Kelapa Gading > Komunitas

CelFit Dance Lover, Jaga Solidaritas

Kamis, 08 Desember 2016 13:16 WIB
Editor : Wahyu AH | Reporter : Oktaviani

CelFit Dance Lover
CelFit Dance Lover

Share this





Info Komunitas - Komunitas Celebrity Fitnes (CelFit) Dance Lover terbentuk pada November 2006. Ide awal membentuk  komunitas ini datang dari Christine dan Mariana. “Kami adalah member di CelFit. Lalu mulai ngumpul dan ketemu saat kelas RnB. Karena sering ketemu, ngobrol, dan ternyata mempunyai kegemaran yang sama terhadap dance akhirnya memutuskan membentuk komunitas ini,” tutur Mariana, Ketua CelFit Dance Lover.

Awal terbentuk, sambungnya, anggota CelFit Dance Lover berjumlah lima orang. Seiring berjalannya waktu, hingga saat sekitar 12 orang. Dia menambahkan, selain sama-sama menyukai dance, semua anggota komunitas sudah merasa seperti keluarga sendiri. “Para anggota sangat dekat satu sama lain, sudah seperti belahan jiwa. Kalau ada masalah kami saling membantu,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, setelah 10 tahun terbentuk, para anggota memang memiliki kesibukan dan karier masing-masing. Untuk dance bersama sudah tidak rutin, tapi setiap satu bulan pasti kumpul. Entah itu untuk arisan atau merayakan member yang ulang tahun.

Ia mengakui, kendati jarang latihan, jika ada pertunjukan dance atau instruktur mengadakan acara, semua anggota menyempatkan diri untuk berpartisipasi. Pada 2015, misalnya, CelFit Dance Lover berhasil menjuarai kompetisi Indonesia Menari yang digelar di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta.

“Semangat dan kesukaan terhadap dance tidak akan pernah mati meski usia tidak lagi muda. Harapannya, dance di Indonesia dapat lebih maju dan berkembang lagi serta bisa menjadi sarana mencari nafkah seperti di luar negri,” pungkas penyuka membaca ini.







Kelapa Gading > Komunitas

Kolintang Gading Pandawa, Merawat Seni Nusantara

Rabu, 12 Oktober 2016 14:51 WIB
Editor : | Reporter : Oktaviani

Kolintang Gading Pandawa
Kolintang Gading Pandawa

Share this





Info Komunitas - Meski sudah berumur, ibu-ibu yang tergabung dalam Komunitas Kolintang Gading Pandawa tetap lincah dan bersemangat dalam memainkan alat musik tradisional asal Minahasa, Sulawesi Utara ini. Tangan mereka sudah terampil dalam memainkan alat musik tersebut sehingga menghasilkan alunan lagu enak didengar.

Komunitas itu terbentuk pada 7 November 2011. Awalnya, alat musik tersebut disediakan oleh Ketua RW 01 Gading Pandawa Hasan untuk kegiatan ibu-ibu pembina kesejahteraan keluarga (PKK) dan karang taruna. Dia ingin ibu-ibu PKK dan karang taruna memiliki kegiatan positif dan melestarikan alat musik tradisional di Indonesia. “Itulah awalnya, sehingga saya dan teman-teman merasa terpanggil untuk belajar. Akhirnya kami mengumpulkan ibu-ibu PKK dari RW 01 untuk ikut belajar,”ungkap Oni, Koordinator Komunitas Kolintang Gading Pandawa.

Anggota komunitas merupakan ibu-ibu yang telah berusia 50 tahun ke atas. Meskipun begitu, mereka dilatih oleh Boy, seniman senior dari Manado. Bagi mereka kesenangan dalam bermain kolintang bukan sekadar mengisi waktu luang, tapi dapat membuat awet muda. Juga tidak cepat pikun, karena berkeringat dan berpikir mengasah memori otak untuk terus menghafal.

