Tokoh Pers Nasional Herawati Diah Meninggal Dunia
Segitiga Emas > Profil

Tokoh Pers Nasional Herawati Diah Meninggal Dunia

Rabu, 30 November 2016 13:30 WIB
Editor : Zaen | Sumber : kompas.com

Herawati Diah.
Herawati Diah.

Share this





JAKARTA - Wartawan senior sekaligus pejuang pers nasional Herawati Diah meninggal dunia pada usia 99 tahun, Jumat (30/9/2016), pukul 04.20 WIB, di Rumah Sakit Medistra, Jakarta.

Sekretaris pribadi yang juga keluarga Herawati Diah, Damayanti, mengatakan, almarhumah Herawati dirawat di rumah sakit sejak 29 Agustus 2016.

"Beliau meninggal karena usia yang sudah sepuh. Sedangkan secara medis karena terjadi pengentalan darah," kata Damayanti, seperti dikutip dari Antara.

Saat ini, jenazah sudah disemayamkan di rumah duka, Jalan Patra Kuningan No 10, Kuningan, Jakarta Selatan.

Herawati Diah lahir pada 3 April 1917 di Tanjung Pandan, Belitung. Ia merupakan putri dari pasangan Raden Latip, seorang dokter yang bekerja di Billiton Maatschappij, dan Siti Alimah.

Herawati adalah istri dari tokoh pers BM Diah yang bekerja di Koran Asia Raya dan pernah menjabat Menteri Penerangan.

Bersama sang suami pada 1 Oktober 1945, ia mendirikan Harian Merdeka.

Semasa hidupnya, Herawati berkesempatan mengecap pendidikan tinggi. Lepas dari Europeesche Lagere School (ELS) di Salemba, Jakarta, Herawati bersekolah di American High School di Tokyo.

Setelah itu, atas dorongan ibunya, Herawati berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar sosiologi di Barnard College yang berafiliasi dengan Universitas Columbia, New York dan lulus pada tahun 1941.

Ia pulang ke Indonesia pada 1942 dan bekerja sebagai wartawan lepas kantor berita United Press International (UPI).

Selanjutnya, bergabung sebagai penyiar di Radio Hosokyoku.

Pada tahun 1955, Herawati dan suaminya mendirikan The Indonesian Observer, koran berbahasa Inggris pertama di Indonesia.

Koran itu diterbitkan dan dibagikan pertama kali dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung, Jawa Barat, tahun 1955.

The Indonesian Observer bertahan hingga tahun 2001, sedangkan koran Merdeka berganti tangan pada akhir tahun 1999.

Selain aktif di dunia pers, Herawati juga aktif di sejumlah organisasi seperti Yayasan Bina Carita Indonesia, Hasta Dasa Guna, Women's International Club, Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan, Lingkar Budaya Indonesia, Yayasan Bina Carita Indonesia.

Sederet penghargaan juga telah diraihnya, termasuk "Lifetime Achievement" atau "Prestasi Sepanjang Hayat" dari PWI Pusat.

Herawati juga masih aktif menekuni hobinya bermain bridge dua kali seminggu. Bahkan, ia masih mengikuti turnamen bridge.

Baginya, dengan bermain bridge, kemampuan otak akan terus terasah dan mencegah kepikunan.







Segitiga Emas > Profil

Hary Tanoe Berbagi Kiat untuk Pengusaha Muda

Rabu, 30 November 2016 15:45 WIB
Editor : Zaen | Sumber : okezone.com

CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo.
CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo.

Share this





JAKARTA -  Generasi muda diminta untuk terus melakukan inovasi serta bekerja keras. Dengan demikian, generasi muda bisa menjadi pengusaha produktif.

CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo mengatakan, generasi muda harus bisa menjadi pengusaha yang menciptakan lapangan kerja. Oleh karena itu, dia memberikan beberapa kiat kepada generasi muda yang ingin menjadi pengusaha.

“Rahasia sukses itu mau menjalani prosesnya. Banyak orang cita-cita setinggi langit, tapi tidak mau menjalani prosesnya,” kata dia di Kuningan.

Menurutnya, membangun ekonomi Indonesia harusnya bisa dimulai dari rakyat kecil. Menurutnya, ekonomi seharusnya memihak rakyat dan daerah.

“Terapkan ekonomi kesejahteraan, bangun masyarakat dan daerah. Kapitalisme tak cocok untuk Indonesia,” tutur dia.

“Saya ingin kalian tumbuh menjadi generasi produktif, membangun daerah untuk kemajuan Indonesia,” tukasnya.







