Kelapa Gading > Laporan Utama

Tarif Parkir di Kelapa Gading Menggila

Minggu, 10 Desember 2017 16:15 WIB
Editor : Nurul Julaikah | Reporter : Adi Wijaya

Parkir on the street di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara
Parkir on the street di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara
Foto : Adi Wijaya

Share this








Kini, pengenaan tarif parkir on the street di Kelapa Gading, Jakarta Utara tidak menggunakan Terminal Parkir Elektronik (TPE) tetapi kembali manual.

KELAPA GADING - Tarif parkir 'on the street' di Jalan Boulevard Raya, Kelapa Gading, Jakarta Utara menggila. Para juru parkir yang sebelumnya menggunakan sistem Terminal Parkir Elektronik (TPE), kini kembali mematok tarif parkir sesuai keinginannya.

Penelusuran infonitas.com, sepeda motor yang terparkir di ruas jalan itu dipatok garis seharga Rp 4 ribu untuk durasi pendek, dan Rp 5 ribu - 7 ribu untuk durasi panjang. Padahal saat sistem TPE digunakan, tarif sepeda motor hanya seharga Rp 2 ribu per jam.

Pengendara sepeda motor Harko (31) mengatakan, tarif parkir saat ini seperti sebelum adanya sistem TPE. Para juru parkir mematok tarif tak sesuai regulasi yang berlaku.

"Sekarang ngga pakai mesin parkir. Uang parkir langsung diminta Jukir," ungkap Harko saat ditemui di Jalan Boulevard Raya, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Minggu (10/12/2017).

Sementara itu, seorang juru parkir berdalih alasannya tak lagi menggunakan sistem TPE lantaran penghasilannya menurun. Selama menggunakan TPE, penghasilannya bisa mencapai Rp 4,5 juta per bulan. Sedangkan menggunakan TPE hanya sebesar Rp 2,7 juta yang didapatnya dari Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta.

"Berkurang drastis penghasilan saya perbulannya. Enggak cukup menghidupi anak-istri. Belum lagi warga setempat juga meminta setoran parkir," terangnya.

Untuk itu, ia menghimbau Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta lebih memperhatikan kesejahteraan para Jukir. Gaji bulanan harus disesuaikan dengan pendapatan parkir setiap harinya.

"Di sini sih yang parkir ramai. Tapi kan kalau pakai sistem TPE semuanya tercatat. Kita setor uang sesuai pencatatan di mesin. Sedangkan gaji yang kita terima sedikit. Ngga adil," tutupnya.