Segitiga Emas > Laporan Utama

Nasib Transportasi Tua

Miris, Keberadaan Bemo Mati Suri

Selasa, 11 April 2017 20:02 WIB
Editor : Waritsa Asri | Reporter : Adresau Sipayung

Keadaan Angkutan Umum Bemo
Keadaan Angkutan Umum Bemo
Foto : Adresau Sipayung

Share this





Supir bemo, Harto (52) merasa seperti mati suri karena keadaan bemo yang kini semakin memprihatinkan sebagai moda transportasi tua

TANAH ABANG – Peribahasa ‘Bagai telur di ujung tanduk’ merupakan kondisi paling tepat menggambarkan keadaan angkutan umum, Bemo, yang kian hari semakin memprihatinkan. Bahkan, kehadiran angkutan online pun membuat keberadaan Bemo terasingkan.

Keadaan ini amat dirasakan oleh para supir Bemo. Salah satunya, Harto (52), warga Pasar Baru, Kelurahan Karet, yang merasa seperti dalam keadaan mati suri.

Baca juga : Pangkas Pohon Hindari Kecelakaan di Cilangkap

“Kami masih beroperasi, kok. Tapi, kami seakan-akan mati suri. Adanya ojek online itu kian memperparah serta mengurangi penghasilan kita. Sehari, kami hanya dapat 100-150 ribu. Sedih sih mas, ya tapi mau gimana lagi," ungkap Harto yang sudah menjadi supir bemo hingga 10 tahun lamanya, saat ditemui di Kawasan Bendungan Hilir, Jalan Tanah Abang, Jakarta, Selasa, (11/4/2017).

Keadaan ini, kata Harto, diperparah dengan pembatasan jalur bagi Bemo, yang akhirnya tak bisa bergerak secara leluasa dan berimbas pada penghasilan tiap harinya.

“Padahal, kalau diperhatikan, bemo ini padahal masih dibutuhkan masyarakat, khususnya warga yang ingin ke pasar. Mereka pastinya mau naik Bemo yang lebih ekonomis dan langsung sampai ke tujuannya," jelas Harto lagi.

Dengan kondisi ini, para supir bemo berharap adanya solusi terbaik dari gubernur yang terpilih nanti. Semua harusnya ditata dengan bijak, bukan malah ditinggalkan begitu saja.

"Bemo angkutan bersejarah, ya jadi sayang bila kita lupakan begitu aja. Setidaknya ditata serta kasih ruang gerak bemo ke depannya," tutup pak Hartono.