Serpong > Laporan Utama

Hampir Dua Bulan, Terjadi 6 Kasus Pencabulan di Tangsel

Sabtu, 13 Mei 2017 15:24 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Handrian

Ilustrasi Pencabulan.
Ilustrasi Pencabulan.
Foto : istimewa

Share this








Ada tujuh tersangka kasus pelecehan seksual dan pencabulan yang diamankan oleh Sat Reskrim Polres Tangsel.

TANGSEL – Kasus pelecehan seksual dan pencabulan yang mengincar anak usia dibawah umur masih marak terjadi di Tangerang Selatan. Sedikitnya dalam satu bulan setengah sudah ada enam kasus serupa. 

Kasat Reskrim Polres Tangerang Selatan AKP Alexander Yurikho mengatakan, sudah ada tujuh tersangka kasus pelecehan seksual dan pencabulan yang diamankan oleh Sat Reskrim Polres Tangsel. 

"Kami bersama Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Polres Tangsel dalam satu bulan setengah ini telah berhasil mengungkap enam kasus pencabulan dan pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur," ucap Alex di Mapolres Tangsel, Sabtu (13/5/2017).

Adapun kasus tersebut diantaranya, tukang ojek pangkalan yang melakukan tindak pelecehan terhadap bocah SD berusia enam tahun. Selain itu ada pula kasus kelainan seksual penjual soto keliling berinisial IS (23) menyodomi dua orang korban kakak-beradik LF (7) dan ML (6). 

"Saat kedua korban bermain petak umpet korban diajak untuk menonton video porno dirumah pelaku di Jurang Mangu. Setelah melakukan perbuatan bejat pelaku yakni menyodomi kedua korban, pelaku mengancam agar korban tidak mengadu ke siapapun," lanjut Alex.

Yang ketiga adalah seorang pemulung DE (47) yang mencabuli HSH (3) di kawasan Jalan Musyawarah Ciputat. Pelaku merupakan pemulung ini adalah tetangga dari korban. Aksi bejat DE tercium setelah korban mengalami kesakitan saat buang air kecil. 

"Dan kasus lainnya juga terjadi di Ciputat. Modusnya, pelaku kenalan dari sosial media dan mengajak bertemu korban di hotel melati dikawasan Ciputat, setelah bertemu korban dipaksa untuk bercumbu dan melakukan hubungan intim, setelah itu korban ditinggal oleh pelaku begitu saja," tutur Alex. 

Selanjutnya yang terakhir yakni pemerkosaan kepada siswi SMA berusia 17 tahun, yang dilakukannya di sebuah rumah kos di kawasan Serpong. "Kini korban masih merasakan trauma atas perbuatan pelaku SH (27)," katanya.

Atas perbuatan para pelaku dikenakan pasal 82 UU RI no.35 tahun 2014 atas perubahan RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan, dengan hukuman paling lama 15 tahun penjara.

"Jadi masyarakat yang memiliki anak agar menjaga buah hatinya, karena efek negatif digitalisasi informasi yang dapat menimbulkan kejahatan yang merusak masa depan," imbaunya.