan dari pemerintah dan swasta. Agenda rutin yang dilakukan SVI adalah kegiatan sosial, seperti bedah rumah veteran, pemberian bingkisan, temu wicara, transformasi spirit perjuangan. 

“Kami survei rumah veteran yang kurang layak. Kami renovasi dengan bantuan dari berbagai pihak. Yang cukup membanggakan adanya dukungan dari anak-anak muda, ternyata tidak melupakan jasa para pahlawan, kakek veteran. Mereka dukung, buat acara, dan bantu donasi,” paparnya.

Komunitas SVI tidak memiliki anggota formal, semuanya hanya bersifat simpatisan. Di setiap kota SVI memiliki volunteer yang siap membantu ketika ada acara. Tercatat di Facebook memiliki sekitar 3 ribu pengikut.

Agus berharap agar semua veteran selalu dalam kondisi dan penghidupan yang lebih baik. Dahulu berjuang keras untuk kemerdekaan, maka sudah selayaknya sekarang diperhatikan kehidupan agar menjadi lebih baik. Semoga generasi muda lebih banyak yang memiliki kepedulian, semangat dan meneladani nilai patriotisme veteran.  “Tidak perlu mencontoh pahlawan dari luar, di Indonesia banyak pahlawan yang tidak terdata,” pungkasnya.







Sunter Ancol > Komunitas

3BC, Membangun Citra Positif

Rabu, 01 Februari 2017 16:45 WIB
Editor : Admin | Reporter : Maulana Yusuf

Komunitas 3BC
Komunitas 3BC

Share this





Info Komunitas - Belasan orang mempertunjukkan aksi piawai mengayunkan botol sembari meracik minuman. Tangan lincah menangkap botol yang dilempar ke udara. Sesekali, dua botol diputar dengan gerakan tubuh memutar diiringi musik. Beberapa di antaranya ada yang menonton sambil berteriak dan bertepuk tangan. Itulah sekilas gambaran komunitas Trisakti Bartender Community (3BC) di Flair bartending Competition yang diselenggarakan Hotel Ibis Styles Jakarta Sunter, belum lama ini.

Menurut Rian, Ketua 3BC, komunitas ini berdiri pada 1999, dikembangkan dari Planet Hollywood, digawangi beberapa mahasiswa. Didirikan, sambungnya, dengan tujuan memperkenalkan dunia food and beverage ke kalangan masyarakat. Termasuk mengembangkan skill men-juggling botol, dan menambah pengetahuan tentang mixology. “Kami di sini mengajarkan semuannya, yang dibutuhkan dari mereka adalah niat. Kami ajari pelan-pelan sampai bisa. Itu merupakan modal untuk motivasi agar berkembang,” ungkapnya.

Kegiatan rutin yang dilakukan anggota komunitas adalah mempelajari basic minuman, seperti jenis-jenis spirit, liker, brand-brand yang lagi booming, cocktail standar internasional, wine, basic coffee, teh, serta jenis minuman lainnya. Saat ini julah anggota 3BC tercatat mencapai 100 orang. Untuk mengembangkan skill dan menjalin kebersamaan, rutin kumpul untuk latihan flaring setiap satu kali dalam satu pekan yakni Selasa pukul 17.00-22.00 WIB.

3BC sering mengikuti berbagai perlombaan dan acara skala nasional ataupun internasional. Tak heran segudang prestasi ditoreh. Teranyar menang kompetisi Mixologi Flair dari NHI Bandung untuk kategori Best Cocktail dan Speed Challenge.  Dalam menjaga eksistensi komunitas, ada pengembangan secara internal dan eksternal. Bisa dengan mengadakan kompetisi Trisakti Flair Open, diadakan rutin setiap pertengahan tahun, berlaku untuk umum.

Ia mengakui kadang dunia bartender dianggap negatif, tetapi semua anggota komunitas menekankan dan selalu mengingatkan mempelajari minuman bukan untuk sembarang mabuk-mabukan. “Saya selalu menekankan drink not to get drunk but to learn. Kami memberikan dalam konteks pembelajaran agar dikreasikan, bukan untuk mabuk-mabukan tidak jelas,” pungkasnya.







Sunter Ancol > Komunitas

Mengubah Musang Jadi Binatang Eksotis

Rabu, 18 Januari 2017 15:22 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Mardia Ningsih

Komunitas Musang Lovers
Komunitas Musang Lovers

Share this





Komunitas Musang Lovers membuat musang menjadi binatang yang imut dan eksotis.

