Kamis, 30 Agustus 2018 20:51:00
Editor : Muhamad Ibrahim | Reporter : Adi Wijaya
Suhartatik (66), pemilik restoran Swike Purwodadi Bu Tatik
Suhartatik (66), pemilik restoran Swike Purwodadi Bu Tatik
Foto : Azhari Setiawan
 

PURI - Restoran Swike Purwodadi Bu Tatik selalu ramai dikunjungi pelanggan. Selain rasa menu olahan kodok yang lezat, pelayanan yang diberikan pun memuaskan. Jauh sebelum mencapai titik kesuksaan saat ini, sang pemilik kerap dilanda kegagalan saat membesarkan usahanya.

Perjalanan usaha tatik, sapaan akrabnya dimulai pada pelataran rumah bersama suami, Leo Hadi (67) di kawasan Bojong Indah, Cengkareng, Jakarta Barat, sekitar 1980.

Usahanya itu hanya bertahan 10 tahun. Setelah itu, dia beserta keluarga pun kembali ke kota kelahirannya, Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah.

"Awalnya buka di Jakarta, tapi 10 tahun kemudian kami pindah ke kampung. Buka usaha swike juga di sana," kata Suhartatik, saat ditemui di Swike Purwodadi Bu Tatik, Selasa (29/8/2018).

Di sana, wanita berhobi memasak itu pun kembali mempelajari olahan swike yang menjadi ciri khas kota kelahirannya. Hingga akhirnya, dia memberanikan diri kembali ke Jakarta untuk menggeluti usahanya itu.

"Kami kembali membuka usaha di kawasan Pesanggrahan, Kembangan, Jakarta Barat dan Kelapa Gading, Jakarta Utara, sekitar tahun 2000," jelasnya.

Pasang surut usaha telah dilaluinya selama puluhan tahun silam. Tak ayal, seringkali bahan makanan terpaksa dibuang akibat minim pembeli. Namun hal itu tak pernah menyurutkan semangatnya menjalani usaha.

"Di lokasi sekarang ini baru dua tahun. Beberapa tahun sebelumnya sempat vakum," terangnya.

Namun, berkat kegigihan dan kerja keras, lambat laun usaha kuliner yang digelutinya disukai banyak orang. Hingga kini, dirinya telah memiliki ratusan pelanggan tetap olahan Swike. Bahkan, saking ramainya, Swike Purwodadi Bu Tatik telah membuka cabang di berberbagi lokasi yang dikelola oleh ketiga buah hatinya.

Kerja keras dan kegigihan dalam membesarkan usaha juga dilakukan Harjanto (46). Pemilik Bakso Garden ini merintis usaha dari nol. Awalnya, dari gerobak kaki lima di kawasan Green Garden, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, medio 1995 silam. Kala itu, hanya ada beberapa pelanggan yang menjadi langganannya.

"Awalnya kaki lima. Namun, karena pelanggan semakin banyak maka saya putuskan menyewa ruko," kata Harjanto (46), pemilik Bakso Garden, Rabu (30/8/2018).

Berkat kerja keras dengan mengutamakan kualitas produk, Bakso Garden kian disukai banyak orang. Banyak pelanggan baru berdatangan lantaran rasa bakso begitu lezat.

“Mereka (pelanggan) banyak datang. Mungkin karena promosi dari mulut ke mulut yang sudah pernah makan di sini,” jelas pria kelahiran Solo, Jawa Tengah itu.

Diakui Harjanto, Bakso yang dijualnya pun tak mengikuti perkembangan zaman, seperti kehadiran bakso isi keju atau pun bakso beranak. Dia tetap mempertahankan bakso original atau dengan sebutan bakso klasik.

"Saya ngga mau jual bakso yang aneh-aneh seperti sekarang. Cukup bakso original saja, dengan campuran mie bihun, soun, dan mie kuning," paparnya.

Namun selain bakso, saat ini di outlet Green Garden menjual siomay dan nasi goreng. Tak lama lagi, hadir menu baru, yakni ayam goreng kampung. "Yang di pusat lebih komplit. Tapi di Puri hanya bakso saja," tandasnya.

Kini Harjanto tak lagi sendiri berjualan. Di tiap outlet dibantu sekitar 5 - 6 karyawan. Kedua outlet beroperasional setiap hari, mulai pukul 09.00 WIB - 20.30 WIB.

Selain kerja keras, kreativitas menjadi kunci sukses berkarier di dunia kuliner. Ini yang dilakukan Executive Chef Samala Hotel Joko Triono. Contohnya, saat mengolah daging bebek menjadi menu lezat Bebek Granat yang disukai masyarakat.

“Kerja keras dan kreativitas ini prinsip yang saya pegang. Khususnya, dalam mengembangkan menu makanan yang menarik,” akunya. Sambungnya, Bebek Granat menjadi menu favorit tamu hotel lantaran rasa pedasnya. Dimana, dalam satu porsi Bebek Granat dibaluri cabai hingga setengah kilogram.

Soal menu makanan, Joko sendiri mengaku tertarik pada makanan western. Kata pria berusia 30 tahun ini makanan western punya ciri khas unik dan menarik. Sehingga lebih mudah untuk dikembangkan.

"Saya kembangkan western yang di- combine dengan masakan tradisional Indonesia sehingga jadi rasa yang menarik," pungkasnya.

Baca Juga

Berikan Komentar Anda