Pluit kapuk > Laporan Utama

Menyoal Penggusuran Di Jakarta

Warga Eks Waduk Pluit Minta Anies-Sandi Tak Asal Gusur

Rabu, 11 Oktober 2017 13:19 WIB
Editor : Nurul Julaikah | Reporter : Farid Hidayat

PKL sekitar Waduk Pluit yang pernah terkena gusur Ahok
PKL sekitar Waduk Pluit yang pernah terkena gusur Ahok
Foto : Farid Hidayat

Share this








Penggusuran era Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) meninggalkan traumatik bagi warga terdampat penertiban.

PENJARINGAN – Era Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), penggusuran selalu menjadi momok menakutkan bagi warga yang tinggal di area terlarang. Seperti, bantaran kali, kolong tol, waduk dan pemukiman kumuh.

Tak hanya itu, penertiban juga kerap mengancam para  pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di pinggir jalan. Hal ini, lantaran prnggusuran merupakan bagian dalam penataan sebuah kota megapolitan.

Jika ingin tertata rapi, maka bagian-bagian kota yang tidak enak dipandang mata harus digusur, dihilangkan kemudian dibangun kembali sesuai dengan peruntukannya. Hal itu yang dirasakan seorang warga korban penggusuran Kawasan Waduk Pluit tiga tahun silam, Sri penghuni blok rusun Muara Baru.

Perempuan setengah baya itu menceritakan, rasa sedih dan marah masih menghampiri dirinya hingga sekarang. Ingatan tentang rumahnya yang berdiri puluhan tahun harus luluh lantah digempur oleh petugas dengan mesin buldoser tak pernah lekang oleh waktu.

Tetapi, diakui oleh Sri, saat tinggal di bibir Waduk Pluit, tak jarang ia bersama keluarga sering terperangkap banjir saat hujan melanda.

"Itu yang enggak akan pernah saya lupain, selain tentang penggusuran itu. Ada cerita saat rumah saya itu kebanjiran, tinggi air bisa mencapai dada orang dewasa, rumah dan perabotan ikut tenggelam,” ujarnya perempuan sudah berusia 50 tahun yang kesehariannya berjualan minuman di Waduk Pluit.

Namun, semenjak pindah ke Rusun, Sri dan keluarga merasakan hidup layak karena tidak merasakan kebanjiran lagi.

Terkait tindakan pemerintah melakukan penggusuran. Menurut Sri, merupakan hal yang wajar dalam program penataan wilayah. Sebab, siapapun pemimpin, pasti penggusuran kerap terjadi, hanya saja cara penyampaian ke warga yang berbeda.

"Ya selama ini saya lihat kalau mau menata wilayah pasti warganya digusur. Apalagi gubernur dulu dan sekarang sama saja, cuma beda cara saja, ada yang main asal gusur, ada yang sosialisasi ke warga. Kalau yang baru ini enggak tahu caranya gimana, lihat saja coba nanti gimana," terangnya.

Berbeda halnya dengan PKL yang biasa mangkal di Waduk Pluit, Ilham (38). Ia berharap pemimpin DKI Jakarta periode selanjutnya, Anies Baswedan – Sandiaga Uno (Anies-Sandi) tidak bertindak asal gusur.

"Menata boleh tapi jangan sampai bikin tambah sulit kami. Kalau dipindah tambah lebih baik lagi tidak apa-apa. Kalau memang sudah dipindahkan ya harus diperhatikan. Jangan buat lagi sengsara warga lainnya cukup sudah kami saja." ujarnya yang pernah terkena gusur di era Ahok.