Serpong > Laporan Utama

Tradisi Keramas Warga Tangerang Sambut Ramadan

Selasa, 15 Mei 2018 10:30 WIB
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Alfriani Anisma Wibowo

Tradisi keramas warga Tangerang
Warga Tangerang melakukan tradisi keramas di Sungai Cisadane untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Foto : istimewa

Share this








Warga Tangerang melakukan berbagai tradisi dalam menyambut bulan suci Ramadan. Salah satunya keramas sebagai ungkapan rasa syukur.

TANGERANG - Sejumlah warga Kelurahan Babakan Sukasari, Kota Tangerang melakukan keramas bareng di bantaran Sungai Cisadane, Kota Tangerang, Senin (14/5/2018). Kegiatan keramas bareng tesebut merupakan tradisi turun temurun warga Kota Tangerang dalam menyambut bulan suci Ramadan sebagai ungkapan rasa syukur.

Calon Tunggal Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah mengatakan, tradisi keramas massal tersebut menjadi aset budaya Kota Tangerang dan kegiatan ini akan terus dilestarikan untuk menarik wisatawan.

“Kami akan pertahankan tradisi ini, saya kira ini sangat baik. Mandi keramas bareng yang sudah dilakukan secara turun-temurun, bersih diri, saling memaafkan dan mohon ampunan Allah SWT,” ujarnya, Senin (14/5/2018).

Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa mengikuti tradisi ini. Mereka berbondong-bondong berjalan kaki menuju Sungai Cisadane sambil membawa gayung dan sampo merang, yakni olahan tradisional yang berbahan baku pohon padi kering yang sudah diinapkan selama tiga hari.

Lalu mereka melakukan ritual itu di pinggir sungai. Ada yang keramas sendiri, ada yang saling bergantian membersihkan di antara mereka. Sebagian ada yang berenang di sekitaran sungai.

Selain Arief, juga tampak hadir Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia Isyana Bagoes Oka. Kedatangan kedua tokoh tersebut tidak sebagai peserta ritual, melainkan untuk melihat langsung kegiatan ritual tersebut. Secara bergiliran, keduanya turut memandikan beberapa peserta dengan mengguyurkan air ke tubuhnya yang sudah dihiasi dengan busa sampo.

Isyana juga mengapresiasi dan takjub pada masyarakat setempat yang berkumpul dan mempraktekkan nilai-nilai kebersamaan solidaritas dan juga saling bertoleransi satu sama lain.

“Dengan adanya kegiatan ini juga mempersatukan masyarakat yang bisa mengenal satu sama lain sekaligus meningkatkan kesadaran untuk memantau hal yang aneh dan mencurigakan untuk bisa diantisipasi sejak awal,” paparnya.

Ditempat yang sama, Lurah Babakan Abu Sofyan menambahkan keramas ini merupakan budaya kearifan lokal kampung Babakan di mana saat dulu orang tua kita menjelang Ramadan berduyun-duyun pergi ke sungai Cisadane dalam rangka membersihkan diri suci hati, suci pakaian, suci tempat.

“Maknanya adalah dalam rangka menghadapi bulan suci ramadan kita bergembira karena dalam ajaran agama Islam yang bergembira ini maka jasadnya diharamkan oleh api neraka,” pungkasnya.

Kegiatan tersebut bertambah meriah dengan parade bedug. Warga memainkan bedug sebagai tanda datangnya bulan suci Ramadan.