JAKARTA – Musang dikenal sebagai binatang buas dan hama bagi sebagian orang. Namun, tidak bagi Komunitas Musang Lovers. Di tangan para pecintanya, musang menjadi binatang peliharaan yang imut nan eksotis

Wakil ketua Komunitas Musang Lovers Indonesia Agung mengatakan, cara merawat musang sama seperti kucing dan anjing. Musang harus dimandikan sehari sekali. Jangan memberikan makanan yang berminyak seperti daging kambing, karena bisa menyebabkan kerontokan pada bulunya. Agar sehat, musang diberi vitamin secara rutin.

Agung melanjutkan, musang merupakan jenis hewan omnivora yangb bisa memakan semua jenis makanan. Oleh karena itu, agar musang menjadi binatang yang lucu, si pemilik harus sering memberi makanan buah-buahan dan daging ayam yang sudah direbus.

“Sedangkan, untuk menjinakan musang dengan cara berinteraksi secara terus menerus, dipegang, diberikan makanan dengan tangan sebagai perkenalan, nantinya musang tersebut akan mengetahui bahwa kita pemiliknya,” katanya saat ditemui infonitas.com.

Selain merawat musang, si pemilik juga harus selalu menjaga kondisi kesehatan musang peliharaannya. Sebab, musang merupakan salah satu hewan yang pencernaannya kurang bagus. Saat musang sakit ditandai dengan lidah pucat dan buang air besar yang hanya berupa air.

“Kebanyakan kita sering memberi kepala ayam tanpa dimbangi dengan buah-buahan, maka musang akan terkena parko yaitu penyakit lambung, di anggota musang lovers sendiri banyak seperti itu karena mereka tidak ingin bertanya,” ungkap Agung.

Agung menambahkan, bagi pemula yang ingin membeli musang, belilah musang yang sudah jinak total. Sehingga aman untuk diri sendiri dan orang disekitarnya. Harga musang pandan baby berkisar dibawah Rp 400.000 sedangkan yang dewasa kira-kira diatas Rp 500.000. Untuk musang baby yang unik memiliki warna belang-belang diatas Rp 400.000.

“Jangan mencari musang yang dipangkur (giginya dipotong) itu bisa menyebabkan trauma pada musang dan nantinya gigi musang akan tumbuh busuk serta penumbuhan gigi selanjutnya akan lama. Pada musang ada pergantian gigi, dari gigi susu menjadi gigi dewasa. Kita harus terus budayakan musang asli Indonesia, stop pembelian dari hasil pemburuan,” tutup Agung.

Awal Mual Musang Lovers

Agung mengatakan, terciptanya Musang Lover berawal saling tukar pengalaman merawat musang di media sosial Facebook. Dari forum ityu, para pecinta musang kemudian melakukan pertemuan dan tercetuslah Musang Lovers Jakarta homebase Monas pada 29 November 2014.

Musang Lovers Jakarta terdiri dari 200 anggota sedangkan untuk anggota komunitas Musang Lovers homebase Monas terdiri dari 30 orang. Musang Lovers homebase monas melakukan gathering setiap Sabtu dan Minggu pukul 16.00 WIB.

Agung mengatakan, Musang Lover sangat terbuka bagi siapa saja pecinta musang. Tidak ada syarat atau biaya apa pun untuk bergabung di komunitas ini. Syarat utamanya adalah orang tersebut harus benar-benar mencintai musang.

“Bahkan tidak harus memiliki musang untuk gabung di komunitas kita, sebelum kita memiliki musang kita bisa pelajari dulu musang itu seperti apa. Jadi saat kita sudah memiliki musang, tidak kaget bagaimana memeliharanya secara benar.” Ungkapnya saat ditemui di Taman Sunter, Jakarta Utara.

Tidak hanya kegiatan gathering, Musang Lover juga kerap mengadakan lomba musang se-Jakarta. lomba tersebut dibagi-bagi dalam sejumlah kategori. Yakni kategori musang pandan dewasa, musang bulan dewasa, musang akar dewasa, open baby (musang yang masih bayi).

“Yang dinilai dari kontes adalah kebersihan, karakter, dan kesehatan. Karakter dilihat dari kejinakan musang, sama orang tidak kagetan dan melihat orang tidak panik,” katanya.

