Pluit kapuk > Profil

Paula Sinthya, Guru Wajib Rendah Hati dan Melayani

Selasa, 26 Juni 2018 14:25 WIB
Editor : Muhamad Ibrahim | Reporter : Adi Wijaya

Paula Sinthya
Principal Erta Little Star School Paula Sinthya
Foto : Malik Maulana

Share this








Setiap guru harus memiliki sikap rendah hati dan melayani. Ini yang juga dimiliki Paula Sinthya.

PENJARINGAN - Berbagai macam karakter anak didik telah dihadapi Paula Sinthya sepanjang berprofesi sebagai guru. Rendah hati dan melayani menjadi prinsip di balik kesuksesannya selama ini.

Perjalanan karirnya dimulai sejak menginjakkan kaki di Santa Laurensia School pada 2004 silam. Saat itu, memang banyak yang belum diketahuinya perihal mendidik anak yang tepat. Namun perlahan, pijakannya semakin mantap hingga berpindah haluan ke BPK Penabur Jakart, Kalimantan Christian School dan Erta Little Star Preschool PIK.

Sinthya berbagi cerita kepada Infonitas.com. Menjadi seorang guru memanglah tak mudah. Butuh kerendahan hati dan gairah untuk melayani dalam mentrasfer ilmu kepada anak didik. Apalagi, jika yang dihadapinya anak seusia 2-3 tahun yang berada pada level preschool.

"Tantangan terbesar seorang guru yaitu bagaimana memelihara konsistensi kedua karakter tersebut," kata Sinthya, saat ditemui di Erta Little Star Preschool, saat ditemui di Ruko Cordoba, Blok D/27, Pantai Indah Kapuk (PIK), Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat (22/6/2018).

Bagi wanita yang kini menjabat sebagai principal Erta Little Star Preschool, kesuksesan seorang guru bukan sekadar melihat hasil output anak didik di bidang akademis semata. Melainkan bagaimana saat proses belajar mengajar itu sendiri terjadi sehingga anak bisa memiliki keinginan untuk ingin belajar dan mau diajar.

Dengan begitu, mereka tidak merasakan kebosanan lalu penasaran dan ingin terus mendalami pelajarannya walaupun waktu belajar telah usai. Apalagi, jika anak menginginkan untuk setiap hari pergi ke sekolah dengan perasaan senang dan sekolah terasa sebagai rumah kedua baginya.

"Sudah jam selesai anak-anak masih ingin belajar. Disitu saya merasa saya sukses, karena nereka masih mau belajar. Itu yang buat saya menjadi guru berati buat mereka selama mengajar," ungkapnya.

Terlebih, ilmu yang telah diajarkan justru diaplikasikan terhadap kehidupan sang anak secara nyata. Semisal, yang terjadi pada kisahnya, sang anak memahami dan akhirnya menyadari untuk melayani orang tuanya yang sedang sakit di rumah.

"Waktu itu saya mengajarkan perihal. sistem gerak pada manusia. Bahwa orang dewasa lebih lama sembuh jika mengalami patah tulang. Kebetulan ada orang tua anak yang mengalami kejadian serupa. Tak disangka anak tersebut menyadari tugasnya untuk membantu tugas orang tuanya di rumah. Padahal umur anak itu masih tergolong sangat kecil," ucapnya.

Soal pendidikan, wanita kelahiran 1974 itu tak melulu menekankan pendidikan akademis. Justru harus diimbangi pendidikan karakter anak yang bermoral tinggi. Memiliki etika dalam kehidupan agar ilmu yang dimilikinya bermanfaat dan memberkati orang lain.

"Saya pikir percuma saja anak yang memiliki nilai akademis tinggi tapi tidak memiliki karakter yang baik. Keduanya harus berimbang," paparnya.

Sinthya memimpin Erta Little Star Preschool dengan sebuah kerinduan untuk menjadikan sekolah ini tempat mendidik anak-anak dengan karakter yang diinginkan Tuhan dan menyediakan pendidikan akademis yang berkompeten dengan sebuah visi besar untuk menghasilkan pemimpin masa depan yang takut akan Tuhan dan memiliki integritas yang kuat terhadap nilai-nilai Kristiani dan  kemampuan akademik yang berkompetensi.