Segitiga Emas > Profil

Karina Salim Ingin Jadi Pengusaha Sukses

Rabu, 30 November 2016 15:15 WIB
Editor : Zaen | Sumber : koran-jakarta.com

Karina Salim.
Karina Salim.

Share this





JAKARTA - Selain berkarier di dunia hiburan, Karina Salim ternyata juga punya obsesi menjadi pengusaha yang sukses. Aktris, penyanyi dan model ini mengaku selalu tertarik dengan sosok wanita yang sukses menjalankan bisnis. Tak heran, jika Karina kini juga tengah menjalankan bisnisnya di bidang kecantikan dengan membuka beauty salon di bilangan Senopati, Jakarta Selatan.

“Aku buka beauty salon di daerah Senopati. Kalau lagi nggak ada aktivitas, biasanya aku selalu ada di sana,” kata Karina, baru-baru ini, di bilangan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Meski punya salon kecantikan, namun Karina bukan tergolong wanita yang gemar merawat tubuh secara berlebihan.

“Nggak terlalu juga ya. Aku biasanya rawat rambut, kuku, terus ya biasa luluran gitu aja. Nggak mencoba semua perawatan yang ada di salon juga. Kalau lagi senggang aku ada di salon tapi nggak harus perawatan. Misalnya kalau ada karyawan yang nggak masuk, aku juga biasa gantiin jadi kasirnya, jadi nggak harus selalu perawatan kalau lagi ada di salon aku,” jelas aktis yang berlakon di film Salawaku (2016) ini.

Menurut Karina, kecantikan memang harus dijaga, namun baginya kecantikan itu tidak hanya sebatas fisik semata. Karina mengatakan cantiknya wanita itu bisa terpancar dari dalam diri. Tak heran jika meski Karina telah menjadi artis, namun ia tak ingin menjadi besar kepala atau bahkan menjadi sombong.

“Aku nggak pernah merasa besar kepala. Ada juga ya artis yang lagi naik daun tapi kelihatan sikapnya berubah sombong. Untungnya aku diajarkan sama orangtua harus tetap menjaga diri, karena hidup itu berputar, nggak akan selamanya kita berada di atas terus,” papar Karina.

Karina mengakui tidak sedikit wanita yang selalu merasa tersaingi dengan wanita lain, namun tidak dengan dirinya.

“Sebenarnya banyak sih perempuan yang merasa takut disaingi. Kalau aku nggak pernah takut ya, karena aku juga sadar bahwa yang lebih dari aku itu banyak. Yang lebih cantik dari aku juga banyak. Tapi kan masingmasing orang itu punya kelebihannya sendiri-sendiri. Mungkin ada yang cantik tapi nggak punya keahlian apa-apa. Kalau aku sih merasa bersyukur saja karena aku punya keahlian yang mungkin tidak dimiliki oleh yang lain. Kuncinya sih ya bersyukur aja,” pungkas Karina. 







Segitiga Emas > Profil

Cerita Acha Septriasa Perankan Wanita Sulawesi

Rabu, 30 November 2016 12:15 WIB
Editor : Zaen | Sumber : VIVA.co.id

Acha Septriasa.
Acha Septriasa.

Share this





Tokoh yang ia perankan adalah seorang tour guide dan penyelam.

JAKARTA - Artis cantik Acha Septriasa kembali memperlihatkan kelihaiannya di dunia seni peran. Kali ini, Acha berperan menjadi seorang penyelam di film sejarah berjudul Barakati. Selain Acha, film tersebut juga dibintangi oleh aktor Fedi Nuril.

"Wabe ini diceritakan sebagai tour guide dan penyelam asal Buton. Baru pertama kali memerankan wanita Sulawesi," ujar mantan kekasih Irwansyah tersebut, saat ditemui di Epicentrum, Jakarta, Sabtu 5 November 2016.

Menjadi seorang penyelam, kata Acha, bukan sesuatu yang mudah untuk dia perankan. Sehingga, ia mengakui adanya latihan khusus untuk mendalami karakternya itu.

"Latihan khusus enggak terlalu lama. Menyelami karakter sebagai penyelam. Menyelam di kedalaman 20 meter. Ini satu petualangan yang sangat luar biasa," ujarnya menambahkan.

Film yang disutradarai Monty Tiwa itu juga membuat Acha banyak mempersiapkan diri untuk berlatih menyelam dan menolak untuk menggunakan stuntment. Tetapi, Acha juga mengaku banyak berlatih hal lain, untuk lebih mendalami sosok wanita Sulawesi tersebut.

"Untuk film ini spesial belajar nyelam sama Fedi, enggak pake stuntment. Saya juga belajar bahasa, kebudayaan, beladiri balaba. Beladiri itu susah banget," ujarnya antusias.