Bahkan, setiap tahun ada kontes resmi yang diadakan Musang Lovers Indonesia yaitu gathering nasional (GANAS). Setiap tahunnya bertempat diwilayah yang berbeda tergantung dari Musang Lovers lndonesia.







Sunter Ancol > Komunitas

We Can Sehat, Bangun Pertemanan dan Kesehatan

Rabu, 02 November 2016 14:24 WIB
Editor : Andi MZ | Reporter : Oktaviani

We Can Sehat
We Can Sehat

Share this





Info Komunitas - We Can Community terbentuk satu tahun yang lalu, saat Ibis Styles Sunter beroperasi kali pertama. Whisnu Wijaya dan kelima rekannya menjadi pelopor. Ketika itu selalu berkumpul setiap weekend sehingga tercetus ide untuk membuat komunitas, lalu diberi nama We Can Sehat Community. Tujuannya mengisi akhir pekan dengan melakukan kegiatan sehat dan sejenak melepaskan diri dari penatnya pekerjaan serta hiruk pikuk kota.

Awal berdiri anggota komunitas hanya 6 orang, seiring waktu, jumlah terus bertambah. Kini, mencapai 19 orang. Tidak hanya karyawan dari Ibis Styles Sunter tetapi juga dari luar. Kegiatan komunitas itu tidak spesifik aktivitas tertentu. Banyak kegiatan yang dilakukan, seperti bersepeda, tracking, hiking, running, camping, dan cliff diving (menyelam dari tebing). Semua kegiatan tersebut dilakukan secara bergantian setiap weekend untuk mengakomodasi keinginan anggota sesuai dengan hobi.

Whisnu Wijaya, Ketua We Can Sehat Community, menjelaskan kelompoknya tidak ekslusif melakukan kegiatan, tetapi berbaur dengan lainnya agar tidak bosan. “Kami juga sering  mengajak komunitas lain ikut agenda di sini. Selalu terima komunitas yang datang ke tempat kami untuk bertukar ide, karena tidak membatasi kegiatan. Tujuan awal sehat bareng, aktivitas bareng, dan mengenal alam,” jelasnya.

We Can Sehat Community pernah mengikuti berbagai perlombaan, seperti Indonesia Downhill Championship, Blackwater Grafity Race, Cross Country, karate, lari 5k, dan colorful. Ada juga kegiatan sosial: donor darah, cinta museum nasional, serta bye for cancer. “Memang anggota kami adrenalin junkies. Apapun yang berkaitan dengan sehat kami ikuti,” ungkapnya.

Bagi yang mau bergabung, kata Whisnu, tidak ada syarat khusus, cukup sekali datang ke basecamp We Can Community di Ibis Styles Sunter, lalu mengikuti kegiatan bersama. “Jangan lupa untuk bahagia. Sesibuk apapun pekerjaan, sempatkan waktu satu hari untuk menikmati hasil kerja kamu. Sekaya apapun kita kalau tidak sehat untuk apa. Di tengah gemerlap kota besar bisa sejenak kita pikirkan badan untuk refreshing,” pungkasnya.







Sunter Ancol > Komunitas

R15 Jakut, Untuk Hidup Lebih Bermanfaat

Kamis, 06 Oktober 2016 14:01 WIB
Editor : Admin | Reporter :

R15 Jakut
R15 Jakut

Share this





Info Komunitas - Satu persatu motor racing berkapasitas 150 CC parkir di dekat pintu masuk utama Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Jumat (15/7). Mereka adalah anggota Yamaha R15 Club Jakarta Utara (R15 Jakut). Kehadiran komunitas pencinta kuda besi tersebut merupakan bentuk masih kuat rasa persaudaraan antarpemilik kendaraan sejenis. Sama seperti klub kendaraan yang lain, punya jargon brotherhood atau satu aspal.

Menurut Budi Susanto, Ketua R15 Jakut, ajang kumpul bareng antaranggota kerap kali digelar. Pada kesempatan kali ini, bertepatan dengan momentum Lebaran 2016. “Ya, ini merupakan kumpul perdana setelah Lebaran. Sekalian kami halalb halal. Termasuk membicarakan program yang akan kami jalani,“paparnya.

Ia menjelaskan, kehadiran Yamaha R15 Club Indonesia bersamaan dengan keluarnya motor sport itu pada 2014. Setelah itu, mulai muncul chapter di berbagai kota, termasuk Jakarta Utara. “Kami berinisiatif membentuk chapter sendiri pada akhir 2015 dengan jumlah member awal sekitar 20 orang,” tuturnya.

