Puri > Laporan Utama

Soal Bayi Debora, Ini Kata Dinas Kesehatan DKI Jakarta

Senin, 11 September 2017 13:42 WIB
Editor : Waritsa Asri | Sumber : Dbs

Bayi
Ilustrasi
Foto : istimewa

Share this








Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Koesmedi Priharto mengungkapkan soal bayi Debora, tidak ada keterlambatan penundaan tindakan penanganan medis oleh RS

KALIDERES –  Terkait kematian bayi Debora, Dinas Kesehatan DKI Jakarta telah bertemu dengan manajemen Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat. Pertemuan itu menyimpulkan, meninggalnya rumah bayi berusia empat bulan itu bukan karena keterlambatan penundaan tindakan penanganan medis oleh rumah sakit.

“Jadi dari sisi medis tidak ada kesalahan atau penundaan tindakan penanganan,” ujar Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Koesmedi Priharto, Senin (11/9/2017).

Tak hanya itu, Koesmedi mengungkapkan, baik dokter maupun para medis RS Mitra Keluarga telah menangani pasien sesuai prosedur gawat darurat. Sedangkan, isu penelantaran Debora dipastikan hanya kesalahpahaman.

Kesalahpahaman itu terjadi saat bayi harus menjalani perawatan di Pediatric Intensive Care Unit (PICU), “Untuk masuk ke ruang PICU memang harus dikomunikasikan terlebih dulu karena biayanya sangat mahal,” kata Direktur RS Mitra Keluarga Fransisca Dewi. Fransisca mengungkapkan keluarga pasien akan dikenakan deposit sebesar Rp 19 juta di RS Mitra Keluarga. Sehingga, keluarga pasien diminta mencari rumah sakit lain yang bekerja sama dengan BPJS, agar tidak terbebani biaya.

Ia pun menduga, orang tua pasien memahami penjelasan rumah sakit secara berbeda. Akibatnya, muncul berita bayi Debora ditelantarkan karena orang tua tidak mampu membayar uang muka sebesar Rp 19 juta.

Sebelumnya, Tiara Debora yang merupakan buah hati dari pasangan Rudianto Simanjorang, dan Henny Silalahi, mengalami sesak nafas pada 3 September 2017, dan dilarikan ke RS Mitra Keluarga, Kalideres, Jakarta Barat.

Manajemen rumah sakit menangani bayi itu di instalasi gawat darurat (IGD). Akan tetapi, penanganan selanjutkan dokter menyarankan agar Debora mendapat perawatan di fasilitas Pediatric Intensive Care Unit (PICU).

Tapi, tindakan itu tidak bisa dilakukan karena orang tuanya Debora tidak mampu memenuhi syarat administrasi dengan membayar uang muka sebesar Rp 19 juta. 

Orang tua Debora akhirnya mencari rumah sakit lain yang bisa menampung putri mereka. Namun belum sempat Deborah dipindah, maut lebih dulu menjemput.