Komuter > MRT

Harga Pembebasan Lahan di Fatmawati Belum Temui Kesepakatan

Sabtu, 18 Maret 2017 20:23 WIB
Editor : Waritsa Asri | Reporter : M Nashrudin Albaany

Proyek pembangunan MRT di Jalan Fatmawati
Proyek pembangunan MRT di Jalan Fatmawati
Foto : istimewa

Share this





Harga pembebasan lahan yang terkena imbas proyek pembangunan MRT rute Lebak Bulus-Bundaran HI masih belum temui kesepakatan karena terlalu rendah.

CIPETE - Proyek pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) rute Lebak Bulus-Bundaran HI hingga kini masih terkendala. Salah satu penyebabnya adalah soal pembebasan lahan di sekitar Jalan Raya Fatmawati, Kebayoran Baru yang belum rampung.

Heri Yantomo (60), salah seorang pemilik toko marmer di kawasan tersebut membenarkan bahwa sampai saat ini masih belum ada titik temu terkait harga ganti rugi lahan. Dia menyebut, harga yang ditawarkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta masih di bawah harga pasaran.

"Harga pasaran tanah di Jalan Fatmawati ini sekitar Rp50 sampai Rp60 juta per meter persegi. Sementara Pemprov DKI hanya menawarkan Rp33 juta per meter persegi, itu terlalu rendah," katanya di Kelurahan Cipete Selatan, Selasa (18/3/2017).

Baca juga : Satpol PP Depok akan Tertibkan Bangunan Liar di Jalur Pipa Gas

Selain itu, Heri menilai pihak Pemprov DKI terlalu jauh mengambil lahannya untuk pembangunan. Sebab, lahan miliknya yang diambil oleh Pemprov seluas 10 meter persegi. 

"Ya, jelas itu terlalu jauh. Nanti parkiran saya habis, usaha saya bisa tidak jalan," keluhnya.

Maka itu, dirinya pun lantas mematok harga sebesar Rp150 juta per meter persegi untuk harga tokonya. Menurutnya, harga itu termasuk pantas didapatnya. 

"Karena harga itu sesuai dengan appraisal untuk menutupi kerugian. Selain itu, appraisal haruslah dibayar sebesar tiga atau empat kali lipat dari harga pasar," tuturnya.

Dia berharap Pemprov DKI dapat melakukan dialog dengan para pengusaha yang ada di Jalan Raya Fatmawati untuk mencari jalan keluar bersama, "Jangan main langsung patok saja. Kalau kami diajak bermusyawarah, kami mau kok," pungkasnya.