Kamis, 14 Desember 2017 10:24:00
Editor : Waritsa Asri | Sumber : Dbs
Ini Dia Fakta-Fakta dari Penyakit Difteri
Kenali gejala dan melakukan imunisasi bisa menjadi langkah tepat untuk menghentikan penularan penyakit difteri. (Foto: alldaychemist)
Foto : istimewa
 

PURI – Wabah difteri yang semakin menyebar sangat meresahkan masyarakat. Hal ini disebabkan difteri tidak hanya menyerang orang dewasa namun juga anak-anak. Setidaknya, ada enam fakta yang bisa dijadikan referensi demi menjaga kesehatan anak dan keluarga.

Apa itu Difteri?
Difteri adalah infeksi menular akibat Corynebacterium Diphtheriae, yang mudah tersebar melalui batuk atau bersin. Bakteri tersebut dapat mengeluarkan racun atau toksin yang bisa melumpuhkan otot jantung dan saraf, hingga menyebabkan kematian.

Penyebab Infeksi
Penyebabnya adalah penderita tidak menerima imunisasi atau vaksin difteri yang berbeda dengan imunisasi DPT pada umumnya. Vaksin difteri memiliki kandungan yang berbeda untuk setiap usia pertumbuhan anak. Untuk itu, pemberian vaksin harus terus diberikan seiring anak bertambah dewasa. Imunisasi atau vaksin ini pun harus diterima ulang setiap 10 tahun.

Infeksi ini juga bisa dipicu oleh hal lain seperti:

  • Lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat.
  • Memiliki gangguan sistem imun.
  • Memiliki sistem imun lemah.

Gejala Difteri
Menurut Kemenkes, difteri bisa terdeteksi dengan beberapa gejala antara lain:

-Demam dengan suhu 38 Celsius.
-Munculnya selaput di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan dan akan berdarah saat terkelupas.
-Sakit saat menelan dan kadang di sertai pembesaran kelenjar getah bening leher.
-Pembengkakan juga terjadi pada jaringan lunak leher yang disebut bullneck.
-Sesak napas dan suara seperti 'ngorok.'

Akibat Terkena Difteri
Infeksi difteri dapat menyebabkan penderitanya mengalami komplikasi dengan tingan yang berbahaya jika kondisi semakin memburuk. Jika tidak cepat ditangani, maka penderita akan mengalami:

  • tertutupnya saluran napas oleh selaput
  • kerusakan pada otot jantung (miokarditis)
  • kerusakan pada saraf (polineuropati)
  • kelumpuhan
  • infeksi paru (gagal napas atau pneumonia)

Penanganan Medis
Jika seseorang didiagnosa menderita difteri, maka ia harus segera menjalani rawat inap dan diberi antibiotik. Seperti dikemukakan di atas bahwa penderita difteri harus diisolasi paling tidak selama dua minggu. Keluarga terdekat seperti ibu, ayah, kakak, adik, dan kerabat lainnya juga patut diperiksa untuk memutus penyebaran bakteri berbahaya ini.

Mencegah Difteri
Perilaku hidup sehat juga bisa mencegah seseorang agar tidak terinfeksi bakteri difteri tersebut. Beberapa langkah ini diantaranya:

  • Biasakan untuk mencuci tangan setelah menyentuh atau memegang benda dan hal lainnya demi mencegah penyebaran suatu penyakit.
  • Melakukan imunisasi DPT dan beberapa imunisasi dasar lainnya pada setiap tahapan usia untuk mencegah berbagai penyakit, termasuk difteri.
  • Mengonsumsi makan kaya vitamin dan mineral agar kekebalan atau metabolisme tubuh meningkat.
  • Mengonsumsi makanan dengan kandungan asam lemak. Tidak hanya berperan dalam perkembangan otak, asam lemak juga mampu meningkatkan kekebalan tubuh. Asam lemak ini bisa didapatkan dari konsumsi produk susu, seperti susu cair atau yogurt setiap hari. 

Baca Juga

Berikan Komentar Anda