Kelapa Gading > Usaha

HIMKI Menolak Pemberlakuan Ekspor Kayu Log dan Bahan Baku Rotan

Rabu, 14 Maret 2018 14:51 WIB
Editor : Wahyu AH | Reporter : R Maulana Yusuf

Sekretaris Jenderal HIMKI, Abdul Sobur
Sekretaris Jenderal HIMKI, Abdul Sobur
Foto : R Maulana Yusuf

Share this








Pemberlakuan ekspor kayu log dan bahan baku rotan memang masih wacana. HIMKI menolak tegas karena dapat mematikan para pelaku industri dalam negeri.

KEMAYORAN - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) kembali menegaskan sikap penolakan terkait wacana pembukaan keran ekspor kayu log dan bahan baku rotan.

Menurut Sekretaris Jenderal HIMKI, Abdul Sobur, apabila hal ini dibiarkan maka bahan baku kayu dan rotan Indonesia bisa habis tanpa bisa dinikmati oleh para pelaku industri furnitur dan kerajinan lokal. Pihak yang paling diuntungkan dari ekpor bahan baku ini adalah pelaku industri di luar negeri yang bisa mendapatkan bahan mentah dengan harga murah lalu menjualnya dengan harga tinggi.

“Industri furnitur dan kerajinan kita masih dalam tahap recovery. Adanya wacana ekspor bahan mentah ini bisa membuat industri kita berantakan. Oleh karena itu, HIMKI menolak tegas wacana membuka kembali ekspor log dan bahan baku rotan,” tegas Sekretaris Jenderal HIMKI, Abdul Sobur Rabu(14/3/2018).

Menurut dia, Kelangkaan bahan baku di industri furnitur dan kerajinan pernah terjadi karena kebijakan ekspor masa lalu. Akibatnya, para pengusaha industri rotan di Jepara, Banten, Lampung, Palembang, sentra industri rotan di Surabaya, dan beberapa sentra industri mebel lain kesulitan memperoleh bahan baku.

Bahkan, kebijakan tersebut telah menghapus Trangsan, Sukoharjo, Jawa Tengah, dari peta sentra industri mebel dan kerajinan rotan nasional.

Itu sebabnya, kebijakan pembukaan keran ekspor log dan bahan baku rotan, menurut Sobur, hanya akan menguntungkan negara-negara importir yang telah lama menunggu kebijakan itu untuk memenuhi pasokan bahan baku industri mereka. "Hal inilah yang membuat Tiongkok dan Vietnam mampu tampil lebih dominan dan bisa menjual produk barang jadi rotan dengan harga yang lebih murah, karena juga mendapatkan bahan mentah tersebut dari Indonesia dengan harga murah," tandasnya.

 

 

Berita Terkait