Kelapa Gading > Profil

Lady Giska, Sesuai Passion

Rabu, 07 Desember 2016 13:16 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Oktaviani

Lady Giska
Lady Giska

Share this





“Butuh kerja keras dan usaha yang maksimal.”

Info Eksekutif - Lady Giska Noviyani, pemilik LG Dental Care, tak pernah menyangka akan menjadi dokter gigi, padahal sewaktu duduk di sekolah menengah atas ingin menggeluti dunia desain interior. Memilih karier sebagai dokter gigi, karena tertarik pada saat melakukan pemeriksaan. Hal itu membuatnya memutuskan mengambil kedokteran ketika kuliah.

“Waktu itu sakit gigi dan periksa ke dokter. Lalu iseng menanyakan suka dukanya menjadi dokter gigi dan melihat alat-alatnya. Menjadi interes dengan bidang itu,” jelasnya.

Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti pada 2010, Lady sempat bekerja di beberapa klinik. Kemudian pada pada 2015, ia memutuskan untuk membuka LG Dental Care.

“Saat masih kerja sudah nyicil membeli alat-alat. Dari awal berkeinginan membuka klinik sendiri. Memang tidak mudah. Butuh kerja keras dan usaha yang maksimal. Bersyukur akhirnya bisa mendirikan LG Dental Care. Sampai saat ini masih beroperasi,” ungkap penyuka berenang dan menyanyi ini.

Kelahiran Cianjur, Jawa Barat pada November 1986 ini merasa karier sebagai dokter gigi dan membuka klinik seperti menemukan passion. “Saya senang membuat gigi pasien menjadi bagus dan cantik. Seperti ada kepuasan tersendiri. Apalagi jika pasien puas dengan hasil kerja saya,” pungkasnya.

Kelapa Gading > Profil

Mahatma Gading School, Kembangkan Kreativitas Murid

Selasa, 06 Desember 2016 15:34 WIB
Editor : Andi MZ | Reporter : Oktaviani

Mahatma Gading School
Mahatma Gading School

Share this





Fun Fair sebagai wadah efektif untuk menumbuhkan dan memupuk kreativitas. Diselenggarakan setiap tahun, mengusung tema berbeda dengan mengandung filosofi.

Dunia Sekolah - Proses pembelajaran bisa dilakukan baik di dalam ataupun di luar sekolah. Secara psikologi, dengan lokasi yang bervariasi proses menuntut ilmu akan lebih cepat dicerna. Bisa juga menjadikan siswa-siswi aktif berperan dalam kegiatan pendidikan. Sehingga membantu memahami pentingnya nilai-nilai kehidupan, seperti peduli dengan lingkungan dan sesama.

Berdasarkan pemikiran itu, Mahatma Gading School mengadakan Fun Fair sebagai wadah efektif untuk menumbuhkan dan memupuk kreativitas peserta didik pada Sabtu (8/10). “Kegiatan Fun Fair kali ini adalah yang ke-12 dengan tema Les Fleurs. Diambil dari bahasa Perancis yang berarti bunga,” ujar Eva Christine Lusia, Secretary of Mahatma Gading School.

Dia menambahkan, kegiatan Fun Fair diselenggarakan setiap tahun, mengusung tema berbeda dengan mengandung filosofi. “Diibaratkan seperti bunga, kalau dipupuk, disiram dan dirawat maka akan tumbuh dengan baik. Harapan kami adalah mempunyai guru yang berkualitas, lingkungan kondusif, anak-anak bisa tumbuh dan berkembang menjadi bunga yang cantik untuk diri sendiri, orang tua, orang lain, serta bangsa,” tegasnya.

Kegiatan Fun Fair meliputi games, perlombaan, bazar, talent show, hingga penerimaan siswa-siswi baru. “Peserta yang ikut mulai dari umur 3-16 tahun. Untuk tingkat TK diadakan lomba fashion show, tingkat sekolah dasar lomba doodle (mewarnai), tingkat menengah pertama lomba solo vokal dan desain poster, sedangkan tingkat menengah atas lomba SMA doodle,” jelasnya.

Dia berharap, seluruh anak-anak di Indonesia, khususnya peserta didik di Mahatma Gading School, dapat menjadi orang yang hebat dan andal dalam menghadapi tantangan dunia. Termasuk menjadi pribadi yang baik dan berakhlak mulia.

