Puri > Laporan Utama

Sudah Klarifikasi, Dinkes Jakarta Tetap Panggil Dokter Jaga Debora

Sabtu, 09 September 2017 20:08 WIB
Editor : Ichwan Hasanudin | Sumber : DBS

Meninggalnya Tiara Debora Simanjorang
Foto Tiara Debora Simanjorang (Foto: kumparan.com)
Foto : istimewa

Share this








Meski RS Mitra Keluarga Kalideres telah mengklarifikasi meninggalnya Tiara Debora Simanjorang, Dinkes DKI Jakarta tetap akan meminta penjelasan dokter jaga

KALIDERES – Meski pihak Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres telah memberikan klarifikasi terkait meninggalnya Tiara Debora Simanjorang, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat tetap akan memanggil dokter jaga saat bayi 4 bulan itu meninggal.

Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat Weningtyas Purnomorini mengatakan pihaknya sudah mengetahui adanya klarifikasi dari pihak RS Mitra Keluarga Kalideres. Pihaknya juga akan membahas bersama Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mengenai hal ini. 

“Kami akan undang direktur dan petugas yang menangani. Kami akan undang mereka ke dinas dan kita akan klaririfikasi,” kata Weningtyas.

Kasus ini menyeruak ketika dikabarkan meninggalnya Debora Simanjorang karena terlambat mendapat penanganan media dari pihak RS Mitra Keluarga Kalideres. Ibu sang bayi menerangkan tidak bisa masuk ke ruang PICU seperti yang dokter jaga karena tidak memiliki biaya karena harus membayar uang muka sekitar 19 juta.

Namun, pihak RS Mitra Keluarga Kalideres telah klarifikasi melalui press release yang berisi 5 poin. Pada poin 2 klarifikasi berbunyi “Ibu pasien mengurus di bagian administrasi dan dijelaskan oleh petugas tentang biaya rawat inap ruang khusus ICU, tapi ibu pasien menyatakan keberatan mengingat kondisi keuangan.

Di poin 4 menyatakan “Pukul 09.15 WIB, keluarga mendapatkan tempat di salah satu rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Dokter rumah sakit tersebut menghubungi dokter RS Mitra Keluarga Kalideres untuk menanyakan kondisi Debora. Sementara berkomunikasi antar dokter, perawat yang menjaga dan memonitoring pasien memberitahukan kepada dokter bahwa kondisi pasien itu tiba-tiba menurun”.

Di poin terakhir menyatakan dokter segera melakukan pertolongan pada pasien. Setelah melakukan resusitasi jantung paru selama 20 menit, segala upaya yang dilakukan tidak dapat menyelamatkan nyawa pasien.