Serpong > Komunitas

Komunitas Small Is Sexy, Rutin Sampaikan Kampanye

Rabu, 14 Desember 2016 14:48 WIB
Editor : Naufal | Reporter :

Komunitas Small Is Sexy.
Komunitas Small Is Sexy.

Share this





Komunitas  - Dari kecintaan akan miniatur bus, komunitas ini didirikan kali pertama pada tahun 2003 di Yogyakarta. Seiring dengan perjalanan waktu, Small Is Sexy (SIS) demikian nama komunitas ini, berkembang di berbagai kota, termasuk Jakarta Barat yang berpusat di kawasan Joglo.

“Awalnya dari Komunitas Bus Mania yang ingin selalu bisa melihat bus kecintaannya setiap hari dan dipajang di rumah. Jadilah komunitas ini didirikan. Miniaturnya sesuai dan mirip dengan PO bus yang ada, mulai dari Pahala Kencana, Ramayana, hingga Lorena. Termasuk desain dan detailnya, termasuk kelas ekonomi hingga eksekutif. Ukurannya juga beragam, ada yang 1:14, 1:20 dan 1:45,” terang pegiat dan member SIS Yohanes Chriswijayanto Budisusilo.

Sebagai komunitas, member SIS juga memiliki jadwal kongkow bareng sebulan sekali yang dilakukan oleh masing-masing koordinator wilayah. Tempatnya biasanya di seputaran terminal. Menariknya lagi, dalam setiap kesempatan kongkow bareng, mereka juga kerap menyampaikan pesan dan kampanye kepada masyarakat untuk menggunakan moda transportasi massal, bus misalnya.

“Biasanya kalau sharing kita membahas mengenai perkambangan bus saat ini. jumlah anggota kami saat ini 100 – 150 orang, tandasnya.







Serpong > Komunitas

Mengembangkan dan Memajukan IT Dunia Perhotelan

Kamis, 24 November 2016 11:22 WIB
Editor : Admin | Reporter : Alfi Dinilhaq

Hotel Information Technology Association (HITA) Chapter Tangerang.
Hotel Information Technology Association (HITA) Chapter Tangerang.

Share this





HITA Chapter Tangerang menjadi wadah para IT hotel untuk mengembangkan diri, sharing knowledge, dan mendapat informasi seputar dunia IT.

Info Komunitas - Bertujuan memajukan informasi teknologi (IT) dunia perhotelan, HITA (Hotel Information Technology Association) Indonesia terbentuk. Sejak berdiri 2015 silam, asosiasi yang berisikan kumpulan para IT hotel ini, telah memiliki beberapa chapter di Tanah Air. Terbaru, pada Agustus lalu, HITA Chapter Tangerang dideklarasikan. “Mengingat banyaknya kota-kota penyangga Ibukota Jakarta, maka kami bentuk HITA Chapter Tangerang,” ujar Albertus GP, Chairman HITA Indonesia.  

Pembentukan HITA Chapter Tangerang bertujuan para IT dapat mengembangkan dan berbagi informasi serta teknologi industri perhotelan, sehingga bisa setingkat dengan hotel taraf internasional di dalam, bahkan di luar negeri. Adapun kegiatan yang dilakukan HITA Chapter Tangerang sendiri berusaha selalu menjalin kerja sama dengan vendor IT. Kerja sama tersebut dikemas dalam betuk pelatihan, sosialisasi, sharing knowledge, traning soft skill, dan lainnya. “Biasanya kita mengadakan kegiatan dengan vendor IT untuk sharing informasi. Contohnya mengenai pemancar WIFI yang high quality, penggunaan gadget pada receptionist dan lainnya,” tambah Albertus GP, Chairman HITA Indonesia.

Sementara, Indra Hermawan, Ketua HITA Chapter Tangerang mengatakan, saat ini tercatat ada sekira 40 anggota yang aktif dalam HITA Chapter Tangerang. Mereka berasal dari berbagai hotel yang tersebar di Tangerang Raya. “Terbentuknya HITA Chapter Tangerang ini, agar mereka (anggota) bisa membantu berbagai masalah yang berkaitan dengan dunia IT. Ini tak berpengaruh terhadap persaingan hotel. Karena, informasi dan teknologi di dalam hotel hanya sebagai pelengkap dan tidak merugikan hotel. Bahkan untuk waktu tertentu justru malah membantu satu sama lain. Seperti problem yang terjadi pada hotel A yang membutuhkan perangkat IT secara mendadak, kemudian IT hotel B datang membantu meminjamkan perangkat,”jelasnya.

