Komuter > Trans Luar Kota

Pembangunan Tol BORR Dilanjut

Senin, 09 Januari 2017 15:29 WIB
Editor : Hanafie | Reporter :

Pembangunan Tol BORR Seksi IIB
Pembangunan Tol BORR Seksi IIB

Share this





Tol sepanjang 2,6 kilometer ini akan membentang di atas ruas jalan Sholeh Iskandardinata. Tepatnya dari kawasan Kedung Badak hingga Simpang Yasmin.

BOGOR - Memasuki 2017, proyek Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) dilanjutkan. Pembangunan tol layang di atas Jalan Sholeh Iskandar (Sholis) ini memasuki Seksi IIB, atau ruas Kedung Badak – Simpang Yasmin. Protek tol sepanjang 2,6 kilometer ini rencananya dikerjakan selama 17 bulan, sehingga ditarget rampung pada pertengahan 2018.

Untuk melancarkan proyek tersebut, PT. Wika Tbk dan dan PT. Marga Sarana Jabar (MSJ) selaku kontraktror dan pengelola Tol BORR menggelar rapat koordinasi (rakor), Jumat (30/12). Rakor yang digelar di Kantor PT. MSJ, Sentul Barat ini dihadiri Sekretaris Daerah Kota Bogor Ade Sarip Hidayat, Kepala DLLAJ Kota Bogor Rachmawati, staf dari beberapa dinas terkait dan BUMD Kota Bogor, serta perwakilan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. “Rakor dilaksanakan untuk lebih mematangkan rencana proyek pembangunan jalan tol BORR Seksi IIB, sekaligus untuk sosialisasi serta koordinasi dengan pihak-pihak terkait,” jelas Hendro Armodjo, Direktur utama PT. MSJ

Dalam rakor tersebut, Hendro menjelaskan bahwa jenis konstruksi Tol BORR Seksi IIB ini eleveted (jalan layang), sama dengan ruas Seksi IIA yang saat ini telah beroperasi. "Total lahan yang dibutuhkan untuk pembangunan Tol BORR Seksi IIB ini mencapai 16,74 hektar. Terdiri dari lahan milik Ditjen Bina Marga dan milik masyarakat," paparnya seraya menjelaskan bahwa untuk tahap awal, pihaknya telah melaksanakan pengukuran dan pembebasan lahan di sisi kanan dan kiri Jalan Sholis.

Menanggapi paparan Hendro, Sekretaris Daerah Kota Bogor Ade Sarip Hidayat mendukung penuh dan berharap proses pembangunan tol berjalan lancar. Pasalnya, pembangunan tol tersebut sesuai dengan program transportasi yang menjadi prioritas Pemerintah Kota Bogor. “Dengan adanya Tol BORR Seksi IIB, diharapkan kepadatan lalu-lintas di Jalan Soleh Iskandar dapat terurai. Sehingga, kemacetan yang kerap terjadi di kawasan ini dapat teratasi,” katanya.







Komuter > Trans Luar Kota

Ini Agenda Pembangunan Transportasi Jabodetabek di 2017

Selasa, 17 Januari 2017 15:15 WIB
Editor : Hanafie | Sumber : Beritadaerah.co.id

Ilustrasi-Permasalahan transportasi di Ibu Kota.
Ilustrasi-Permasalahan transportasi di Ibu Kota.

Share this





Demi memajukan transportasi khususnya di wilayah Jabodetabek, BPTJ mengangendakan sejumlah pembangunan sarana dan prasarana transportasi.

JAKARTA – Urusan transportasi di wilayah Jabodetaek makin beragam. Maka jika tidak dibarengi dengan pembangunan sarana dan prasarana yang memadai, hal ini akan menjadi masalah serius. Untungnya, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) menyadari hal tersebut. Mereka lantas mengagendakan sejumlah pembangunan transportasi tahun anggaran 2017.

Dikutip dari Beritadaerah.com, beberapa pembangunan yang diagendakan BTPJ terdiri dari  pembangunan area traffic control system (ATCS) terintegrasi, pembangunan fasilitas keselamatan untuk jalan nasional, dan pembangunan database untuk transportasi se-Jabodetabek,

“Selain pembangunan tersebut, kami juga akan menyusun beberapa konsep penyelesaian masalah lalu lintas dan angkutan, yang outputnya berupa pedoman, masterplan, atau pengawasan,” kata Elly Adriani Sinaga, Kepala BPTJ.