Komunitas Kolintang Gading Pandawa melakukan latihan setiap Selasa pukul 10.00-12.00 WIB di Lantai 2 Balai Warga RW 01, Perumahan Gading Pandawa, Kelapa Gading Timur. Pada awal pembentukan, jumlah anggota yang tergabung hanya 12 orang. Namun kini yang masih eksis hanya tujuh anggota. “Mungkin karena kesibukan jadi berkurang. Walaupun begitu kami bertujuh ini sudah kompak seperti band,” tuturnya seraya tersenyum.

Oni menambahkan, Komunitas Kolintang Gading Pandawa selalu terbuka bagi yang ingin bergabung. Dia mengharapkan ada dari anak-anak muda mau belajar alat musik tradisional jenis kolintang. “Kalau mau bergabung datang saja saat kami latihan. Tentunya senang kalau ada anak muda yang mau belajar. Kalau bisa satu set yaitu tujuh orang,” tambahnya.

Selama lima tahun berdiri, Komunitas Kolintang Gading Pandawa sering diundang untuk mengisi acara yang diselenggarakan RW 01 ataupun kelurahan. Terutama pada perayaan hari ulang Indonesia, ulang tahun Jakarta, acara sosial dan lain-lain.







Kelapa Gading > Komunitas

JACCO, Wadah Anak Berbakat

Selasa, 27 September 2016 13:37 WIB
Editor : | Reporter :

JACCO
JACCO

Share this





Info Komunitas - Puluhan anak-anak hingga remaja melakukan pemanasan dan peregangan. Melemaskan otot-otot yang terpusat pada pergelangan kaki, tangan dan leher dengan berbagai gerakan tak beraturan. Beberapa lagi tampak serius membaca dan menghafal naskah. Rata-rata usianya sekitar 8 sampai 17 tahun.

Itulah gambaran suasana latihan Jakarta Children Community (JACCO) di Gading Arcadia Sport Club, Perum Gading Arcadia, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Latihan itu rutin dilakukan dua kali dalam sepekan, setiap Rabu dan Sabtu pukul 13.00 sampai 15.00 WIB.

Ratnaganadi, Artistic Director JACCO, menjelaskan komunitas tersebut merupakan embrio dari Satu Kata Indonesia dan anak organisasi Yayasan Peduli Pendidikan AnakIndigo (YPPAI), memberikan perhatian ke arah performing art. Kehadiran JACCO, sambungnya, dimulai pada 2010, tapi belum memiliki nama. Pada 2015, semua pengurus dan pengurus sepakat menggunakan nama JACCO.

Langkah yang dilakukan setelah memiliki nama adalah mengikuti seleksi 14th World Festival of Children’s Theatre (WFCT) di Ontario, Kanada. Tim JACCO mengirimkan contoh produksi berupa foto, video, sinopsis. “Bersyukur dari 80 negara yang mengikuti seleksi tersebut, JACCO menjadi salah satu dari 20 negara terpilih,” ungkapnya.

Alika Chandra, pembina JACCO, menambahkan anggota komunitas merupakan anak-anak yang terpilih melalui audisi bakat performing art di berbagai sekolah di Jakarta, khususnya Jakarta Utara. “JACCO berdiri dengan sebuah konsep, yang tua membimbing anak muda. Penggambungan antara yang senior dengan pemula. Kami menggalang supaya anak muda mengetahui budaya bangsa.  Mereka berbakat, maka akan kami gali terus,” tuturnya.

Setelah sukses menggelar pertunjukan teater berjudul Cindelaras di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) pada 22 Mei 2016 dan mengikuti 14th World Festival of Children’s Theatre (WFCT) membuat JACCO mendapat undangan resmi dari Kementerian Kebudayaan Tiongkok untuk melakukan pertunjukan pada September 2016. “Kami akan kembali membuka audisi untuk bergabung bersama JACCO road to Tiongkok,” pungkasnya.