Hal ini mengingat, lanjutnya, mengganti sebuah perangkat IT membutuhkan waktu 2 hingga 3 hari. Tentunya manajemen hotel tidak menginginkan ada kompalin dari tamu. Oleh sebab itu tujuan utama HITA Chapter Tangerang menjadi salah satu pendorong dalam mengembangkan dan memajukan IT dalam dunia perhotelan.  







Serpong > Komunitas

CBR Owner Tangerang (CROW), Menggandeng Rider CBR Semua Tipe

Kamis, 03 Maret 2016 19:23 WIB
Editor : Ari Astriawan | Reporter : Alfi Dinilhaq

CBR Owner Tangerang (CROW)
CBR Owner Tangerang (CROW)

Share this





Melalui Divisi Crow Racing Team (CRT) para member CROW bisa menyalurkan hobi membalap dan cornering di Sirkuit

Kesamaan motor tunggangan menjadi alasan paling umum terbentuknya sebuah komunitas bikers. Tengok saja CBR Owner Tangerang (CROW) misalnya. Komunitas ini mewadahi rider Honda CBR di Tangerang dan sekitarnya. Terbentuk sejak November 2012, CROW menjadi rumah bagi pengendara semua tipe Honda CBR. CROW juga berafiliasi dengan dua paguyuban motor, yakni Asosiasi Honda CBR (AHC) dan AHMT (Asosiasi Honda Motor Tangerang).

Suwandi, Ketua Umum CBR Owner Tangerang (CROW) mengatakan komunitas ini merupakan satu-satunya komunitas Honda CBR yang menggabungkan antara CBR 150cc dan 250cc. Sebelumnya pengguna CBR varian 150cc dan 250cc punya komunitas masing-masing. Namun kini di CROW, bikers semua varian Honda CBR dirangkul dalam satu komunitas baru. “Kami merupakan komunitas pertama di Tangerang dan satu-satunya komunitas yang menggabungkan all varian Honda CBR dari CBR lama hingga All New CBR,” ungkapnya.

Diinisiasi oleh Andi Dharmawan pada tanggal 10 November 2012, lahirnya CROW ditandai dengan digelarnya Musyawarah Besar (Mubes) perdana. Hingga kini dalam data kesekretariatan CROW memiliki 137 rider yang berasal dari Tangerang dan sekitarnya. Adapun kopdar dilaksanakan di Ruko Serenade yang berlokasi di depan Bundaran Gading Serpong setiap Jum’at malam. “Bagi pengguna Honda CBR yang ingin bergabung silahkan datang ke lokasi kopdar kami. Untuk bisa menjadi member CROW harus mengisi form registrasi, mengikuti 3 kali kopdar rutin, dan mengikuti touring jarak pendek paling tidak satu kali,” beber Andi, sapaan akrab Suwandi.

Laiknya komunitas bikers pada umumnya, CROW memiliki kegiatan rutin berupa kopdar seminggu sekali, touring jarak jauh 3 kali setahun, touring jarak dekat 6 kali setahun, dan bakti sosial (baksos) setiap 3 bulan sekali. Selain itu CROW memiliki divisi racing bernama CROW Racing Team (CRT) yang fokus pada penyaluran hobi member CROW untuk balapan di Sirkuit.  CRT sengaja digagas agar anggota CROW untuk tidak berperilaku negatif di jalan raya.

Dari awal berdiri Divisi CRT sudah mampu menggondol 6 piala baik juara 1, 2 atau 3 dari berbagai kejuaraan race seperti fun race dan One Bike Race Honda. Jadwal latihan dibuat rutin setiap 2 bulan sekali di Sirkuit Internasional Sentul, Bogor. Para member yang hobi ngebut dan cornering bisa menyalurkan minat dan bakat di CRT. Tak hanya divisi racing, CROW juga memiliki beberapa divisi seperti futsal, merchandise, dan kewirausahaan.

 







Serpong > Komunitas

Digagas Demi Melestarikan Sugar Glider

Kamis, 03 Maret 2016 19:01 WIB
Editor : Admin | Reporter : Alfi Dinilhaq

Komunitas Sugar Glider Indonesia Regional Tangerang
Komunitas Sugar Glider Indonesia Regional Tangerang

Share this





Anggota komunitas ini melakukan penangkaran sugar glider.