Kelapa Gading > Profil

Toni Hariyanto, Dosen Animasi SSR

Selasa, 06 Desember 2016 15:23 WIB
Editor : Andi MZ | Reporter : Handrian

Toni Hariyanto
Toni Hariyanto

Share this





Info Karier - Toni Haryanto, dosen animasi SSR, berkecimpung dengan dunia drawing bukan karena cita-cita. Saat kecil orangtuanya melarang dan selalu marah ketika ia menggambar. Bahkan dibilang tak ada masa depannya. Akan tetapi tak menyurutkan niatnya, bahkan mengantarnya berkarier di beberapa perusahaan advertising dan BUMN. Setelah pensiun pada 2007, sambil bermain motor trail, mulai serius menggambar. Teman-teman komunitas di motor trail mengapresiasi dan membuatkan akun di media sosial agar bisa dinikmati banyak orang.

Saat pertama kali mendapat penghargaan dia diajak teman membuat sekolah menggambar. Saat itu kariernya mulai meningkat. Ia juga menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi termasuk di SSR, dan sekolah internasional hasil kerja sama Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi dengan Kementerian Luar Negeri. Dia juga dikenal sebagai pelukis aliran realisme dengan julukan Toni Hariyanto Style. “Saya ingin mencetak ilustrator yang berkualitas dunia. Sehingga Indonesia tidak dipandang sebelah mata dalam bidang ilustrasi,” tutup kelahiran Madiun, 1 Oktober 1957 ini.

Kelapa Gading > Profil

Agus Triyono, Principal JAC School

Selasa, 06 Desember 2016 14:20 WIB
Editor : Andi MZ | Reporter : Oktaviani

Agus Triyono
Agus Triyono

Share this





Info Karier - Agus Triyono, Principal JAC School, mengawali karier di dunia pendidikan sebagai guru pendamping untuk anak berkebutuhan khusus di salah satu sekolah internasional di Jakarta Selatan. Berkat kesabaran, ketekunan, dan kecerdasan, ia mulai merasakan naik status jadi guru tetap. Pada 2007, dia memutuskan untuk hijrah ke JAC School, karena berbagai alasan mendasar. “Awal masuk ke JAC School sebagai guru sampai 2013. Lalu menjabat wakil kepala sekolah sampai 2014, tak lama kemudian naik menjadi kepala sekolah (principal),” ungkapnya.

Penyuka badminton ini merasakan masa transisi yang tak mudah dari guru menjadi principal. Akan tetapi, pemilik moto hidup I do my best and God will do the rest ini menjalani dengan tekun dan kerja keras. “Saya berusaha semaksimal mungkin dalam berbagai hal. Selalu melakukan yang terbaik. Hasilnya saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa,” pungkasnya.

Kelapa Gading > Profil

Aloysia Sekar, Kolektor Teacup

Rabu, 09 November 2016 13:44 WIB
Editor : Andi MZ | Reporter : Oktaviani

Aloysia Sekar
Aloysia Sekar

Share this





Hobi - Aloysia Sekar ketika masih gadis merupakan penyuka travelling, sekaligus mempelajari berbagai hal. Di samping itu, dia juga suka membaca buku. Kerap kali buku yang dibeli dan sudah selesai dibaca, diberikan kepada orang lain. Suatu saat, ia membaca buku Shopistication karya Desire Sitompul, istri seorang pengacara. Dari tulisan-tulisan di dalamnya, mata Aloysia terbuka tentang teacup.

Dia tertarik, karena teacup merupakan suatu kesatuan, ada piring dan cangkirnya (souser dan cup). Jika dipisah maka tak jadi teacup lagi. “Saya baca bukunya. Saya pelajari tentang teacup. Kemudian setelah menikah, ibu mertua saya suka sekali menyimpan teacup, bukan hobi, suka beli dari zaman dulu,” tuturnya.

Keinginan mengoleksi teacup seolah mendapatkan kemudahan. Ia menemukan teacup di gudang rumah, tertutup kardus-kardus. Penemuan itu seolah membangkitkan rasa cinta terhadap teacup, ada kecocokan seperti jodoh. “Itu teacup kalau dijual kepada hunter harganya mahal sekali, karena porselinya asli. Usia barang itu sudah puluhan tahun,” ujarnya.

