Kelapa Gading > Laporan Utama

Ini Kronologis Komika Acho dengan Apartemen Green Pramuka

Senin, 07 Agustus 2017 19:48 WIB
Editor : Waritsa Asri | Sumber : Dbs

Salah satu tulisan Acho di blog pribadinya
Salah satu tulisan Acho di blog pribadinya
Foto : istimewa

Share this








Komika Acho membeberkan kronologis keluhan terkait fasilitas Apartemen Green Pramuka hingga berakhir pada statusnya sebagai tersangka.

JAKARTA –  Tulisan Mukadkly MT alias Acho terkait keluhan fasilitas Apartemen Green Pramuka di blog pribadinya, membawa stand up comedy (komika) itu sebagai tersangka pencemaran nama baik.

Tanpa sepengetahuannya, pengembang apartemen Green Pramuka melaporkannya ke polisi. Hasilnya, Acho menyandang kasus tersangka sejak Juni 2017.

"Saya tidak pernah tahu dilaporkan ke polisi. Tidak pernah ada teguran, tidak ada somasi, atau peringatan dari pihak pengembang. Tiba-tiba saya jadi tersangka pada Juni 2017," ungkap Acho.

Acho pun membeberkan kronologi kasus pencemaran nama baik yang menjeratnya. Berawal dari  blog pribadinya, muhadkly.com, Ia mengeluhkan soal fasilitas apartemen sejak 8 Maret 2015.

Beberapa bulan berlalu, kuasa hukum pengembang PT Duta Paramindo Sejahtera, Danang Surya Winata, melaporkannya ke Polda Metro Jaya pada 5 November 2015.

Acho dianggap melanggar pasal 27 ayat 3 UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan pasal 310-311 KUHP tentang pencemaran nama baik.

Lewat blog-nya, Acho mengungkapkan kekecewaan, karena pengembang tidak memenuhi janji untuk menjadikan area apartemen sebagai ruang terbuka hijau. Kemudian, ketidakjelasan sertifikat juga dikeluhkan para penghuni.

Padahal sertifikat itu dibutuhkan jika penghuni ingin menjual atau menjadikan jaminan ke bank untuk modal usaha. 

"Saya juga maunya pindah dari apartemen tapi enggak bisa," terangnya. Tak sampai di situ, Acho juga mengeluhkan soal biaya renovasi tambahan yang dibebankan pada penghuni.

Biaya tersebut ada di dalam buku ketentuan yang dibuat pihak pengembang, untuk renovasi penghuni perlu membayar Rp1 juta sebagai deposit dan uang sampah sebesar Rp500 ribu.

Usai menuliskan kekecewaannya di blog, Acho tak pernah bertemu dengan Danang maupun pihak pengembang apartemen lainnya. Keluhannya itu juga tak pernah ditanggapi serius oleh pihak pengembang.

"Bertemu tidak pernah, demo juga tidak digubris. Akhirnya kami cuma bisa curhat soal ini di media sosial. Saya lakukan bukan untuk merugikan atau apa, tapi demi kepentingan umum," ucap Acho.

Dua tahun berlalu, Acho secara mendadak dipanggil oleh penyidik Polda Metro Jaya untuk diperiksa sebagai saksi pada 26 April 2017 lalu. Ia pun memenuhi panggilan dan menjelaskan permasalahan yang dihadapi.

Namun, pada 9 Juni 2017, Acho kembali dipanggil oleh penyidik Polda Metro Jaya. Kali ini, ia dipanggil untuk diperiksa sebagai tersangka. Lantas, ia berinisiatif untuk melakukan mediasi dengan Danang. Tapi, permintaannya tidak ditanggapi.

"Saya kirim surat, saya telepon, saya kirim chat pribadi lewat whatsapp juga tidak mau. Padahal saya hanya ingin bertemu untuk bahas soal ini dan bersama-sama cari jalan keluarnya supaya tidak perlu lewat jalur hukum," tutur Acho.

Namun, upaya itu tidak membuahkan hasil. Acho kembali memenuhi panggilan ke Polda Metro Jaya untuk pengambilan sidik jari, dan foto sebagai tersangka pada 17 Juli 2017.

Akun twitter atas nama @muhadkly menjadi salah satu barang bukti yang disita polisi.  Kini, Acho tinggal menunggu waktu untuk menjalani sidang kasus dugaan pencemaran nama baik yang menjeratnya. 

Berkas perkaranya telah dinyatakan lengkap dan segera dilimpahkan dari Polda Metro Jaya ke Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat, pada Senin (7/8/2017).