Sugar Glider, binatang yang termasuk dalam jenis hewan marsupial atau berkantung ini, sepintas terlihat seperti tupai. Binatang lucu dan imut ini sangat  familiar di mata pecinta hewan pemeliharaan. Lantaran ukurannya kecil, sugar glider kerap kali  disebut sebagai hewan pemeliharaan dalam saku. Binatang dengan nama ilmiah Pettaurus Brevicep ini banyak hidup di daerah Papua, Indonesia dan Australia.

 

Di Tangerang, terdapat satu kelompok pecinta binatang ini. Mereka tergabung dalam komunitas yang dinamakan Komunitas Sugar Glider Indonesia Regional Tangerang (KPSGI Reg Tangerang). Komunitas yang berdiri pada tanggal 13 Mei 2012 ini dibentuk karena banyaknya pengemar sugar glider yang berdomisili di Tangerang dan sekitarnya. “Kami merupakan bagian dari KPSG pusat. Saat ini jumlah anggota tercatat sudah 150 orang,”tutur Sandro Junieky Silistyo, Ketua KPSGI Reg Tangerang.

Kata Sandro, komunitas ini terbentuk karena keinginan menjaga kelestarian sugar glider. Pasalnya, saat ini marak penangkapan liar sugar glider di alam bebas. “Kami khawatir akan berimbas pada kepunahan sugar glider. Maka itu, KPSGI Reg Tangerang membuat penangkaran sugar glider  untuk seluruh anggotanya. Kondisi penangkaran pun kami sesuaikan dengan habitat asli sugar glider di alam bebas,”ungkapnya.  

Ditambahkan Sandro, sugar glider memang belum trermasuk hewan appendix (dilindungi). Tapi, sedini mungkin harus dijaga kelestarian dan habitatnya. Terutama dari penangkapan liar tangan-tangan tak bertanggung jawab. Memelihara dan merawat sugar glider termasuk dalam kategori low maintenance. Sugar glider sendiri terbagi dalam beberapa jenis, seperti grey classic, chinamons, blackbeauty dan lainnya. “Binatang ini termasuk kedalam golongan omnivora (pemakan segalanya). Dalam satu hari cukup diberikan buah-buahan dan sedikit serangga,”imbuhnya.

Komunitas ini pun mempunyai agenda rutin di setiap dua minggu. Komunitas yang resmi di bawah naungan Kementerian Perikanan dan Kehutanan Indonesia ini sering kali mengadakan gathering. “Kami biasanya mengadakan kopdar (kopi darat) di mal Living World Alam Sutera. Kami sharing seputar perawatan dan pemeliharaan sugar glider. Kami pun selalu mensosialisasikan tentang sugar glider kepada pengunjung mal maupun tempat umum lainnya,”tutupnya.







Serpong > Komunitas

Komunitas Fail BMX, Dulu Sering Gagal Latihan Bareng

Kamis, 28 Januari 2016 13:24 WIB
Editor : Admin | Reporter : Fitrah Amalia

komunitas Fail BMX
komunitas Fail BMX

Share this





Sekarang Fail BMX terbuka bagi siapapun yang ingin bergabung. Bahkan orang belum punya sepeda BMX sekalipun bisa jadi anggota.

Tren sepeda BMX tumbuh pada awal 70an di California Selatan. Olahraga ekstrim ini terinspirasi motocross. Jenis sepeda BMX diawali jenis sepda Schwinn Stingray yang diproduksi pada 1963. Jenis sepeda ini digunakan kalangan muda untuk beraksi meniru atraksi motocross. Lambat laun, demam BMX menyebar ke berbagai belahan dunia. Tak terkecuali di Indonesia. Penggiat dan komunitas BMX tumbuh di Tanah Air, utamanya di daerah perkotaan.

Di Tangerang Selatan (Tangsel), salah satu komunitas BMX yang eksis adalah Fail BMX. Digagas beberapa pecinta BMX di Tangsel, komunitas ini berdiri pada 2008. Nama Fail BMX dipilih karena pada awalnya mereka sering gagal (failed) latihan bersama. “Dulu kami sering merencanakan latihan bareng, tapi sering gagal. Maka ketika sudah sering ngumpul kita pilih nama Fail BMX,” kata Iwan Setiawan, Humas Fail BMX.