Setelah penemuan itu, dia hunting ke Surakarta, Jawa Tengah, sekaligus berkunjung ke tempat saudara. Di sana menemukan teacup peninggalan neneknya yang dibeli sewaktu muda. Usia teacup itu kira-kira sudah 50 tahun. Obsesi memiliki teacup semakin jadi, ia melanjutkan pencarian ke berbagai tempat, termasuk membeli di toko-toko.

Dalam perburuan teacup, dia merasa mendapatkan dukungan dari alam. Kerap kali kejadian serba kebetulan dan tak terkira. “Selalu nemu orang orang yang masih menyimpan, tetapi bukan kolektor. Jadi mereka mau melepas dengan harga Rp 1 juta. Kalau kolektor pasti mahal,” jelasnya.

Pernah suatu kali, Aloysia mendapatkan teacup merek Konvenhead dari Belanda secara gratis. Pemilik barang itu tak mengerti tentang teacup.  Seiring waktu berjalan, ia semakin makin cinta dengan teacup apalagi suka minum kopi dan teh. “Kalau minum teh dengan teacup berasa seperti Ratu Inggris. Menjaga teacup susah, nyucinya pakai lotion. Saya melakukan perawatn sendiri. Koleksi di rumah sekitar 30 unit,” pungkasnya.

Kelapa Gading > Profil

Mariana Rahayu, Jujur dan Kerja Keras

Selasa, 08 November 2016 14:24 WIB
Editor : | Reporter : Oktaviani

Mariana Rahayu
Mariana Rahayu

Share this





“Do Better than The Best .”

Info Eksekutif - Mariana Rahayu, Head of Sales & MICE Department Sunlake Hotel, memiliki prinsip dalam hidup harus jujur dan bekerja keras. Bagi dia, sepintar apapun orang tanpa kedua hal itu, maka tidak akan memberikan hasil terbaik. “Jika waktunya bekerja, ya, bekerja dengan maksimal. Memanfaatkan waktu bekerja sebaik mungkin,” ujarnya.

Sejak bergabung di Sunlake Hotel pada Maret 2014, ia terobsesi untuk terus mengembangkan dan memajukan perusahaan. “Ingin selalu memberikan kontribusi yang terbaik agar perusahaan tidak menyesal mempekerjakan saya. Di Sunlake saya di tempa bersama Sales & MICE team untuk tidak berdiam diri, tetapi aktif menjemput enquiry dalam menghadapi persaingan dunia perhotelan yang semakin ketat . Besar harapan management yang di titipkan kepada Sales & MICE Team agar ke depannya Sunlake Hotel dapat menjadi salah satu destinasi Hotel pilihan di Jakarta Utara," ungkapnya.

Kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah, 26 September 1975 ini memulai karier pada 1993 sebagai karyawati  di salah satu perusahaan multinasional Jepang. Lalu pada 2000 hingga 2014, ia bekerja di perusahaan jasa keuangan sebagai Head of Sales sambil menyelesaikan kuliah di salah satu Sekolah Tinggi Ekonomi di Jakarta. Ada perbedaan yang dirasakan ketika bekerja di perhotelan. “Di jasa keuangan saya di tuntut untuk tegas dan pasti, di dunia perhotelan saya harus mengutamakan Service Excelent. Pelayanan harus humble dan friendly serta mengutamakan kebutuhan dan kepuasan tamu,” tuturnya.

Berkat prinsif jujur dan kerja keras, kariernya berkembang. Dia percaya bahwa hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. “Kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas adalah kuncinya. Tidak boleh putus asa jika gagal. Jadikan hal itu sebagai pelajaran berharga,” pungkas penyuka membaca buku ini.

Kelapa Gading > Profil

Keluarga Jacob dan Theresia, Segalanya untuk Anak

Selasa, 08 November 2016 14:16 WIB
Editor : Wahyu AH | Reporter : Oktaviani

Keluarga Jacob dan Theresia
Keluarga Jacob dan Theresia

Share this





Bagi Jacob dan Theresia anak merupakan anugerah terindah. Anak-anak menjadi kekuatan sekaligus kelemahan dalam mengarungi kehidupan.

Cerita Sampul - Jacob Tan dan Theresia menikah pada 10 Oktober 2010. Hingga sekarang, pasangan muda ini telah dikaruniai dua anak perempuan. Putri pertama diberi nama Juliette Tan, lahir pada 2012. Adapun yang kedua bernama Jolene Tan, lahir pada 2015.

