Segitiga Emas > Profil

Nasib Transportasi Tua

Perjuangan Sopir Bemo Bertahan di Tengah Moderenisasi Transportasi

Rabu, 12 April 2017 10:00 WIB
Editor : Muhammad Saiful Hadi | Reporter : Adresau Sipayung

jakarta
Transportasi bemo Ibukota
Foto : Adresau Sipayung

Share this

0


0


0

Kehidupan Ruslan berubah ketika baru lulus SMP kemudian memutuskan untuk menjadi supir Bemo, dan tengah masa modernisasi Transportasi ini perjuangannya diuji.

TANAH ABANG - Perjalanan panjang dan berliku sudah diarungi Ruslan (48) sebagai sopir bemo. Bagi Ruslan, tiada kata lelah demi biayai kehidupan istri, anak serta orangtuanya. Ditengah terik matahari serta dinginnya malam, ia terus memacu si bemo.

Kisah pilu Ruslan ini dimulai sejak 1980, masa dimana dia pertama kali memacu si kendaraan roda tiga tersebut. Kala itu, Ruslan kelar mengecap bangku SMP. Dia langsung memutuskan bekerja sebagai supir bemo.

"Awalnya, aku diajar orangtua agar bisa mengendari bemo. Setelah tau, aku sih mulai ikut angkut penumpang bersama ayah angkatku. Semakin hari, aku terus belajar serta paham pekerjaan sebagai supir bemo," ujar Ruslan di Bendungan Hilir, kec.Tanah Abang, Jakarta, Selasa, (11/4/2017).

Tidaklah mudah, Ruslan memutuskan arah hidupnya sebagai supir Bemo. Ia mengambil jalan ini, karena pemikiran yang tak mau menyusahkan orangtua. Usia remajanya itu dipergunakan buat mencari nafkah.

Baca juga : Kepala SMAN 1 Jakarta Pentingkan Berbaur dengan Siswa

"Kala itu amat berat mas. Kalau boleh jujur, aku pun bahkan kerap menangis kala mengisi keseharian aku memacu bemo. Tapi, aku berpikir positif, untuk orangtua segala cara aku akan jalani," rintih ruslan.

Hingga saat ini, perjuangan itu masih ditempuh Ruslan dengan senang hati. Dia tidak pernah sekali pun mengeluh ataupun meratapi kesusahannya. Dia malahan bersyukur bemo masih bisa beroperasi hingga detik ini.

"Ya, kita harus bisa lapang dada buat menerima nasib. Jalani aja, toh rejeki kita disini, mau protes apa lagi. Yang penting, aku dapat nafkahi istri, anak serta bantu orangtua dari hasil yang sederhanaku ini," ujarnya.

Tapi, ia mengakui kehidupan seperti yang dijalaninya amat pahit. Bahkan, Ruslan pun telah pernah merasakan penghasilan mulai dari 15 perak, 30 perak, Rp. 300 sampai Rp. 3000, per penumpang. Di tambah, biaya untuk setoran yang tak sebanding dengan penghasilan per harinya.

Tidak hanya itu, Ruslan juga pernah menghabiskan sisa tidurnya di atas lantai WC umum dan bemo. Semua dialaminya demi kebahagiaan serta hidup yang layak untuk keluarga. Ia menegaskan, selagi masih mampu, dirinya akan terus memacu bemo.

"Semuanya sudah aku rasakan. Ya, sekarang sih mendingan. Dulunya, malahan saya pernah tidak makan hingga 3 hari, bayangkan. Jadi gak masalah penghasilan dan tidur aja terasa pahit. Itu semua aku lakuin sekedar demi kebahagian istri dan anakku serta bantu orang tua. Hal tersebut udah lebih dari cukuplah," tutupnya.