Konsep penyelesaian masalah yang dimaksud Elly merupakan pengembangan dari pengadaan alat komunikasi pengawasan, alat survei termasuk mobil survey, dan software evaluasi andalalin yang juga masuk dalam anggaran 2017. Sedangkan outputnya yang berupa pedoman, masterplan dan pengawasan, akan dibagi menjadi penataan permasalahan angkutan dan penataan permasalahan terminal.

“Penataan angkutan itu berupa review izin trayek dan pembenahan izin. Untuk penataan terminal mencukup pembenahan komposisi, kualitas SDM, dan pengelolaannya. Jadi bukan hanya di pembenahan di daerah lingkungan kerja (DLK) tapi juga pada daerah pengawasan,” imbuh Elly.

Khusus untuk pengelolaan terminal, lanut Elly, akan tetap dilakukan oleh daerah. Sementara untuk program pengembangan angkutan, berupa ekstensi Transjakarta atau Transjabodetabek mulai dari bus track, halte, dan detailed engineering desaign yang akan dibangun pada 2018.

 “Jabodetabek itu satu badan, komponennya terkait satu sama lain seperti tata ruangnya, termasuk tentu saja transportasinya. Masing-masing sudah melakukan pembangunannya sendiri-sendiri, fasilitas transportasi, armada, terminal, halte dan lain – lain. Hanya saja masalah integrasi selama ini belum dilakukan, untuk tujuan itulah BPTJ didirikan,” ujarnya.







Komuter > Trans Luar Kota

Siap-Siap Macet di Jakarta Selatan

Senin, 09 Januari 2017 15:13 WIB
Editor : Hanafie | Sumber : Kompas.com

Bikin Macet, Pengendara Berharap Proyek Flyover Permata Hijau Segera Rampung
Bikin Macet, Pengendara Berharap Proyek Flyover Permata Hijau Segera Rampung

Share this





Akan dibangun sejumlah simpang tak sebidang di wilayah Jakarta Selatan. Dishub Jaksel pun memperkirakan akan terjadi kemacetan akibat proyek tersebut.

JAKARTA – Di tahun 2017 ini, rencananya akan dibangun empat simpang tak sebidang di wilayah Jakarta Selatan (Jaksel). Keempatnya adalah underpass Jalan Kartini, underpass Mampang Raya, flyover (FO) Bintaro, dan FO Pancoran.

Suku Dinas Perhubungan dan Transportasi (Sudinhubtrans) Jaksel memperkirakan, akan terjadi kemacetan akibat dari pembangunan proyek tersebut. Maka itu, mereka berencana melakukan rekayasa lalu lintas agar hal tersebut bisa diminimalisir.

“Perlu banyak upaya rekayasa lalu lintas. Kemacetan tertinggi diperkirakan akan terjadi akibat dari pembangunan FO Pancoran dan underpass Mampang Raya. Soalnya, letak kedua proyek berdekatan dan masih berada di area yang sama. Terutama untuk FO Pancoran. Mungkin akan ada penutupan beberapa putar balik atau U-turn untuk bisa melancarkan arus lalin ketika pembangunan dimulai," ucap Christianto, Kasudinhubtrans Jaksel.

Mengutip Kompas.com, Christianto juga mengatakan bahwa selain penutupan titik putar balik, pihaknya juga mungkin akan untuk menutup pintu keluar tol (exit toll) Tebet. Sebab menurutnya, exit tol tersebut kini menjadi biang kemacetan di area Tebet hingga Pancoran.

Namun untuk melakukan hal ini, ia harus berkoordinasi terlebih dulu dengan PT Jasa Marga agar mendapat izin. "Perlu koordinasi dulu dengan Jasa Marga," cetusnya.







Komuter > Trans Luar Kota

Tahun Baru, Jalur Puncak Ditutup 12 Jam

Jumat, 30 Desember 2016 14:21 WIB
Editor : Hanafie | Sumber : Tribunnews.com

Ilustrasi - Penutupan Jalur Puncak
Ilustrasi - Penutupan Jalur Puncak

Share this





Pada 31 Desember 2016 sore hingga 1 Januari 2017 pagi, Jalur Puncak, Bogor ditutup untuk kendaraan.

