Serpong > Laporan Utama

Tangerang Atasi Banjir

Pengamat: Eksploitasi Air Tanah Sebabkan Banjir di Kota Tangerang

Selasa, 14 November 2017 11:02 WIB
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Ade Indra Kusuma

Banjir di kota tangerang
Ilustrasi banjir di Kota Tangerang.
Foto : Ade Indra Kusuma

Share this








Salah satu penyebab banjir di Kota Tangerang disebabkan oleh adanya eksploitasi pengambilan air tanah secara masif dari pembangunan properti.

TANGERANG – Menanggapi banjir di beberapa lokasi di Kota Tangerang, Pengamat Lingkungan Hidup Kota Tangerang Ade Yunus mengatakan ada beberapa faktor pemicu terhadinya banjir dan genangan. Salah satunya eksploitasi pengambilan air tanah secara masif oleh pembangunan gedung bertingkat, industri, mal dan pusat-pusat bisnis. 

Pemicu lainnya adalah kurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Tangerang. “Ya, idealnya RTH di setiap daerah itu adalah 30% dari luas wilayah, faktanya hari ini RTH di Kota Tangerang baru berkisar 16% atau masih kurang sekitar 24%,” jelas pria yang akrab disapa Kang Ade, Selasa  (14/11/2017).

Ade menambahkan faktor lain yang tidak kalah penting penyebab banjir dan genangan air di Kota Tangerang karena kurangnya sumur resapan.

Sementara Program Sumur Resapan yang telah dianggarkan dalam Anggaran Perubahan 2016 hingga kini belum bisa berjalan sebagai mana mestinya.
“Badan Kali yang terlalu sempit, yang tidak mampu menampung luapan air limpahan dan air hujan kita butuh sumur resapan,” papar pria yang punya tagline Tangerang Tersenyum.

Untuk meminimalisir titik banjir dan genangan air di Kota Tangerang, menurut Ade, harus ada solusi yang berkesinambungan. Di antaranya, Pemkot harus mengevaluasi investasi yang tidak berwawasan lingkungan, yang sering kali mengabaikan amdal dan PL Banjir.

“Boleh saja kita menjadi Kota Yang Layak Investasi, tapi jangan gelap mata sehingga mengabaikan pengawasan pelaksanaan kegiatan yang tidak sesuai amdal dan mengabaikan gambar teknis PL Banjir,” katanya.

Solusi kedua dengan cara menambah RTH. Banyaknya fasos fasum yang terabaikan bahkan telah beralih fungsi. 

Hal itu mestinya menjadi perhatian serius Pemkot Tangerang untuk segera memanfaatkan dan mengembalikan kepada fungsi awal, serta meminta kepada properti untuk menyerahkan aset fasos fasumnya.

Tidak ada alasan apapun lagi bagi Pemkot untuk menunda-nunda program sumur resapan dan upaya negosiasi kepada pemerintah pusat dan propinsi untuk segera dilakukan pelebaran badan kali.

“Khususnya kali Ledug dan kali Cirarab. Segera bebaskan lahan untuk membuat tandon air atau waduk buatan sebagai wadah limpahan luapan air,” pungkas aktivis yang juga Direktur Jaringan Nurani Rakyat (Janur).