Theresia dan suami merasakan banyak perbedaan semenjak memiliki buah hati. “Perbedaannya sangat besar. Saat masih single melihat segala sesuatu tentang diri sendiri. Setelah memiliki anak, segalanya berubah, menjadi tentang anak-anak. Mereka seperti malaikat kecil yang selalu mengingatkan kami untuk hidup lebih baik lagi,” ujarnya.

Dalam mengasuh anak, ia menggunakan jasa baby sitter. Kendati demikian perhatian kepada dua putrinya tak bekurang. Menurutnya baby sitter hanya untuk membantu bukan menggantikan peran orangtua.

“Karena cukup sibuk dengan kegiatan Juliette, jadi saya menggunakan nanny untuk membantu mengurus si kecil. Tetapi saya dan suami tetap memantau perkembangan anak-anak. Kami selalu menyempatkan family time bersama. Paling tidak di akhir pekan,” ungkapnya.

Selayaknya orangtua yang lain, bagi Jacob dan Theresia anak merupakan anugerah terindah.  Anak-anak menjadi kekuatan sekaligus kelemahan dalam mengarungi kehidupan.

“Kami sadar, kuasa Tuhan sangat besar dalam hidup kami. Anak-anak membuat kami lebih berani dan bijaksana dalam melihat dunia. Saya selalu bilang ke mereka, how you want to be like and love is depends on yourself, on how you treat people around you. Suami adalah partner terbaik yang pernah saya miliki,” tutupnya.

Kelapa Gading > Profil

Dadang Pramono, Asisten Principal Montesori Gading Permata School

Selasa, 08 November 2016 13:57 WIB
Editor : Wahyu AH | Reporter : Oktaviani

Dadang Pramono
Dadang Pramono

Share this





Info Karier - Dadang Pramono, Asisten Principal Montesori Gading Permata School (MGPS), mengawali karier sebagai dokumen manajemen center di Bank Cimb Niaga pada 2010. Ia memutuskan berkecimpung di dunia pendidikan bergabung dengan MGPS pada 2011. Selama lima tahun di dunia pendidikan, dia menduduki berbagai jabatan, seperti staf keuangan, staf marketing, marketing dan event, serta parent relations. Berkat kinerja bagus, pada 2015 diangkat menjadi asisten principal. “Saya meng-cover MGPS PIK dan Kelapa Gading. Tugasnya mengatur event dan lebih ke internal office sama guru. Menerima keluhan orangtua murid, mengatur office dari semua departemen,” ungkapnya.

Dunia pendidikan telah mengubah pribadinya, dari pendiam, kini lebih percaya diri dan berani bicara. “Saya suka anak-anak. Bagi saya pendidikan berbeda dengan perusahaan. Mengajarkan anak-anak supaya jadi lebih baik kedepan,” ungkap kelahiran Depok, 24 tahun lalu ini.

Kelapa Gading > Profil

Nalita Gunawan, Kepala Sekolah Raising Stars Institute

Senin, 10 Oktober 2016 15:30 WIB
Editor : | Reporter : Oktaviani

Nalita Gunawan
Nalita Gunawan

Share this





Info Karier - Nalita Gunawan memiliki cita-cita menjadi guru sejak masih duduk di sekolah menengah pertama. Pada 1991 dia memutuskan untuk kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Bahasa Inggris Universitas Atmajaya. Faktor ekonomi keluarga menghentikan aktivitas kuliahnya. Ia memutuskan untuk mengajar di beberapa tempat kursus, seperti Kidz Campus dan Holy Angel untuk membayar biaya kuliah. Setelah lulus, dia menjabat sebagai kepala sekolah di TK Holy Angel, dan guru di Sekolah Dasar Kristen Tunas Bangsa Sunter. Pada 2006 bergabung dengan Raising Stars Institute sebagai guru. Satu tahun berselang diangkat menjadi kepala sekolah.

Bagi pemilik moto “Dimanapun berada jadi terang dan garam” ini mengajar memberikan kesenangan dan tantangan. Saat  mengajar anak, menjadi bisa memberikan kepuasaan. “Guru memiliki potensi besar untuk masa depan anak. Guru bisa menciptakan karakter anak. Guru harus menjadi kawan, teladan dan idola serta harus bisa membimbing agar anak-anak bisa belajar maksimal.”

Kelapa Gading > Profil

Danny Septriadi, Selalu Komitmen

Jumat, 07 Oktober 2016 15:46 WIB
Editor : Admin | Reporter : Oktaviani

Danny Septriadi
Danny Septriadi

Share this





“Selalu memberikan yang terbaik kepada semua stakeholders (pemangku kepentingan).”