Tujuan dari pembentukan chapter di Jakarta Utara, sambungnya, sebagai wadah penyalur hobi dan kegiatan positif. “Memang Pandangan dan opini masyarakat masih negatif tentang anak club motor. Masih dikira geng motor. Kami beda, safty riding dan bisa dijamin tidak melanggar aturan lalu lintas. Itu menjadi komitmen anggota. Yang terpenting kami tidak anarkistis, justru lebih mempunyai kegiatan  positif dan bermanfaat,“ ujarnya.

Seiring dengan waktu, jumlah anggota R15 Jakut terus bertambah. Kini, sudah mencapai 40 orang. Banyak pula kegiatan sosial yang dilakukan, seperti pengumpulan dan pendistribusian buku kepada anak kurang mambu di Sukabumi. Pernah juga memberikan santunan sebesar Rp 6 juta kepada 50 anak yatim di daerah Cilincing, Jakarta Utara. Rencananya pada Agustus 2016  anggota R15 Jakut akan touring ke Garut, sekaligus pelantikan anggota baru.

“Bagi yang mau bergabung syarat kelengkapan motor dan pengendara sendiri harus ada, seperti KTP, STNK, SIM C dan pas foto. Terakhir, pesan kami, menyalurkan hobi lewat club itu harus bisa bermanfaat buat masyarakat. Jangan pernah lelah untuk membantu,“ pungkasnya.







Sunter Ancol > Komunitas

Kracker Jakarta, Wadah Penggila Motor Supermoto

Selasa, 06 September 2016 13:27 WIB
Editor : Dany Putra | Sumber : Team InfoSunter

Kracker Jakarta
Kracker Jakarta

Share this





Info Komunitas - Deru suara knalpot saling bersahutan. Satu persatu pengendara motor Kawasaki D-Tracker 150 datang. Memadati pelataran parkir Pantai Festival Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Minggu (28/2). Beberapa di antara pengendara unjuk kebolehan menampilkan beragam atraksi free style menggunakan tunggangannya. Dari gaya-gaya dasar semisal wheelie, sit down wheelie, hingga wheelie 12 clock.

Mereka adalah para anggota Kracker Jakarta, wadah para penyuka motor Kawasaki D-Tracker 150. Menurut Ruli Handarto, Humas Kracker, ajang kumpul seperti ini kerap kali digelar. Biasanya, di kawasan Senayan, Jakarta. Namun, kali ini, bertepatan dengan momen Jakarta Supermotto Sunday. “Setiap kumpul, memang seperti ini. Kami saling unjuk kebolehan. Bukan sombong, tetapi hanya sekadar berbagi ilmu dan pengalaman. Jadi, tidak sekadar kopi darat. Bahkan, kami juga sempat beberapa kali menggelar bakti sosial ke sejumlah tempat,” paparnya.

Kracker sendiri, kata Ruli, sudah berdiri hampir lima tahun. Awalnya, hanya forum komunikasi dan berbagi informasi mengenai motor Kawasaki D-Tracker 150 di dunia maya. “Namun, karena semakin banyak pehobi motor yang ikut sharing, saya dan beberapa anggota lain sepakat menggelar kopi darat di Senayan. Yang datang hanya 10 orang ketika itu. Akhirnya, kami memutuskan membentuk komunitas dengan Nama Kracker Jakarta. Tepatnya, pada 7 Juli 2011,” tutur Ruli.

Seiring waktu, jumlah anggota Kracker Jakarta terus bertambah.  Kini, sudah mencapai lebih dari seratus orang. Bahkan, tidak hanya di Jakarta, Kracker juga sudah hadir di Bandung, Solo, Semarang, Yogyakarta, dan Aceh. Bagi yang ingin bergabung, bisa datang ke kawasan Parkir Timur Senayan pada Jumat sekitar pukul 20.00 WIB. Atau ke depan Mal Artha Gading pada waktu yang sama. “Kami sangat terbuka. Tidak harus memiliki motor Kawasaki D-Tracker 150, motor-motor lain yang sejenis, semisal tipe KLX-150 (supermoto), D-Tracker 250, dan KLX -250 (supermoto) boleh bergabung,” pungkas Ruli.