Kelapa Gading > Komunitas

Gading Modelcar Community, Wadah untuk Pehobi Diecast Modelcar

Senin, 14 Maret 2016 15:22 WIB
Editor : Hanafie | Reporter : Bimo Aria

Gading Modelcar Community
Gading Modelcar Community

Share this





Terbentuk pada November 2015. Saat ini, ada 10 pehobi yang sudah bergabung sebagai anggota.

Info Komunitas - Komunitas ini lahir atas dasar kesamaan hobi. Setelah mengetahui jumlah pehobi diecast, replika kendaraan berbahan dasar metal dan fiber,  kian membludak di kawasan Kelapa Gading, beberapa pehobi termasuk Benny Haunafi berinisiatif mengumpulkan mereka dalam satu wadah. Tujuannya, hanya sekadar tempat sharing dan saling bersilaturahmi.

Namun, mereka ingin lebih spesifik. Wadah ini hanya khusus pehobi diecast yang tinggal di kawasan Kelapa Gading. Diecast-nya pun hanya khusus diecast mobil. Itulah, mengapa mereka memberi nama Gading Modelcar Community. “Tidak hanya anak-anak, kalangan remaja hingga dewasa pun banyak yang menyenangi diecast. Namun, bukan sebagai mainan, melainkan sebagai koleksi. Contohnya kami. Di sini, kita hanya senang-senang. Lagipula, dibanding tahun 90-an, jumlah pehobi diecast lebih menjamur di Indonesia,” ungkap Benny.

Terbentuk pada November 2015. Saat ini, ada 10 pehobi yang sudah bergabung sebagai anggota. Hampir setiap weekend, mereka bertemu. Waktu dan lokasinya berdasarkan kesepakatan. Biasanya, saling berkunjung ke rumah para anggota. “Ajang inilah yang sering kami manfaatkan untuk berbagi informasi. Misal, dari membahas mengenai modelcar terbaru, tempat penjualan, koleksi pribadi, hingga berburu barang bersama melalui internet,” kata dia.

Biasanya, yang diburu adalah diecast modelcar bermerk Autoart. Sebab, bentuknya lebih tampak seperti asli. Untuk ukuran dan jenisnya disesuaikan selera. Diecast yang dimiliki anggota mayoritas berukuran 1:43, 1:18, dan 1:12. Jenisnya cenderung bertema sport dan klasik. “Bagi para anggota, selain sebagai hobi, mereka melihat diecast juga sebagai investasi. Sebab, semakin susah dicari dan unik, harganya semakin mahal. Dia berharap Gading Modelcar Community dapat lebih eksis. Juga, dapat menjadi wadah pilihan semua pehobi diecast modelcar di Kelapa Gading,”  pungkas Benny.







Kelapa Gading > Komunitas

Badminton Klub Kelapa Gading, Tak Jera Menjadi Juara

Senin, 14 Maret 2016 14:54 WIB
Editor : Hanafie | Reporter : Bimo Aria

Badminton Klub Kelapa Gading
Badminton Klub Kelapa Gading

Share this





Info Komunitas - Makin menua makin menjadi. Ungkapan ini kiranya tepat untuk menggambarkan puluhan anggota Badminton Klub Kelapa Gading. Usia bagi mereka bukan halangan untuk terus mengukir prestasi. Meski rambut mulai memutih, kulit sudah mengeriput, tetapi semangat tetap bergelora. Tak kalah dengan kaum muda.

Ini dibuktikan dari sederet prestasi. Misalnya, tahun lalu. Mereka berhasil memboyong lima medali, satu emas, satu perak, dan tiga perunggu dalam World Morning Cup, turnamen bulutangkis amatir kelas dunia yang digelar di Taipei, Taiwan.

Emas diraih pasangan Wiwiek Sunaryo dan Frits H. Mainaky di kelompok usia 60 plus. Medali perak diraih pasangan Edward Djumali dan Widiyono di kelompok usia 55 plus. Adapun medali perunggu diraih pasangan Sumarjo dan Apo di kelompok usia 50 plus, Tommy Kusuma dan Leo Lazuardi di kelompok usia 65 plus, serta pasangan Widiyono dan Leo Lazuardi di kelompok usia kombinasi 120 tahun.