BOGOR – Selain cuaca yang bakal diprediksi hujan, ada satu alasan lain yang mungkin akan membuat kaum commuter harus berpikir ulang jika ingin liburan tahun baru ke Bogor, khususnya kawasan Puncak. Alasan tersebut adalah penutupan Jalur Puncak dari kendaraan bermotor.

Dikutip dari Tribunnews.com, PT Jasa Marga (persero) menginformasikan bahwa Polres Bogor akan melaksanakan rekayasa lalu-lintas di jalur Puncak pada saat malam tahun baru 2017. Rekayasa tersebut berupa penutupan arus yang akan berlangsung selama 12 jam. Yakni dari Sabtu (31/12) sore pukul 18.00 WIB, hingga Minggu (1/1) pagi pukul 06.00 WIB.

Dengan penutupan ini, wisatawan dari arah Jakarta yang akan menuju Cianjur atau bandung tidak bisa lewat Jalur Puncak. Begitu juga sebaliknya, wisatawan dari arah Bandung atau Cianjur yang akan pergi ke Bogor atau Jakarta tidak bisa melewati jalur tersebut selama 12 jam momen pergantian tahun.

 diberlakukan menuju arah Puncak/Cianjur.

Pengendara akan dialihkan melalui Sukabumi mulai Sabtu 31 Desember 2016 pukul 18.00 hingga Minggu 1 Januari 2017 pukul 06.00 WIB.

"Selama penutupan berlangsung pengguna jalan tol yang akan ke Puncak selepas Gerbang Tol Ciawi agar mengambil arah Sukabumi," ujar AVP PT Jasa Marga Dwimawan Heru, Jumat (30/12/2016).

Jasa Marga bekerjasama penuh membantu pelaksanaan pengalihan arus lalu lintas dengan menyiapkan personel, rambu dan peralatan untuk pelaksanaan pengalihan lalu lintas. "Kami juga melakukan sosialisasi rencana penutupan ini melalui spanduk, sms, dan pemberitahuan di gerbang tol," kata Heru.







Komuter > Trans Luar Kota

Apa Kabar Taksi Konvensional?

Rabu, 28 Desember 2016 10:43 WIB
Editor : Hanafie | Sumber : Liputan6.com

Pelajar Rampok Taksi Express
Pelajar Rampok Taksi Express

Share this





Beredar kabar, bisnis taksi konvensional anjlok lantaran tergerus oleh kehadiran taksi berbasis aplikasi atau taksi online.

JAKARTA – Setahun belakangan, geliat taksi berbasis aplikasi atau taksi online begitu dinamis. Bahkan kabarnya, eksistensi taksi online telah menggerus bisnis taksi konvensional yang sudah ada sebelumnya. Tapi, bagaimanakah kondisi sebenarnya?

Mengutip Liputan6.com,  Kementerian Perhubungan (Kemenhub)‎ belum menerima laporan terkait anjloknya bisnis angkutan darat, khususnya taksi di sepanjang 2016. Anjloknya bisnis ini disebut berkaitan dengan semakin menjamurnya model transportasi berbasis online.

"Belum ada keluhan yang disampaikan ke saya," ujar Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Pudji Hartanto, ‎kemarin.

Namun demikian, lanjut Pudji, pihaknya akan berkoordinasi dengan Organisasi Angkutan Darat (Organda) untuk memastikan kondisi yang sebenarnya terjadi pada bisnis angkutan darat. "Nanti saya komunikasikan dengan Organda," imbuh dia.

Sebelumnya, Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Shafruhan Sinungan mengeluhkan ambruknya bisnis angkutan darat pada tahun ini.

Dia mengatakan, hal ini terutama terjadi pada moda transportasi seperti taksi, bajaj (angkutan lingkungan), dan mikrolet. Untuk taksi bahkan mengalami penurunan omzet hingga 50 persen di tahun ini.

"Bisnis transportasi darat di 2016 secara umum ambruk 60 persen, khususnya untuk beberapa sektor seperti taksi, angling (angkutan lingkungan), dan mikrolet. Taksi turun 40-50 persen‎, mikrolet 30 persen," ungkap dia.

Akibatnya, ucap Shafruhan, hingga saat ini sudah ada dua operator taksi yang tutup. Hal tersebut lantaran tidak mampu bersaing dengan transportasi berbasis online yang kian menjamur.

"Ada juga yang kendaraannya yang tinggal 10 persen beroperasi, ada yang 20 persen beroperasi. Tergantung perusahaannya," kata dia.