Kelapa Gading > Laporan Utama

Hotman Sindir SBY dengan Iklan Sabun

Minggu, 11 Februari 2018 17:15 WIB
Editor : Nurul Julaikah | Reporter : Nurul Julaikah

Iklan Sabun vs SBY (Ist)
Iklan Sabun vs SBY (Ist)
Foto : istimewa

Share this








Hotman sindir Sikap Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melaporkan pengacara Setya Novanto dengan iklan sabun

KELAPA GADING – Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea sindir Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan iklan sabun mama detol. Hal ini lantaran, petinggi partai Demokrat itu melaporkan pengacara Setya Novanto, Firman Wijaya ke Bareskrim Polri atas dugaan pencemaran nama baik dan fitnah.

Menurut Hotman, seharusnya SBY tidak perlu cemas dengan tudingan Firman atas keterlibatannya pada kasus dugaan korupsi e-KTP. Sebab, argumentasi di dalam persidangan tidak dapat dijadikan sebagai obyek dasar pidana.

Lantas ia mencontohkan saat Jaksa menuntut terdakwa si A sebagai pembunuh, namun berdasarkan fakta persidangan dan hakim pengadilan memutuskan bebas. Atas tuntutan jaksa tersebut, A tidak dapat melaporkan dan memenjarakan jaksa ke polisi.

“Jadi pak SBY tidak perlu khawatir, kecuali sumpah palsu, baru boleh dipidana. Mungkin pak SBY perlu menonton iklan sabun mama detol, jangan terlalu khawatir, atau memang iklannya mau diubah menjadi iklan sabun papa detol,” kata Hotman dikutip dari rekaman video yang diunggah pada akun instagramnya @hotmanparisofficial, Minggu (11/2/2018).

Bahkan, mantan kekasih Meriam Belina ini juga menyindir Ruhut Sitompul yang menghilang tanpa jejak. Padahal, dulu ketika SBY masih berkuasa, tak jarang Ruhut selalu berada di garda terdepan untuk membela Ketum partai berlambang mercy tersebut.

“Lagian itu raja minyak ke mana, dulu waktu berkuasa raja minyak selalu bilang bapak yang kami sayangi. Si raja minyak alias poltak. Eh si raja minyak katanya lagi nunggu pemilu 2019, nunggu siapa yang berkuasa,” kata Hotman.

Berikut pernyataan lengkap Hotman Paris menanggapi SBY melaporkan advokat Setya Novanto ke Bareskrim Polri pada Selasa (6/2/2018) lalu.

Presiden Indonesia Bapak SBY melapokan polisi pengacara Setya Novanto. Pertanyaannya adalah apakah argumentasi  di dalam persidangan dapat dijadikan sebagai dasar objek pidana. Contoh, misalnya kalau jaksa menuntut si A pembunuh, ternyata si A nya bebas oleh pengadilan. Apakah si A bisa memenjarakan jaksa. Atau melaporkan polisi, tentu jawabannya tidak. Jadi pak SBY tidak perlu khawatir, kecuali sumpah palsu, baru boleh dipidana.

Mungkin pak SBY perlu menonton iklan sabun mama detol, jangan terlalu khawatir, atau memang iklannya mau dirubah menjadi iklan sabun papa detol.  Lagian itu raja minyak kemana, dulu waktu berkuasa raja minyak selalu bilang bapak yang kami sayangi. Si raja minyak alias poltak. Eh si raja minyak katanya lagi nunggu pemilu 2019, nunggu siapa yang berkuasa.

Untuk diketahui, Firman Wijaya menyebutkan bahwa fakta persidangan berupa keterangan saksi telah mengungkap siapa sebenarnya aktor besar di balik proyek pengadaan e-KTP. Berdasarkan keterangan saksi, menurut Firman, proyek e-KTP dikuasai oleh pemenang pemilu pada 2009, yakni Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Adapun, saksi yang dimaksud Firman adalah mantan politisi Partai Demokrat, Mirwan Amir. "Mirwan bilang, dia sampaikan kepada pemenang Pemilu 2009 bahwa urusan e-KTP ini ada masalah, jangan dilanjutkan. Tapi instruksinya tetap diteruskan. Jadi jelas yang namanya intervensi, ini yang disebut kekuasaan besar," kata Firman.

Menurut Firman, keterangan saksi ini sekaligus menjelaskan bahwa kliennya bukan pihak yang mengintervensi proyek e-KTP. Ia mengatakan, ada pihak yang lebih besar lagi yang berkepentingan dengan proyek tersebut.