Segitiga Emas > Hiburan

Nicholas Saputra Apresiasi Layanan Video “On Demand” Hooq

Jumat, 21 April 2017 12:44 WIB
Editor : Muhammad Saiful Hadi | Reporter : Adresau Sipayung

jakarta
Nicholas Saputra
Foto : Adresau Sipayung

Share this

0


0


0

Dengan adanya layanan provider Video On Demand seperti Hooq akan memperpanjang usia film, dan dapat menjadi pemasukan bagi film maker menurut Nicholas Saputra.

JAKARTA - Kehadiran penyedia provider video on demand di Indonesia, memberi banyak kemudahan dengan sajian film terbaik, mulai konten lokal serta internasional. Hal itu pun diakui aktor rupawan dan berprestasi Nicholas Saputra.

Sebagai pelaku serta penggemar film, dia begitu bersyukur dan senang atas kehadiran provider berbasis online itu. Menurutnya, VOD itu memiliki banyak manfaat bagi masyarakat penggemar film.

"Kita dipermudah dalam mengakses-akses film kesukaan, kapan saja dan dimana saja. Tak terbatas ruang dan waktu, ataupun jangkauan lebih luas. Jadi kita tak mesti pergi jauh-jauh ke bioskop, atau di daerahnya tidak ada bioskop,"ungkap Nicholas Saputra di VOD HOOQ, Kawasan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis, (20/4/2017).

Baca juga : Mengenal Lebih Dekat Anies Baswedan

Yang tak kalah pentingnya lagi, biaya lebih ringan. Pencinta film tinggal membayar sekitar Rp 29.000 per film. Hal ini lebih murah, dibanding nonton film di bioskop.

Tak hanya itu, provider ini membantu pelaku film untuk mengakses referensi-referensi film untuk pendalaman akting dan karakter peran. Ditambah, pelaku film bisa mudah refreshing dan menjaga mood, kala sibuk atau suntuk di lokasi syuting.

"Mempermudah kita banget sih. Ya, tinggal browsing aja. Kita tak harus keluar buit banyak, seperti parkiran, bayar makan kala menunggu film ditayangkan serta beli tiket yang bisa Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu lebih. Terus, para pelaku film ini bisa nikmati serunya nonton seperti di boskop di loksyut (lokasi Syuting)," jelasnya lagi sembari tersenyum.

Selain itu, dengan adanya provider online akan mampu memperpanjang usia film, dan dapat menjadi pemasukan bagi film maker. Sehingga, kehadiran provider ini pun memberikan warna dan gairah besar bagi pembuat film.

"Jadi film dapat ditonton berkali-kali, dapat nonton film-film lama yang tak sempat kita tonton di bioskop. Terus, publik bisa menonton ulang film-film lama, mulai 2 sampai 10 tahun lebih yang lalu. Jadi, film itu tidak terbatas dengan layar yang disediakan hingga jangka waktu yang ditentukan pihak-pihak bioskop," tutupnya.