Serpong > Advertorial

Semua Berawal dari Rumah

Senin, 25 September 2017 13:10 WIB
Editor : Raymondo Arditya | Sumber : ADV

Pentingnya Waktu Berkualitas dalam Keluarga
Pentingnya Waktu Berkualitas dalam Keluarga
Foto : istimewa

Share this








Orang tua kerap membandingkan anaknya dengan anak orang lain. Apa yang menyebabkan begitu?

JAKARTA - Secara tidak sadar, sering kali kita sebagai orang tua membandingkan anak kita dengan anak orang lain. Tidak jarang, kita juga bertanya, kenapa anak lain bisa memiliki kepribadian yang begitu baik, moral dan karakter yang kuat, sehingga tidak mudah terpengaruh dengan arus jaman yang serba bebas seperti sekarang ini? Sebagai orang tua, tentu kerap mengajarkan segala hal yang baik. Namun, terkadang, mengapa anak sendiri berbeda 180 derajat dari anak lainnnya.

Selain itu, belajar saja harus disuruh, kalau butuh sesuatu sangat mengandalkan orang lain. Mengapa demikian? Apa karena pendidikan di sekolah yang berbeda? Apa karena lingkungan pertemanan anak yang berbeda? Apa memang sudah dari sananya? Bermacam pertanyaan tersebut wajar saja timbul di pikiran kita sebagai orang tua. Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Kita ingin mempersiapkan mereka menjadi pribadi yang berkarakter, tentunya karakter yang baik.

“Biasanya, orang tua memiliki pertanyaan seperti: Saya ingin anak saya seperti anaknya ibu X, nilainya bagus. Tanpa perlu disuruh, dia sudah mengerti tanggung jawab untuk belajar. Sopan jika berbicara dengan teman sebaya maupun orang yang lebih tua, tidak ikut-ikutan kebiasaan buruk temannya, mengerti keadaan orang tua yang sibuk, membantu pekerjaan rumah tanpa disuruh, pokoknya anak idaman deh,” ujar psikolog Inez Taniwangsa S.Psi, M.Sc, kepada Info Gading Group.

Namun, tahukah anda, bahwa segala perilaku yang ditunjukkan oleh seorang anak, berasal dari lingkungan terkecil? Its all started from home. Ya. Semua bermula dari rumah. Sebagai catatan, Inez Taniwangsa S.Psi, M.Sc sudah mulai bersentuhan dengan dunia pendidikan semenjak masih dibangku kuliah, di tahun 2003. Pada saat itu Inez aktif melatih klub debat di beberapa SMA swasta dan mengajar privat anak-anak setingkat SD dan SMP. Dari pengalaman tersebut, Inez dapat melihat perubahan gaya berinteraksi remaja dengan lingkungannya. Inez menyimpulkan, remaja masa kini cenderung lebih kritis, lebih kompetitif, lebih individualis, serta lebih menyadari hak mereka. Hal ini mungkin disebabkan oleh perkembangan teknologi, sehingga informasi yang berkeliaran bebas sangat mudah didapatkan dengan 1 klik di smartphone mereka.

Lepas dari perubahan cara berinteraksi dan berkomunikasi, serta pola pikir mereka, Inez bisa mengidentifikasi sebuah pola umum. Apa yang mereka tampilkan diluar, adalah cerminan dari apa yang mereka terima di lingkungan terdekat mereka, dalam hal ini adalah keluarga, sekolah, dan lingkungan pertemanan. Keluarga berada di urutan pertama, karena keluarga adalah lingkungan sosial pertama yang bersentuhan dengan seorang anak, dimana lingkungan ini menjadi pusat identifikasi anak. Seorang anak belajar tentang nilai dan keteladanan dari keluarga, terutama dari orangtuanya. Pengajaran tentang nilai dan keteladanan membutuhkan proses yang panjang, konsistensi, serta kesabaran dari orang tua.

“Selain keluarga, di urutan kedua dan ketiga secara berturutan, ada sekolah dan lingkungan pertemanan. Kedua hal ini saling terkait dan tidak terlepas satu dengan yang lain. Kedua hal ini mempunyai pengaruh yang tidak kalah besar dalam pembentukan karakter seorang anak,” imbuh Inez.

Keluarga, sebagai pusat identifikasi anak mempunyai pengaruh sampai dengan anak berusia sekolah. Setelah anak memasuki usia sekolah, maka peran pembentukan karakter anak menjadi terbagi, orang tua dan sekolah. Ketika anak bersekolah, ia akan menghabiskan waktu hampir 8 jam di sekolah.  Selain pendidikan akademik yang baik, sebagai orang tua tentunya kita perlu memikirkan apakah program pendidikan karakter juga merupakan hal yang ditekankan oleh sekolah tersebut. Sehingga memilih sekolah yang memiliki kualitas akademik yang baik dan pendidikan karakter yang kuat juga merupakan hal yang harus dipikirkan secara matang oleh orang tua.

Sebagai contoh, BINUS SCHOOL Serpong yang mempunyai motto “Home for Learning” dan menggunakan Cambridge International Curriculum mempunyai program pengembangan karakter yang disingkat sebagai “CORRIE”; Confident (Percaya diri); Responsible (Bertanggung jawab); Reflective (Reflektif); Innovative (Inovatif); Engaged (Terlibat, dalam kegiatan akademik maupun sosial). Dengan program tersebut, BINUS SCHOOL Serpong bertujuan untuk tidak hanya mementingkan kemampuan akademik siswa, namun juga menanamkan pendidikan karakter sebagai modal seorang anak di masa yang akan datang.

Akhirnya, semua akan dikembalikan kepada orang tua. “Memang menjadi orang tua tidak pernah mudah, karena tidak ada sekolah ataupun kursus bagaimana untuk menjadi orang tua yang baik. Namun, seiring dengan perkembangan dan perubahan zaman, kita pun harus mengikuti dan beradaptasi dengan perubahan tersebut, sehingga kita dapat mendidik generasi yang mempunyai karakter yang baik dan positif. Kita harus ingat, keluarga, terutama orang tua adalah pusat identifikasi anak. Intinya adalah konsistensi dalam penanaman nilai positif dan komunikasi (baik dengan teguran, maupun pujian) dalam mendidik anak kita,”

Selain itu, Inez juga menambahkan, pemilihan rekan dalam mendidik anak. Dalam hal ini, sekolah merupakan hal yang juga penting, karena tujuan akhirnya adalah kita ingin mengembangkan individu dengan kemampuan akademik yang baik dan memiliki karakter yang positif.