Puri > Laporan Utama

Rawan Kekerasan Seksual Anak Di Jakarta Barat

Pencegahan Kasus Kekerasan Anak di Jakarta Barat Dinilai Masih Lemah

Sabtu, 20 Januari 2018 18:09 WIB
Editor : Waritsa Asri | Reporter : M Nashrudin Albaany

Ilustrasi Kekerasan Anak
Ilustrasi Kekerasan Anak.
Foto : istimewa

Share this








ECPAT Indonesia menilai pencegahan kasus kekerasan anak di Jakarta Barat masih lemah terutama masalah penegakan hukum bagi pelaku

PURI - Lembaga Ending the Sexual Exploitation of Children (ECPAT) Indonesia bekerjasama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) melakukan penelitian tentang perilaku kekerasan dan eksploitasi seksual anak yang terjadi disejumlah tempat wisata selama kurun waktu 2016-2017.

Hasilnya, di DKI Jakarta, ada dua wilayah yakni Jakarta Barat yang masuk ke dalam zona merah dan Kepulauan Seribu yang masuk dalam zona kuning yang berarti kasus ini cukup mengkhawatirkan dan harus segera ditindaklanjuti oleh pemerintah. 

Koordinator ECPAT, Ahmad Sofian mengatakan, banyaknya kasus kekerasan dan eksploitasi seksual anak di Jakarta, terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya adalah faktor ekonomi dari korban yang kemudian dimanfaatkan oleh sindikat kejahatan seksual anak. Hal ini semakin diperparah dengan lemahnya penegakan hukum bagi pelaku.

"Pemerintah tidak memiliki data base yang akurat terhadap pelaku kejahatan seksual anak yang pernah dihukum. Padahal, data base ini sangat penting dan bisa dimanfaatkan oleh penegak hukum untuk mendeteksi para mantan terpidana kasus kejahatan seksual kemanapun dia pergi," jelas Sopian.

Menurut dia, dengan adanya data base ini, pihak kepolisian akan sangat diuntungkan. Sebab, otoritas setempat akan memberikan informasi bahwa mantan terpidana pelaku kejahatan seksual anak akan memasuki wilayah tertentu.

"Jika saja kepolisian Indonesia memiliki data base pelaku kejahatan seksual anak yang pernah dihukum, maka langkah penyelamatan anak-anak dari praktek kekerasan dan ekploitasi seksual anak akan semakin baik," ungkapnya.

Tak hanya itu, ia juga menyoroti komitmen dan skill penyidik kepolisian yang dinilai masih rendah. Padahal, spesialisasi dalam bidang penyidikan kejahatan seksual anak sudah harus diterapkan oleh para petinggi kepolisian di Indonesian, sehingga para penyidik memiliki kemampuan yang handal dan spesifik. 

"Selama ini para penyidik sering di rolling di berbagai unit, karenanya mereka memiliki pengetahuan yang banyak tetapi tidak spesifik dan mendalam. Oleh karena itu, bagi penyidik yang memilih bidang ini harus diberikan insentif khusus, agar mereka bisa fokus menyelamatkan destinasi wisata negeri ini dari para child sex offender," tuntasnya.