Kelapa Gading > Laporan Utama

Etika Bersosial Media, Hati-Hati dengan Jarimu

Minggu, 08 Juli 2018 18:09 WIB
Editor : Wahyu AH | Reporter : Wahyu

ilustrasi sosial media positif.
Ilustrasi sosial media.
Foto : istimewa

Share this








Apa yang Anda posting di media sosial menjadi cerminan diri Anda. Bijaklah dalam menggunakan jari ketika ingin bersosial media.

JAKARTA – Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Kemerdekaan mengemukakan pendapat merupakan sebagian dari hak asasi manusia. Pernyataan ini tertuang dalam UUD 1945 pasal 28E ayat (3).

Namun, bukan berarti kebablasan. Tetap harus berpedoman terhadap etika dan budi pekerti yang baik. Serta, bisa saling menghargai perbedaan. Esensi kebebasan berpendapat seharusnya lebih dimaknai secara bijak. Bukan malah menjadi alat untuk menghujat atau menghakimi.

Kisruh momen Pilkada DKI 2017 menyoal penistaan agama bisa menjadi salah satu contoh nyata bagaimana perilaku bangsa Indonesia dalam bersosial media.

Mayoritas yang peduli dengan kisruh tersebut saling hujat membenarkan keyakinannya. Tidak menghargai norma-norma adat timur yang cenderung lebih ramah tamah. Bahkan, ada yang ‘baper’ hingga memutus tautan pertemanan akibat disebut kafir karena berbeda pilihan ketika berdebat di media sosial. Tidak mendukung pemimpin yang seagama.

Apakah seperti ini moral bangsa Indonesia pada era digital?

Jauh sebelum Pilkada DKI, perilaku tersebut sebenarnya sudah kerap terjadi. Dari ajang silaturahmi, media sosial berubah menjadi wadah mem-bully, memprovokasi, dan menyebarkan fitnah.

Itulah alasan Depkominfo menerbitkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Pasal 27 ayat 3 menyebut melarang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Ya, kehadiran media sosial memang membuat setiap orang gatal. Jari dan pikiran mereka rasanya ingin terus update status. Saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna media sosial terbanyak di dunia. Jumlah pengguna media sosial semaking meningkat seiring dengan semakin masifnya penggunaan ponsel pintar.

Hasil penelitian terbaru We Are Social dan Hoosuite dalam laporannya berjudul ‘Essential Insigth Into Internet, Social Media, Mobile, and Ecommerce Use Around the World’ menyebut selama Januari 2018, ada sekitar 130 juta masyarakat Indonesia yang aktif di berbagai media sosial, mulai dari facebook, instagram, twitter, dan lainnya.

Namun sayang, semakin tinggi pengguna semakin tinggi pula tingkat kejahatan yang terjadi melalui media sosial, seperti penipuan, pemerasan, pencemaran nama baik, dan banyak lagi kejahatan lainnya. Selain itu saat ini gesekan dan debat panas di media sosial yang berujung kebencian sudah menjadi hal yang lumrah terjadi.

Agar terhindar, ada baiknya pengguna internet lebih bijak bermedia sosial. Ada beberapa tips yang bisa Anda ikuti. Seperti yang dikutip dari berbagai sumber:

Pikirkan Terlebih Dahulu Sebelum Menuliskan Sesuatu

Apa yang Anda tuliskan itu menjadi cermin diri. Mulutmu adalah harimaumu. Pertimbangkanlah dampak dari postingan Anda. Jangan sampai merendahkan orang lain atau merusak nama baik seseorang atau kelompok tertentu.

Bijak dalam Berkomentar

Mengomentari postingan orang lain memang menjadi hal umrah. Ada baiknya, Anda tetap mengutamakan perbedaan dan tidak menghakimi atau melecehkan.

Jangan membagikan data pribadi di media sosial

Ini merupakan salah satu hal terpenting yang harus Anda ingat. Jangan pernah membagikan data pribadi seperti nomor ponsel, alamat lengkap, alamat email, nama ibu kandung, dan data-data pribadi lainnya. Peretas (hacker) bisa menggunakan data ini untuk menjebol akun-akun yang Anda miliki. Parahnya data-data tersebut juga bisa digunakan untuk membobol kartu kredit.

Jika ada teman yang memang membutuhkan alamat email, alamat rumah atau nomor ponselmu, sebaiknya kamu memberikannya lewat jalur pribadi seperti Direct Messages pada Twitter atau lewat fitur inbox pada Facebook.

Atur tingkat privasi akun

Semua situs atau aplikasi jejaring sosial menyediakan pengaturan tingkat privasi bagi penggunanya. Anda bisa meminimalisasi risiko menjadi korban kejahatan di media sosial dengan pengaturan ini. Atur siapa saja yang bisa melihat post yang kamu unggah, siapa saja yang bisa mengajukan pertemanan, siapa saja yang bisa melihat profil pribadimu, dan lainnya.

Memang repot, tetapi pengaturan ini merupakan salah satu cara efektif untuk menghindari serangan peretas atau orang-orang yang tidak bertanggung jawab.