Tahun ini, mereka pun kembali berprestasi dengan berhasil memboyong dua emas, satu perak, dan dua perunggu dari turnamen Astec Pattaya Badminton Sawasdee Cup 2015 yang di gelar di Pattaya, Thailand pada 13-15 November 2015. Lagi-lagi, medali emas diraih pasangan Wiwiek Sunaryo-Fritz Mainaky dalam kategori Age Group 60-64. Emas lainnya, diraih oleh pasangan Sunaryo-Hartono Susilo dalam kategori Combined Age 120.

Adapun medali perak diraih oleh pasangan Stephen Pandji-Hartono Susilo dalam kategori Age Group 60-64. Medali perunggu oleh Lioe Foek Khong- Widiyono Suhartono dalam kategori Age Group 55-59 dan Rusyanto untuk kategori Man Single 65-69.

Menurut Stephen Pandji, tim leader, tidak hanya itu. Masih banyak prestasi lainnya. Badminton Klub Kelapa Gading sudah berkiprah di ajang turnamen bulutangkis internasional sejak 1995. Awalnya, di Perth, Australia. Lalu, di Canbera, Australia pada 1997, dan di Gold Coast, Australia pada 2000. “Jadi, bukan satu atau dua kali kami mengikuti kejuaraan dunia veteran amatir tidak resmi. Setiap turnamen, biasanya, kami berhasil meraih lebih dari satu medali,” katanya.

Namun, bukan berarti, dalam setiap turnamen dituntut juara. “Tidak. Ini, bagi kami, hanya semacam gathering atau travelling ke luar negeri bersama kawan-kawan. Menang syukur, kalah pun tetap enjoy. Memang tidak pernah ada persiapan khusus,” paparnya.

Sekadar informasi, Badminton Klub Kelapa Gading memiliki jadwal rutin latihan tiga kali dalam satu pekan. Setiap Senin, Rabu, dan Jumat. Mulai dari pukul 18.00-22.00 WIB di Sport Club, Kelapa Gading, Jakarta Utara.







Kelapa Gading > Komunitas

NXA Ladies, Terus Mengukir Prestasi

Rabu, 10 Februari 2016 15:38 WIB
Editor : Denny | Reporter : Wahyu Muntinanto

NXA Ladies
NXA Ladies

Share this





Dalam waktu dekat, sekelompok gadis cantik ini juga berencana akan mengikuti kejuaraan Counter Strike Ladies Only yang digelar di negara-negara Eropa.

Komunitas - NXA Ladies kian terkenal dalam dunia game online. Tidak hanya di Indonesia, komunitas yang beranggotakan sepuluh wanita muda cantik ini juga sangat disegani oleh para gamers di kawasan Asia Tenggara. Ya, itu berkat beragam prestasi yang berhasil ditorehkan.

“Kalau di level Indonesia, belum ada tim wanita lainnya yang bisa ngalahin kita. Posisi NXA Ladies masih yang terbaik hingga saat ini. Kami juga sering mengikuti kejuaraan di level Asia,” kata Nixia, penggagas NXA Ladies kepada Info Gading dikediamannya Gading Nias Residence Tower Alamanda, beberapa waktu lalu.

NXA Ladies terbentuk pada 2011. Menurut Nixia, karena ketidaksengajaan. Saat itu, dia hanya iseng-iseng membuat clan dalam game bergenre first person shooter. Ternyata, mendapat respon baik dari gamers lainnya yang mayoritas masih berusia remaja. “Mulai dari situ, clan bentukan saya kian eksis dan selalu menang acap kali bertanding,” ucapnya.

Hingga akhirnya, Nixia mulai fokus membawa NXA Ladies mengikuti berbagai kejuaraan baik di dalam maupun luar negeri. Berkat kekompakan, sederet prestasi berhasil di raih. Di antaranya, juara pertama Call Of Duty 4 Hotgame Tournament Indonesia Games Festival di Jakarta pada 2012. Serta, juara pertama Counter Strike: GO, MSI Gaming Night di Taiwan, pada 2013.