Sunter Ancol > Komunitas

North Movers, Pengendara Modern Vespa dari Pusat dan Utara

Jumat, 19 Februari 2016 15:51 WIB
Editor : Wahyu | Reporter :

North Movers
North Movers

Share this





Jenis vespa yang dikendarai sangat beragam. Ada Vespa model LX, LXV, Sprint, GTS, dan Vespa S

Info Komunitas - Penyuka sepeda motor jenis modern vespa kian semarak. Terlebih, di kota-kota besar, seperti Jakarta. Bentuknya yang tetap mempertahakan desain klasik namun dibalut dengan performa yang lebih modern membuat vespa seakan naik kelas. Penggemarnya bukan lagi anak-anak jalanan, melainkan sudah menyasar ke kalangan eksekutif dan mahasiswa.

“Dari harganya saja sudah bisa diterka. Paling murah Rp 20 jutaan. Bahkan, ada yang mencapai lebih dari Rp 40 juta. Jelas, ini bukan barang murah,” kata Dwiyanto Prayoga, ketua North Movers. Menurut dia, demam vespa modern sudah merebak sejak 2011. Dari bulan ke bulan, penggemarnya kian banyak. Bahkan, tidak hanya di Jakarta, banyak juga yang berdomisili di kota-kota penyangga, seperti depok. Akhirnya, beberapa anggota menyarankan membentuk komunitas. Hingga lahirlah Move Indonesia (Modern Vespa Indonesia).

“Namun, karena kian besar. Tempat kumpulnya juga tidak lagi memadai. Hingga, dibentuk per wilayah. Misal, Jakarta Timur. Namanya Roti Sobek (Rombongan Timur Sobat Bekas), Jakarta Selatan namanya Bandits, dan Depok dikenal dengan sebutan Rangers,” tuturnya. Adapun North Movers sendiri, merupakan wadah para penyuka modern vespa yang berdomisili di Jakarta Utara dan Jakarta Pusat yang terbentuk sejak 2012. Kendati begitu, semua tetap dalam satu bendera Move Indonesia.

Laiknya klub-klub sepeda motor lain, North Movers pun rutin menggelar berbagai kegiatan, mulai dari pertemuan yang rutin dilakukan setiap satu kali dalam satu pekan, hingga riding dan touring. Juga, kegiatan-kegiatan sosial, misal memberi santunan kepada anak yatim. Untuk touring, kata Yoga, North Mover pernah ke Bali.

Saat ini, ada sekitar 80 orang yang sudah tergabung sebagai anggota North Movers. Jenis vespa yang dikendarai sangat beragam.  Ada Vespa model LX, LXV, Sprint, GTS, dan Vespa S. “Bagi yang ingin bergabung, silakan ikut kumpul. Biasanya di Mc Donald Sunter, Seven Eleven Tugu Tani, dan juga Mc Donalds Kelapa Gading. Setiap Jumat malam atau Sabtu pagi. Tidak ada syarat khusus. Yang penting bukan penjahat. Ini hanya wadah silaturahim saja,” tutup Yoga.







Sunter Ancol > Komunitas

Inkanas Ranting Polsek Kemayoran, Karate Melatih Mental dan Kedisiplinan

Selasa, 15 Desember 2015 15:21 WIB
Editor : Admin | Reporter :

Inkanas Ranting Polsek Kemayoran
Inkanas Ranting Polsek Kemayoran

Share this





Inkanas terbuka bagi siapapun yang ingin bergabung. Pria, wanita, muda atau tua boleh bergabung

Info Komunitas - Institute Karete Do Nasional (Inkanas) Ranting Polsek Kemayoran lahir pada 29 Maret 2015. Adalah Toto Priyanto sebagai pelopornya. Komunitas ini menginduk pada Federasi Karate Do Indonesia. Untuk latihan, Inkarnas memanfaatkan halaman parkir Polsek Kemayoran, Jakarta Pusat. Awalnya, kata Toto, hanya beranggotakan lima orang.  Namun, seiring waktu, jumlah anggota terus bertambah. Saat ini, telah mencapai ratusan orang. Mayoritas berusia belasan tahun. “Mungkin, karena lokasi. Lokasi latihan kami di pinggir jalan. Jadi, orang banyak yang lihat dan tertarik untuk bergabung,” ujar Toto yang juga menjabat sebagai pengurus dan pelatih Inkanas Ranting Polsek Kemayoran.