Info Eksekutif - Danny Septriadi, salah satu founder Danny Darussalam Tax Center (DDTC), lahir di Jakarta pada 1971. Pria yang akrab disapa Danny ini memiliki passion bidang perpajakan sejak masih sekolah. “Senang dengan dunia pajak. Lalu meneruskan kuliah di bidang ini,” katanya.

Setelah menyelesaikan program magister kebijakan dan administrasi pajak di Universitas Indonesia (UI), Danny memutuskan melanjutkan menimba ilmu perpajakan di Vienna, Austria. “Di sana belajar hukum pajak internasional. Saya belajar mengenai hukum pajak dari negara lain. Oleh karena itu, mempelajari pajak bukan hanya aturan domestik saja, tetapi juga menguasai prinsip-prinsip pajak yang telah diakui oleh dunia internasional,” tuturnya.

Pada Agustus 2007, bersama dengan dosennya di UI, Darussalam, mendirikan DDTC. Pada awal berdiri menempati ruko satu lantai, dibantu dua karyawan. “Tantangannya saat itu adalah bagaimana membuat DDTC dikenal orang. Kantor di ruko dan staf pun masih minim. Kami harus membangun reputasi sebaik mungkin agar bisa menjaring klien,” ungkapnya.

Dan pada Agustus 2016, tepat 9 tahun sejak berdiri, DDTC menempati ruangan seluas 1.000M2 yang terletak di Menara Satu Kelapa Gading dengan jumlah karyawan mencapai 50 orang.

Dalam menjalankan profesi sebagai akademisi dan praktisi pajak, ia memiliki tujuan. Bisa membantu masyarakat memahami pajak dengan benar untuk menghindari risiko denda pajak di kemudian hari, dengan menyediakan fasilitas ruangan training yang modern, perpustakaan terlengkap di Indonesia, serta mempublikasikan DDTC News. Yang dia kejar tak hanya keuntungan secara finansial, tetapi memberikan hasil terbaik kepada seluruh stakeholders (pemangku kepentingan).

“Bagi kami mampu menyelesaikan masalah pajak yang dihadapi pengguna jasa adalah prioritas utama. Selain itu, team work juga faktor yang penting. Kami bahkan menyekolahkan karyawan khusus untuk belajar pajak hingga ke luar negri, full scholarship,” tutupnya.

Kelapa Gading > Profil

Lenni Apriyanti, Senang Belajar

Selasa, 27 September 2016 13:35 WIB
Editor : Admin | Reporter : Oktaviani

Lenni Apriyanti
Lenni Apriyanti

Share this





Info Eksekutif - Lenni Apriyanti, Director of Sales & Marketing Hotel Grand Whiz Kelapa Gading, awalnya tak pernah terlintas di dalam benaknya untuk bergelut di dunia perhotelan. Saat kecil ia bercita-cita menjadi suster. Akan tetapi, dia tak meneruskan pendidikan ke bidang keperawatan, justru memilih jurusan sekretaris dan bahasa Inggris.

Lenni lulus kuliah pada 1995, dan bekerja sebagai sekretaris di perusahaan agrobisnis selama satu tahun. Pada 1996, ia mulai masuk dunia perhotelan sebagai telemarketing. Setelah itu menjadi sales marketing, senior sales marketing, asistant director of sales dan director of  Sales. Di dunia perhotelan, kelahiran Jakarta pda 4 April 1973 ini berpengalaman sekitar 15 tahun.

Sebelum bergabung dengan Hotel Grand Whiz, ia pernah bekerja di beberapa hotel ternama, seperti President Hotel, kini berganti nama menjadi Nikko Hotel, Ciputra Hotel, dan Akasia Hotel.

“Bergabung di Grand Whiz sejak Mei 2014. Saya sangat menikmati pekerjaan ini. Saya menjadikan pengalaman yang terdahulu sebagai pembelajaran untuk lebih baik lagi. Bagi saya, pengalaman adalah guru yang terbaik,” tutur penyuka hiking ini.

Ia termasuk orang yang haus pengetahuan. “Saya memang senang belajar, mencoba hal-hal baru untuk menambah pengetahuan dan wawasan. Pengetahuan itu penting untuk karier kedepannya. Bahkan saya sempat belajar public relation selama setahun,” ungkapnya.