Serpong > Pendidikan

Miris, Guru Honorer di Tangerang Ini Hanya Digaji Rp 400 Ribu Sebulan

Selasa, 13 Februari 2018 12:17 WIB
Editor : Galih Pratama | Reporter : Alfriani Anisma Wibowo

Ahmad Tartusi (30), guru honorer di SDN Dirgantara, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang.
Ahmad Tartusi (30), guru honorer di SDN Dirgantara, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang.
Foto : istimewa

Share this








Sudah 11 tahun jadi guru honorer di Legok, Tangerang, Ahmad hanya mendapatkan honor Rp 400 ribu sebulan. Dia pun berharap guru honorer diperhatikan lagi.

TANGERANG - Ahmad Tartusi (30) pengajar di SDN Dirgantara, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, sudah mengabdi selama belasan tahun. Walau demikian, lamanya masa pengabdian itu tidak disertai dengan upah yang dia terima.

Hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk mengajar anak didiknya. Meskipun gaji yang didapatkannya minim, Ahmad pun tak mengeluh. “Saya sudah 11 tahun menjadi guru honorer. Setiap bulan honor saya Rp 400 ribu,” jelasnya, Selasa (13/2/2018).

Upah yang diperolehnya itu mungkin tak sesuai dengan jerih payahnya. Sedari pagi hingga sore hari, Ahmad mengajar para penerus bangsa ini. Namun, Ahmad menikmati pekerjaan sesuai dengan profesinya ini.

Honor dengan nominal yang jauh dari Upah Minimum Kota (UMK) diakui Ahmad dirasa kurang. Terlebih dirinya harus menanggung biaya hidup istri dan dua anaknya. “Selain mendapat honor mengajar, tambahan lainnya dari tunjangan daerah. Tunjangan dari Kabupaten Tangerang pun berbanding jauh dari daerah tetangga. Seperti Kota Tangerang dan Tangerang Selatan. Saya mendapatkan tunjangan daerah sebesar Rp 700 ribu,” paparnya.

Ahmad berharap agar pemerintah dapat melihat nasib guru honorer. Apalagi dalam waktu dekat ini Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Tangerang 2018 akan berlangsung. Guru kerap dijadikan komoditas politik. Janji-janji untuk menyejahterakan kaum pendidik ini digaungkan dalam kampanye.

"Semoga Pemilihan Bupati Tangerang tahun ini tidak janji-janji lagi. Sebab, banyak janji untuk sejahterakan dan prioritaskan nasib guru. Tapi semoga saja bisa diterapkan dengan kebijakan kepemipinan pemerintahan yang baru,” harapnya.