Komunitas Fail BMX memilih Taman Perdamaian BSD City sebagai lokasi kopi darat (kopdar) dan latihan. Setiap Sabtu dan Minggu, anggotanya berlatih bersama. Jumlah anggota saat ini tercatat sebanyak 25 orang. Komunitas ini membuka diri bagi para pecinta BMX yang ingin bergabung. Syaratnya cukup datang langsung ke lokasi mereka latihan. “Tapi yang paling penting adalah punya niat atau ketertarikan untuk bermain BMX. Kalaupun belum punya sepeda, bisa tetap gabung karena nanti anggota Fail BMX bisa memberikan pinjaman sepeda. Pelatihan teknik-teknik dasar juga diberikan pada anggota baru atau pemula,” jelas Iwan.

Di samping latihan rutin, anggota Fail BMX acap berpartisipasi dalam berbagai kompetisi BMX. Mulai dari event tingkat lokal hingga nasional. Sebut saja Kejuaraan BMX Piala KNPI di Ragunan, Kejurnas BMX ‘Local Heroes’ di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Pro-Jam Seri Tangerang, Adidas ALL In 24 Hour di Senayan. Mereka juga kerap mendapat undangan untuk beratraksi di bermacam kegiatan. “Komunitas kami sering mengikuti kejuaraan dan lomba yang berkaitan dengan sepeda BMX. Event yang kita ikuti berada dalam skala lokal dan nasional. Selain itu kita juga sering diundang dalam kegiatan yang diadakan pemerintah, swasta, ataupun sekolah,” tutur Iwan,

 







Serpong > Komunitas

Komunitas Perjaka, Hobi Jalan Kaki dan Wisata Kuliner

Kamis, 28 Januari 2016 13:19 WIB
Editor : Ari Astriawan | Reporter : Fitrah Amalia

Komunitas Perjaka
Komunitas Perjaka

Share this





Komunitas ini didominasi lansia usia 50 tahun ke atas. Kegemaran yang sama membuat keakraban antaranggota terjalin erat.

Komunitas ini menamakan diri Perjaka, akronim dari Perkumpulan Jalan Kaki. Perjaka terbentuk tiga sejak tiga tahun lalu. Mulanya mereka adalah warga Taman Giri Loka BSD yang gemar berjalan santai. Dari awalnya berjalan sendiri-sendiri, para lansia (lanjut usia) ini sepakat mendirikan sebuah komunitas. Perjaka memang didominasi lansia, di mana anggotanya kebanyakan warga berusia 50 tahun ke atas.

Dikatakan Bakti Sudaryono, Ketua Perjaka, komunitas ini tercatat memiliki 24 anggota. Mayoritas anggotanya adalah pensiunan. “Komunitas ini juga membuat kami lebih dekat antartetangga. Apalagi seperti kami pensiunan ini tidak ada kegiatan di luar,” ungkapnya.

Selain berjalan kaki, anggota komunitas ini ternyata senang wisata kuliner. Sehabis berjalan santai, mereka biasanya pergi mencicipi makanan bersama-sama. “Biasanya habis jalan keliling komplek, kami makan bareng di luar mencari kuliner yang enak. Kadang kami juga ke wilayah Gading Serpong. Kalau ke sana kami biasa sewa angkutan umum sampai Asrama Papua. Dari sana baru jalan santai sampai Tea Garden,” sambung Bakti.

Ternyata, anggota Perjaka tak hanya menjelajahi wilayah Serpong dan sekitarnya. Mereka beberapa kali melakukan trip ke luar daerah. Di antaranya Jogjakarta dan Cirebon. “Waktu ke Jogjakarta kami naik pesawat. Di sana kami jalan-jalan, termasuk mengunjungi Pemakaman Imogiri di mana kami menaiki 409 anak tangga. Saya tidak menyangka meski kami sudah tua, tapi masih bisa mendaki anak tangga sebanyak itu. Sementara saat ke Cirebon kami memilih naik kereta api. Kami wisata kuliner mencicipi bermacam masakan khas Cirebon. Di sana kami juga berjalan kaki dari Sangkanhurip hingga Linggarjati. Perjalanan seperti itu membuat kami semakin akrab. Kami bisa banyak bercerita dan tertawa,” jelasnya.

Suasana akrab antaranggota komunitas ini terasa kental. Mereka penuh keceriaan. Sebelum adanya komunitas ini, para lansia di lingkungan mereka kebanyakan hanya menghabiskan waktu di rumah saja. Namun sejak Perjaka terbentuk, mereka jadi lebih punya kegiatan yang berwarna. Kondisi fisik mereka pun bisa tetap bugar karena aktif bergerak.