Bahkan dari prestasi-prestasi itu, ada beberapa perusahaan perangkat komputer asal Taiwan yang tertarik menjadi sponsor. “Mereka melihat track record kita di dunia game online cukup baik. Alhasil, itulah lubang penghasilan kita,” sambungnya.

Kini, seiring namanya yang kian populer, NXA Ladies mulai menginginkan pencapaian baru. Demi mengharumkan nama Indonesia di kancah game online wanita, dalam waktu dekat, mereka juga berencana akan mengikuti kejuaraan Counter Strike Ladies Only yang digelar di negara-negara Eropa. “Semoga hasilnya memuaskan,” tutur dia.

Untuk mencapai itu, setiap Jumat malam, anggota NXA Ladies selalu menyempatkan waktu berkumpul. Biasanya, di gaming house di kawasan Jakarta Barat. “Kita main games bareng demi melatih skill tim. Ajang ini juga dimanfaatkan untuk saling sharing mengenai berbagai hal, baik seputar skill game maupun hal lainnya,” pungkas Nixia.







Kelapa Gading > Komunitas

Sasana Wushu Indonesia Laba-Laba Sakti, Ingin Mencetak Atlet Wushu Andal

Selasa, 12 Januari 2016 17:32 WIB
Editor : Fauzi | Reporter : Bayu Erlangga

 Sasana Wushu Indonesia Laba-Laba Sakti
Sasana Wushu Indonesia Laba-Laba Sakti

Share this





Info Komunitas - Beberapa anak melakukan pemanasan. Melemaskan otot-otot yang terpusat pada pergelangan kaki, tangan, dan leher. Beberapa lagi tampak serius meliuk-liukkan tubuh. Melakukan gerakan-gerakan beladiri. Baik secara individu atau kelompok. Ada puluhan anak. Mayoritas berusia belasan tahun.

Inilah sekilas gambaran suasana latihan komunitas Sasana Wushu Indonesia Laba-Laba Sakti di Aula RW 12, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading. Mereka berlatih rutin setiap dua kali dalam satu pekan, yakni Senin dan Kamis pukul 17.00-19.00 WIB. Sementara, untuk senior, jadwal latihan lebih intens lagi, tiga kali dalam satu pekan, yakni Selasa, Kamis, dan Jumat dari pukul 18.00-21.00.

Menurut Fready Hartono, pelatih Sasana Wushu Indonesia Laba-Laba Sakti, komunitas ini sudah hadir di Indonesia sejak 1992. Pendirinya adalah Shifu Lie Kian Hin, Alex Owen dan Kiong Boen Kian. Namun, sempat vakum pada 2001. Karena antusias masyarakat yang ingin belajar Wushu semakin besar, sepuluh tahun kemudian, beberapa orang murid berinisiatif menghidupkan kembali. "Kebetulan, ada tempat juga untuk latihan. Mengapa tidak?" katanya.

Dalam perjalanannya, Sasana Wushu Indonesia Laba-Laba Sakti kerap mengikuti berbagai kejuaraan baik skala daerah maupun nasional. Dari kejuaraan itu, mereka mampu menorehkan banyak prestasi. Seperti, meraih medali di kejuaraan Bandung Festival Wushu 2012, Kejurnas Wushu Junior Riau 2012, Kejurnas Wushu Junior Yogyakarta 2013, Proprov Wushu DKI Jakarta, dan lainnya. "Terkait kejuaraan-kejuaraan ini, kami memang berkomitmen untuk terus mengembangkan wushu dan mencetak atlet- atlet wushu yang handal,” tutur Fready.

