Serpong > Famili

Wiwie Kartati, Bersama Suami Kompak Merawat Anak Autis

Kamis, 03 Maret 2016 17:11 WIB
Editor : | Reporter : Alfi Dinilhaq

Keluarga Wiwie Kartati
Foto : istimewa

Share this








Sebagai orang tua yang memiliki anak penyandang autis, Wiwie mengatakan langka pertama adalah harus bisa menerima. Baru kemudian memikirkan langkah-langkah

Kisah Famili - Saya Wiwie Kartati. Suami saya bernama Didi Yulius. Anak kedua kami, Thomas Andika menyandang kelainan spektrum autisme atau autism spectrum disorder. Gejala kelainan ini mulai nampak saat Thomas berusia 16 bulan. Thomas kecil kerap berperilaku cuek, tidak suka dipeluk, dan sering asyik sendiri. Penyandang ASD memiliki kendala terhadap ruang terbuka, komunikasi, dan interaksi sosial.

Saat itu pada 1999, belum banyak dokter yang memahami kelainan jenis ini. Kami mendatangi lima dokter dan semuanya mengatakan Thomas baik-baik saja. Hingga akhirnya ada teman yang menyarankan untuk membawa Thomas ke psikiater. Dari situ baru diketahui Thomas menyandang autisme dan diharuskan mengikuti berbagai terapi. Ketika itu pula saya memutuskan untuk resign  dari pekerjaan dan fokus merawat Thomas.

Sebagai orang tua yang memiliki anak autis, langkah pertama yang harus dilakukan adalah harus bisa menerima keadaan. Setelah menerima, baru bisa memikirkan langkah ke depannya. Maka itu, bersama suami, saya harus kompak memutuskan hal apa saja yang harus ditempuh Thomas. Agar bisa seperti orang normal, Thomas mengikuti berbagai terapi. Di antaranya terapi perilaku berbicara, makan, berkuda, berenang, hiking, dan akunpuntur dijalani Thomas. Berkat terapi ini Thomas berhasil masuk sekolah umum dari tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menegah atas.

Semenjak TK Thomas juga sudah menunjukan bakat yang luar biasa. Sejak kecil Thomas suka melipat kertas ala Jepang atau origami. Dalam sehari ia bisa membuat hampir 30 origami sehingga saya harus menyediakan kertas khusus dan ruangan khusus untuk menampung origami buatan Thomas. Namun ketika SD Thomas sempat vakum membuat origami lantaran kesibukan sekolah yang padat membuatnya tidak ada waktu untuk bermain dan membuat origami. Menginjak bangku SMA Thomas kembali mengolah kertas menjadi berbagai bentuk, utamanya binatang.  Bakat Thomas kembali terlihat walapun sempat vakum selama enam tahun.

Keahlian Thomas dalam membuat origami terus berkembang. Ia berhasil membuat sebuah origami berupa binatang Harimau Sumatera dengan 240 lipatan.  Hasil karya Thomasi ini diberikan kepada Presiden ke-5 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam rangka Peringatan Hari Anak Nasional di Istana Negara.  Selain itu karya origami Thomas juga pernah terjual dengan harga fantastis, mencapai Rp 11 Juta  pada acara Pameran Autismaze di Jakarta. Tak hanya mahir melipat kertas, Thomas juga piawai melukis dan bermain alat musik. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya lukisan yang ia hasilkan dan Thomas juga membentuk sebuah band bersama teman autisme lain bernama The Glory. Sebagai orang tua saya dan suami sangat men-support penuh dengan apa yang disukai Thomas.