Kendati begitu, pada dasarnya, lanjut Toto, Inkanas terbuka bagi siapapun yang ingin bergabung. “Mau dewasa atau orangtua, silakan saja. Yang penting syarat-syarat administrasi terpenuhi. Kami latihan setiap Rabu pada pukul 19.00-20.30 WIB dan Minggu pada pukul 07.00-09.00 WIB,” kata Toto.

Laiknya perguruan karate, metode pengajaran yang diberikan kepada para anggota dimulai dengan pengenalan terlebih dahulu. Kemudian, dilanjutkan dengan melatih gerakan-gerakan dasar dalam karate. “Kalau sudah mengerti dasar, barulah di arahkan ke prestasi. Mulai ada pertandingan. Tujuannya, tidak hanya untuk melatih fisik, tetapi juga mental dan kedisiplinan. Para anggota, nantinya juga akan mendapatkan ujian kenaikan tingkat atau sabuk yang serempak digelar seluruh DKi Jakarta,” tuturnya.  

Meski terbilang baru, para anggota Inkanas Ranting Polsek Kemayoran telah berhasil meraih beberapa prestasi. Di antaranya, memperoleh medali piala gubernur dan kejuaraan O2SN. Selain itu, juara kejuaraan-kejuaraan terbuka. “Ini belum terlalu tinggi. Namun, saya yakin jika fasilitas pendukung lebih memadai para anggota Inkanas ranting Polsek Kemayoran akan lebih optimal dalam meraih prestasi. Selain untuk mengisi waktu luang, saya juga berharap kegiatan karate ini bisa membawa dampak positif bagi para anggotanya,” pungkas Toto.







Sunter Ancol > Komunitas

Ikatan Pemuda Cempaka, Wadah Komunikasi Warga RW 03 Sunter Agung

Rabu, 04 November 2015 14:44 WIB
Editor : Fauzi | Reporter :

Ikatan Pemuda Cempaka
Ikatan Pemuda Cempaka

Share this





Info Komunitas - Ikatan Pemuda Cempaka (IPEC) lahir karena kepedulian beberapa pemuda RW 03 Sunter Agung terhadap kemajuan lingkungan. Ketika itu, mereka merasa prihatin karena tidak pernah ada kegiatan kepemudaan di wilayahnya. Pemuda cenderung dianggap melempem. Tidak bisa berbuat hal positif untuk lingkungan.

Untuk mengikis anggapan itu, pada 1 Januari 2013, mereka resmi membentuk IPEC. Tujuannya,  sebagai wadah komunikasi sehingga pemuda bisa berperan nyata bagi kemajuan wilayah. Juga, sebagai wadah mengasah kemampuan berorganisasi mereka.

“Awalnya, dari sekadar obrolan santai. Lalu, ada yang mencetuskan ide membuat organisasi kepemudaan. Karena ngobrol-nya di Gang Cempaka, Kami pun memberi nama Ikatan Pemuda Cempaka,” kata Nono Sunyoto, Pembina IPEC. Namun, anggotanya bukan khusus untuk para pemuda yang tinggal di Gang Cempaka, terbuka bagi setiap orang yang tinggal di RW 03 Sunter Agung. Bahkan, tidak hanya pemuda, anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga kakek nenek pun boleh menjadi anggota.

Kini, sudah berbagai kegiatan yang berhasil dilakukan. Mulai dari kegiatan perayaan HUT RI, turun ke gorong-gorong membersihkan saluran air, hingga kegiatan rutin membersihkan musala. Di bidang olahraga, IPEC juga rutin menggelar car free day di wilayah RW 03 setiap pekan keempat. Kegiatan meliputi jalan santai, senam aerobik, dan futsal mini. “Laiknya organisasi, kami memang sudah merencanakan semua kegiatan selama satu tahun. Sejauh ini, respon masyarakat sangat positif. Setiap ada kegiatan, banyak masyarakat yang berpartisipasi. Contohnya, kegiatan jalan santai. Peserta membludak hingga lebih dari 500 orang,” tutur pria yang juga berprofesi sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI) ini.

Kedepannya, Sunyoto berharap IPEC dapat lebih kompak dan bermanfaat bagi seluruh warga. Semua anggota harus menumbuhkan rasa saling memiliki dan tidak boleh bertumpu hanya pada satu orang. “Kita kerjakan bersama. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Yang terpenting, masyarakat harus merasakan manfaatnya,” pungkas dia.