Wushu adalah seni bela diri modern asal Tiongkok yang terinspirasi dari gerakan tari dan berbagai gerakan akrobatik. Tidak seperti kungfu, wushu selalu berinovasi dengan gerakan-gerakan baru. Kendati begitu, tambah Fready, wushu tidak hanya mengajarkan ilmu bela diri saja. Banyak ajaran mengenai filsafah hidup yang berguna untuk membina manusia menjadi baik dan disiplin. "Sebab itu, berlatih wushu sebaiknya memang dimulai sejak dini. Idealnya, ketika anak berusia 6 tahun. Pada usia itu, tubuh anak masih lentur. Mereka pun  akan lebih mudah menguasai berbagai gerakan. Mulai dari teknik kuda-kuda, jurus tangan kosong, hingga penggunaan senjata," pungkasnya. 







Kelapa Gading > Komunitas

Indolug Kelapa Gading, Wadah Pecinta Lego

Jumat, 08 Januari 2016 15:02 WIB
Editor : Andi MZ | Reporter : Bayu Erlangga

Indolug Kelapa Gading
Indolug Kelapa Gading

Share this





Komunitas - Lego. Mainan ini telah populer di Denmark sejak 1916. Di Indonesia sendiri baru masuk pada era 90-an. Namun, ketika itu, peminatnya terbilang sangat minim. Mungkin, hanya anak-anak. Kini, karena bentuk dan jenisnya kian bervariasi, lego mulai digemari tidak hanya oleh anak-anak, tetapi juga orang dewasa.

Bukti nyata, telah banyak muncul komunitas pecinta lego. Satu di antaranya adalah Indonesia Lego User Group (Indolug) yang sudah terbentuk sejak 2014. Mayoritas anggotanya adalah kalangan eksekutif. Tidak sedikit juga yang sudah menikah. Mereka menganggap lego sebagai mainan untuk mengisi waktu kosong. Bahkan, banyak yang sampai gemar mengoleksinya.

“Bermain lego butuh ketelitian dan kreatifitas. Ada kepuasan tersendiri ketika memainkannya. Terlebih, saat kita bisa membuat suatu bentuk-bentuk sulit. Jadi, lebih tertantang,” ucap Liana, anggota Indolug Kelapa Gading kepada Info Gading saat gathering di kawasan Kelapa Gading belum lama ini.

Meski baru satu tahun berjalan, kehadiran Indolug disambut positif para pecinta lego. Untuk regional Kelapa Gading saja, sudah ada lebih dari 300 anggota. Sedangkan dalam skala nasional, bisa mencapi 6 ribu anggota yang tersebar di beberapa kota di Indonesia. “Biasanya, kita bikin even pameran setiap tiga hingga empat kali dalam satu tahun,” lanjut Liana.

Sementara, Kris, salah seorang member Indolug Kelapa Gading lainnya menambahkan, untuk regional Kelapa Gading sendiri, pertemuan dilakukan setiap satu kali dalam satu bulan. Soal waktu dan tempat, biasanya kesepakatan bersama.

Dalam perjalanannya, Indolug menjadi tempat bertukar informasi bagi para anggota yang mengalami kesulitan saat membentuk lego. Juga, tempat saling tukar koleksi untuk melengkapi masing-masing koleksi yang dimiliki anggota. Memang, tambah, Liana, ada beberapa jenis lego yang sulit ditemukan. Semisal, modular, starwars, pirates, hingga MOC. “Selain itu, Kita juga kerap membuat kegiatan sosial dengan membagikan lego kepada anak-anak kurang beruntung di daerah dengan bekerjasama dengan komunitas Indolug di daerah tersebut,” paparnya.







Kelapa Gading > Komunitas

Satu Kata Indonesia, Concern di Bidang Seni dan Budaya

Rabu, 02 Desember 2015 15:40 WIB
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Dede Windo

Satu Kata Indonesia
Satu Kata Indonesia

Share this





Berbagai even, baik di dalam maupun di luar negeri pernah diikuti. Bahkan, UNESCO sempat mengapresiasi konsep pertunjukan Satu Kata Indonesia.

