Pluit kapuk > Profil

Lurah Kamal Muara Tak Mengeluh Jadi Abdi Masyarakat

Kamis, 26 April 2018 14:18 WIB
Editor : Muhamad Ibrahim | Reporter : Adi Wijaya

Lurah Kamal Muara Dwi Panji Forkiantoro
Lurah Kamal Muara Dwi Panji Forkiantoro (Ist)
Foto : istimewa

Share this








Lurah Kamal Muara Dwi Pandji Forkiantoro sudah sembilan tahun bekerja sebagai abdi masyarakat.

PENJARINGAN - Jauh dari tengah kota. Itulah persepsi wilayah Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara. Wilayah berjarak puluhan kilo dari kantor Wali Kota itu pun berbatasan dengan wilayah Dadap, Tangerang, Banten dan Kelurahan Kamal, Kalideres, Jakarta Barat.

Kondisi seperti itu tak pernah dikeluhkan Dwi Pandji Forkiantoro, yang kini menjabat sebagai lurah Kamal Muara. Sembilan tahun pengabdian bekerja dijalani, meski terukur sangat jauh dari kediamannya di Kelurahan Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara.

"Saya lahir dan besar di Kampung UKA, Tugu Utara. Berdinas di Kamal Muara sejak 2009 sampai sekarang," ungkap Panji, saat ditemui di kantor Kelurahan Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (26/4/2018).

Lulusan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) 2009 itu tak ujuk-ujuk menjabat sebagai lurah. Karier awalnya kala itu hanyalah sebagai bendahara kelurahan. Lalu naik menjadi Kepala Seksi Pemerintahan hingga 2011 dan Sekertaris Lurah (Sekkel) pada 2012.

"Jadi Sekkel sampai 2016. Setelah itu diangkat menjadi lurah sampai saat ini," terangnya.

Dia mengungkapkan, tak sedikitpun berniat menempuh pendidikan di STPDN. Pasca lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), anak kedua dari pasangan Suhaeni dan Bejo Santoso itu lulus seleksi di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Fakultas Ekonomi. Faktor biaya, Panji pun memilih STPDN sebagai lanjutan pendidikannya saat itu.

"Alasannya sih karena ingin meringankan biaya orang tua jadi masuk STPDN. Kalau kuliah kan ada biaya lagi, nah kalau STPDN kan justru dibayar (digaji) saat pendidikan. Sudah Pegawai Negeri Sipil (PNS) juga," ungkapnya.

Sembilan tahun mengabdi di Kamal Muara menyebabkan dirinya mengenal betul kondisi wilayah. Menurutnya, wilayah tersebut identik dengan nelayan dan banjir. Tetapi, persoalan banjir sedang diatasi dengan pembangunan tanggul National Capital Integrated Coastal Development (NCICD).

"Wilayah ini tuh cekungan. Air dari mana-mana lari ke sini, sedangkan air laut kerap meluap. Jadi airnya ga bisa terbuang dan menyebabkan banjir di pemukiman," jelasnya.

Meski begitu, tak pernah dikeluhkannya salama berdinas di lokasi itu. Jabatan yang diembannya dipersepsikan sebagai ladang amal. Membantu pembangunan lingkungan warga, seperti pembangunan jalan.