Minggu, 13 Mei 2018 12:58:00
Editor : Wahyu AH | Reporter : Wahyu
Murid Tidak Bisa Matematika Dibilang Bodoh
Center Mental Arithmatic

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: ver2/pagedetail.php

Line Number: 3859

Foto :
 

JAKARTA - Meski pintar di mata pelajaran lain, siswa yang tidak menguasai matematika sering dianggap bodoh. Kalimat ini mungkin sering terlontar dan telah menjadi paradigma masyarakat Indonesia. Padahal, mereka menyadari pertumbuhan bakat dan minat anak belum tentu sama. Lalu, mengapa timbul paradigma itu?

Menurut Founder Sinotif Hindra Gunawan, masyarakat Indonesia terlebih para orangtua masih menganut pemikiran tradisional. Mereka menganggap matematika adalah ilmu universal yang mendasari perkembangan ilmu pengetahuan teknologi modern.

Siswa yang pandai matematika lebih mudah untuk menguasai ilmu-ilmu lainnya. Pada akhirnya, kecerdasan anak hanya diukur dari kemampuannya menghafal rumus dan angka-angka.

Sedikit banyaknya hal itu memang benar. Namun, para orang tua kerap mendramatisasi pemikiran itu. Menilai anak dari satu jenis kecerdasan saja tidaklah adil.  Malah, dapat mengakibatkan dampak negatif terhadap anak. Anak akan merasa takut dan terbebani dengan label bodoh ketika menghadapi pelajaran matematika.

“Tentu, bila tertanam sugesti seperti itu, sampai kapanpun anak tidak akan menguasai matematika dan lebih memilih menghindarinya,” ucapnya.

Dia menilai, bila orangtua menginginkan anaknya menguasai matematika, jauhkan sugesti-sugesti tersebut. Lalu, latih mereka secara berkala. Pun begitu, teknik mengajarnya pun harus tepat.

Kondisi saat ini, kata dia, pembelajaran matematika di sekolah lebih sering membahas mengenai teori dan rumus. Kemudian, siswa diberikan contoh soal dan latihan. Akibatnya, matematika menjadi hal yang rumit dan siswa hanya dapat membayangkannya. 

”Jika materi yang sedang dibahas pernah dialami oleh siswa, mungkin mereka akan paham. Bila tidak,  pembelajaran pun akan siasia karena pesan yang ingin disampaikan guru tidak berjalan efektif. Mereka sudah pusing dengan beragam rumus,” ungkapnya.

Sebab itu, pembelajaran matematika membutuhkan cara pendekatan realistik. Sebab, ilmu eksakta merupakan ilmu yang membutuhkan praktek dan latihan rutin. Siswa harus diajak aktif untuk berdiskusi dalam memecahkan soal. Melalui cara ini, siswa akan terlatih menggunakan penalarannya dan berani mengungkapkan pola pikirnya. Siswa pun lebih termotivasi.  

Bukan tidak mungkin, cara tersebut akan melahirkan konsep-konsep baru. Lambat laun,  matematika akan menjadi pelajaran yang menyenangkan.”Bila ini diterapkan, saya yakin tidak ada anak yang bodoh. Stigma bahwa matematika itu susah, akan terkikis,” katanya.

Herry Santoso, pemilik Smart Education Sunter berpikiran sama. Mengapa matematika selalu menjadi momok menakutkan bagi siswa? Penyebabnya tak lain karena sistem pendidikan Indonesia masih menerapkan budaya menghafal. Pembelajaran cenderung text book oriented dan kurang terkait dengan kehidupan sehari-hari.  Siswa lebih dipandang sebagai objek, bukan sebagai subjek pendidikan.

Akibatnya, para peserta didik tidak mampu mandiri dan tidak mampu berkreasi dalam menghasilkan ide-ide yang inovatif,  karena sistem pembelajaran hanya berjalan satu arah.

Berdasar itu, pengembangan keilmuan berdasarkan peristiwa atau pengalaman menurutnya lebih efektif digunakan dalam proses belajar mengajar. Seperti perkataan ilmuwan dunia Einstein, “Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan memiliki batas untuk kita ketahui dan kita mengerti. Akan tetapi imajinasi dapat mencakup seluruh dunia. Dari hal itu kita akan menjadi tahu dan mengerti”.

“Artinya, sistem mengajar harus pula menekankan pada kreativitas siswa. Agar daya nalar mereka lebih terpacu untuk menghasilkan konsep-konsep baru,” kata Herry.

Baca Juga

Berikan Komentar Anda