Info Komunitas - Puluhan anak berusia 6-15 tahun antusias mengikuti lomba kreativitas melukis dan mewarnai. Acara digelar di main atrium Mal Of Indonesia (MOI), Sabtu (1/8). Even ini terbuka untuk umum. Penggagasnya adalah Komunitas Satu Kata Indonesia. Empat karya terbaik dalam sesi melukis akan diikutsertakan di Japan International Painting pada September nanti.

Selain lomba, kegiatan juga  diisi dengan penampilan atraktif dari penampilan penyanyi cilik Kayla Tarliman dan tari-tarian tradisional Bali yang dibawakan oleh Hikmah Annisa. Serta, sosialisasi Narkotika dari Badan Narkotika Nasional (BNN).

Menurut Alika Chandra, ketua komunitas, tujuan dari acara ini tak lain hanya untuk membangkitkan semangat anak-anak dalam bidang seni budaya. Selaras dengan visi dan misi komunitas. Dia berharap, kedepannya, dapat berkesinambungan dan menjadi rutinitas. “Lomba kreativitas melukis dan mewarnai memang baru kali pertama kami gelar. Namun, dalam bidang seni peran, nama Satu Kata Indonesia sudah cukup populer. Banyak even yang sudah kami rancang dan kami ikuti. Antara lain, drama musikal bertajuk ‘Merenda Hari Esok’ yang melibatkan 700 siswa pada 2007,” paparnya.

Itupun tidak hanya dalam negeri. Sejak berdiri pada 2007,  lanjut Alika, Satu Kata Indonesia juga sudah beberapa kali mengikuti even-even besar di luar Negeri. Semisal, berpartisipasi dalam Festival Dunia 14 Teater Amatir di Monako, Perancis pada 2009, Dunia Festival Amatir Teater di Tromso, Norwegia pada 2011, Festival Dunia Anak Seni Pertunjukan di Toyama, Jepang pada 2012, 1 China Asean Theatre Festival Week di Nanning, Guang Xi, Tiongkok pada 2013. “Pada 2007, kami pun pernah melewati seleksi akhir dari 28 kongres dan internasional komite festival di Masan, Korea. Saya pun pernah diundang UNESCO pada 2010. UNESCO mengapresiasi konsep pertunjukan kami dalam bidang seni dan budaya,” ucapnya.

Pada dasarnya, tambah Alika, Satu Kata Indonesia merupakan komunitas yang concern di bidang seni dan budaya. Tidak hanya teater saja, melainkan seni-seni lain, seperti performing arts dan lainnya. “Kami biasa berlatih di di Gading Arcadia, Sport Club setiap Selasa, Rabu, Jumat, dan Sabtu. Meski anggota terus silih berganti, saya berharap komunitas ini tetap eksis dan mampu menjadi tonggak serta wadah bagi penikmat seni,” pungkasnya.







Kelapa Gading > Komunitas

New Hore, Kembali Aktif

Rabu, 02 Desember 2015 14:04 WIB
Editor : Fauzi | Reporter :

New Hore
New Hore

Share this





Info Komunitas - Komunitas New Hore terbentuk sejak 2006. Anggotanya adalah para orangtua murid (ibu) Little Morning Star Preschool Kelapa Gading. Setiap satu kali dalam satu bulan, mereka rutin menggelar arisan. Namun, setelah anak-anak mereka lulus, komunitas ini akhirnya vakum selama bertahun-tahun.

Untuk menjaga silaturahim dan wadah melepas rindu, beberapa anggota berinisiatif untuk mengaktifkan kembali kegiatan arisan. “Dulu, kita sudah sangat akrab. Namun, karena kesibukan, kita mulai jarang ketemu. Apalagi, anak-anak kita juga tidak lagi sekolah di tempat yang sama. Akhirnya, saat itu, kita sepakat menghentikan arisan. Komunikasi mulai agak renggang. Atas dasar itulah, para anggota berupaya mempererat keakraban yang telah terbina sebelumnya dengan memulai kembali kegiatan arisan,” ungkap Fanny, ketua New Hore.