Erta Little Star Preschool dengan moto nya “The right start will lead a perfect leader” memiliki 4 tingkat  program: Pre-Nursery (2-3 tahun), Nursery (3-4 tahun), Kindergarten 1 (4-5 tahun) dan Kindergarten 2 (5-6 tahun). Dengan jam belajar mulai dari jam 07.30-12.00 untuk Kindergarten 1&2, jam 07.30-10.30 untuk Nursery kelas pagi dan 10.45-13.45 untuk Nursery siang, lalu kelas Pre-Nursery pagi dimulai pukul 08.00-10.00 dilanjutkan 10.30-12.30 untuk Pre-Nursery siang.

Dengan jumlah siswa maksimal 12 sampai 14 dalam setiap kelas, Erta Little Star Preschool mengembangkan  metode pembelajaran yang menyenangkan, sehingga sesungguhnya anak tidak sadar jika sesunggunya ia sedang belajar. Konsep kelas kecil dengan guru yang dapat menjangkau setiap individual anak merupakan bentuk konsentrasi sekolah ini dalam menjalankan operasional sekolahnya.

Dan yang tidak kalah pentingnya, Erta Little Star Preschool juga berkomitmen untuk dapat memberikan memori masa kecil yang indah di sekolah bagi siswanya mengingat inilah kali pertamanya mereka keluar dari rumah dan bersosialisasi, kata Sinthya.

Dijelaskan pula oleh principal Erta Little Star, bahwa siswanya tidak dibatasi oleh ruang kelas. Ada juga program belajar tematik di luar kelas dengan bentuk aktifitas yang kreatif dan menyenangkan untuk menemukan potensi siswa melalui pola berpikir kritis dengan pembentukan sikap untuk bersyukur dan bertanggung jawab secara nyata yang berkaitan dengan kehidupan anak sehari-hari.

Sinthya juga punya pengalaman pendidikan di pelosok negeri, tepatnya di Teluk Bintuni, Papua Barat. Menurutnya, problematika pendidikan pelosok salah satunya terkendala akses infrastruktur akses jalan. Sehingga, pendidikan pelosok dirasakan lambat dibandingkan pada sejumlah kota besar di Indonesia.

"Di sana saya bergabung bersama tim perencanaan untuj projek sekolah unggulan. Sistem pendidikan di pelosok bisa dilihat tidak secepat di kota besar. Hal itu terlihat dari sistem dan metode belajarnya. Apa yang diterapkan di sana, sudah saya lakukan lama sebelumnya di sini," tandasnya.

Akibat infrastruktur akses jalan yang belum terhubjng, keselamatan diri tenaga pengajar di pelosok pun beresiko tinggi. Meski nilai kesejahteraan guru tergolong relatif sama dibanding Ibu Kota, namun pemerintah sejatinya perlu menghitung kembali resiko tersebut. Sehingga banyak tenaga pendidik yang kurang tertarik mengajar di lokasi terpencil.

"Sesungguhnya aak-anak di pelosok punya semangat tinggi untuk belajar. Bayangkan saja, mereka rela melewati alam yg keras hingga berenang menyebrang peraitan hanya untuk dapat sekolah. Namun sampai sekolah apa yang terjadi ? Tidak ada tenaga guru di sana. Akhirnya mereka tertidur di kelas karena kelelahan dalam perjalanan tadi," ungkapnya.

Untuk itu, dia pun mendukung program pembangunan infrastruktur pemerintah di pelosok daerah. Dengan begitu, perkembangan pendidikan dari Kementerian Pendidikan lebih cepat diaplikasikan kepada peserta didik.

"Sebenarnya ngga ada niatan pemerintah untuk memperlambat pendidikan di pelosok. Tapi infrastruktur yang kurang memadai menyebabkan perkembangan pendidikan di sana menjadi terhambat," pungkasnya.