“Di sini kami bisa saling sharing. Dengan berjalan kaki, kami jadi lebih sehat. Kami juga punya kegiatan yang dinamakan MEOK (Makan Enak Omong Kosong). Kami memang punya hobi sama, yaitu jalan kaki dan wisata kuliner,” seloroh Daniel Rochadi, Humas Komunitas Perjaka.  Anggota Perjaka rutin mengadakan jalan kaki bersama pada Sabtu pagi mulai pukul 07.00 WIB. Seminggu sekali mereka juga bersepeda. Ada pula kegiatan yoga yang dilakukan setiap Kamis malam.







Serpong > Komunitas

Komunitas Klise Fotografi, Bermula Keinginan Memperdalam Ilmu Fotografi

Kamis, 17 Desember 2015 16:23 WIB
Editor : Admin | Reporter : Alfi Dinilhaq

Komunitas Klise Fotografi
Komunitas Klise Fotografi

Share this





Sebagai wadah mahasiswa menyalurkan minat dan bakat fotografi, Klise Fotografi kerap mengundang fotografer senior untuk berbagi pengalaman dengan anggotany

Kesamaan hobi menjadi dasar terbentuknya komunitas Klise Fotografi. Wadah bagi penggemar fotografi ini berdiri sejak 2010. Klise Fotografi menjadi sebuah Lembaga Semi Otonom (LSO) yang berbasi di Ciputat, Kota Tangsel. Komunitas ini bernaung di bawah Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Syarif Hidayatullah.

Komunitas ini diinisasi tiga orang yang menjadi founder-nya, yakni Irfan Faqih, Rifqi M Irsyad, dan Sabir Laluhu. Klise Fotografi digagas sebagai wadah menyalurkan minat dan bakat mahasiswa yang tertarik pada dunia fotografi. “Klise Fotografi bisa menjadi wadah tepat bagi mahasiswa yang ingin mengenal dan belajar dunia fotografi,” kata Irfan Faqih.

Mulanya, kata Irfan, keresahan beberapa mahasiswa jurnalistik yang tertarik pada dunia fotografi menjadi salah satu faktor dibentuknya Klise Fotografi. Para mahasiswa tersebut resah lantaran mata kuliah foto jurnalistik hanya satu semester saja, yakni di semester VI. Hal ini dirasa kurang memadai bagi mereka mengembangkan minat dan bakatnya.

 “Ketika  itu kita merasa satu semester tentu tak cukup untuk bisa belajar dan mendalami dunia fotografi. Akhirnya kami mencoba membentuk suatu perkumpulan sebagai tempat sharing sharing knowledge materi fotografi. Alhamdulillah BEM Fakultas mengusulkan dibuat menjadi komunitas resmi dan legal di fakultas. Sekarang Klise Fotografi menjadi salah satu unit kegiatan resmi di Fakultas Dakwah dan Komunikasi,” jelas Faqih.

Sampai sekarang, Klise Fotografi sudah memiliki anggota empat angkatan dengan total 60 roang. Kegiatan utama komunitas ini adalah menggelar kelas fotografi, mulai dari materi tingkat dasar hingga foto jurnalistik. Sesekali Klise Fotografi turut mengadakan sharing foto yang bisa terbuka buat internal maupun eksternal anggota. Bberapa fotografer senior juga acap diundang Klise Fotografi guna memberikan materi dalam diskusi foto. Di antara yang pernah datang adalah Fotografer Senior Kompas Arbain Rambey, Don Hasman, dan Ray Bachtiar, Pendiri Komunitas Lubang Jarum Indonesia serta Street Photographer Senior Erik Prasetya.

Di samping itu, setiap angkatan Klise Fotografi juga punya agenda rutin. Kegiatan tersebut merupakan hasil output pendidikan selama setahun. Hingga kini banyak anggota Klise Fotografi yang tercatat sebagai siswa Workshop Galeri Foto Jurnalistik Antara. Selama empat tahun berdiri, Klise Fotografi telah menghelat workshop pameran mulai dari angkatan 1 hingga 4. Tema tiap workshop pun berbeda. Angkatan 1 mengangkat tema “Moeslem”, angkatan 2 “See See Jakarta”, angkatan 3 “DAY”, dan angkatan 4 “Andakara. “Workshop pameran angkatan ke-4 kami gelar belum lama ini, pada 6-8 Oktober lalu,” pungkas Faqih.