Arisan digelar pada Agustus 2015 di salah satu restoran yang berlokasi di kawasan Kelapa Gading. Menurut Fanny, kegiatan ini sejatinya hanyalah “pintu gerbang” bagi setiap anggota untuk bisa bertemu dan bercengkrama seperti sedia kala. “Kita berbincang soal anak. Entah perkembangan belajarnya, sekolahnya, prestasinya seperti apa, dan hal-hal lain,” kata Fanny.

Menyoal waktu dan tempat, tambah Fanny, tidak pernah dijadwalkan secara khusus. Namun, biasanya setiap tanggal 10. Saat ini, ada 20 orang anggota yang aktif. Mayoritas merupakan warga Kelapa Gading. Meski begitu, ada juga beberapa anggota yang berasal dari kawasan Sunter, Jakarta Utara.

Selain arisan, dalam perjalanannya, New Hore juga sudah beberapa kali menggelar kegiatan amal. “Waktu awal-awal terbentuk, kita sempat galang dana untuk kasih bantuan ke panti sosial anak. Lalu, belum lama ini juga kita mengumpulkan barang-barang bekas layak pakai untuk diberikan pada yang membutuhkan. Kedepannya, kita pun berencana untuk membangkitkan kembali kegiatan-kegiatan semacam ini. Semoga, keakraban ini dapat terus terjaga hingga waktu yang panjang,” pungkas Fanny.







Kelapa Gading > Komunitas

Santika Cycling Club Indonesia, Terbentuk Atas Dasar Hobi

Selasa, 27 Oktober 2015 14:52 WIB
Editor : Fauzi | Reporter : Wahyu



Share this





Info Komunitas - Wacara Pemprov DKI Jakarta untuk menyediakan jalur khusus sepeda tidak juga terealisasi. Kendati demikian, hal itu tidak menyurutkan para pehobi sepeda untuk terus mengayuh sepedanya. Tak peduli bahaya yang mengancam.

Ya, bersepeda bukan sekadar olahraga saat ini, melainkan telah menjadi gaya hidup bagi sebagian kalangan. Buktinya, banyak komunitas sepeda bermunculan. Tidak hanya warga, perusahaan seperti Santika Hotel Group pun memiliki komunitas sepeda. Yakni, Santika Cycling Club Indonesia (SCCI).

Terbentuk sejak satu tahun lalu. Menurut Sudarsana, salah satu penggagas, dasarnya adalah kesamaan hobi. "Ketika itu, ada beberapa orang karyawan Santika Hotel di Yogyakarta yang kerap bersepeda saat ke kantor. Kemudian, kami semua dipindahtugaskan ke beberapa Hotel Santika di Jabodetabek. Akhirnya, kami memutuskan membentuk komunitas sebagai cara untuk lebih menggiatkan lagi gowes bareng dan ajang silaturahim," jelasnya.

Kini, ada sekitar 30 orang yang aktif. Seluruh anggota merupakan karyawan Santika Hotel Group dari level terendah hingga general manager. Setiap akhir pekan, SCCI rutin menggelar gowes bareng. Waktu dan lokasinya ditentukan sesuai kesepakatan seluruh anggota. Biasanya, menuju Thamrin-Sudirman atau Kelapa Gading saat car free day. Namun, pada momen tertentu, SCCI juga sudah beberapa kali ke Bogor, Tanggerang, dan Bandung. Bahkan, pernah gowes bareng di Bali.

Sudarsana berharap SCCI dapat tetap eksis kedepannya. Serta, bisa memberikan banyak manfaat bagi para anggota. Dia tak menampik, bila kehadiran SCCI kerap dimanfaatkan anggota untuk sharing, baik seputar pekerjaan maupun hal-hal lain. Itu tidak menjadi masalah. Justru, akan semakin mempererat rasa kekeluargaan di antara karyawan. "Namun, yang pasti, wadah ini murni untuk senang-senang. Tidak ada maksud apa-apa, selain untuk sehat dan menyalurkan hobi," pungkasnya.