Kelapa Gading > Kesehatan

Kanker Serviks Pembunuh Nomor Satu, Segera Deteksi Dini

Minggu, 13 Mei 2018 11:46 WIB
Editor : Wahyu AH | Reporter : Wahyu

kanker serviks
Sumber foto infonawacita.com
Foto : istimewa

Share this








Kanker Serviks pembunuh nomor satu. Lazimnya, pasien kanker yang datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi stadium lanjut.

JAKARTA – Pengidap kanker di Indonesia terus melonjak. Dari 17,8 juta jiwa pada 2016 menjadi 21,7 jiwa pada 2017. WHO, bahkan memprediksi akan terjadi lonjakan penderita kanker di Indonesia hingga 7 kali lipat pada 2030. Kanker serviks menjadi penyakit pembunuh nomor satu.

Label itu tidak berlebihan karena berdasar data Yayasan Kanker Indonesia dari 40 wanita yang terdiagnosa, 20 di antaranya meninggal dunia. Tingginya kasus kanker serviks di Indonesia membuat WHO menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita kanker serviks terbanyak di dunia.

Menurut dokter Rumah Sakit Gading Pluit, dr. Yuanita Gunawa, Sp.OG, ini terjadi karena wanita Indonesia masih kurang peka dengan kondisi tubuhnya. Lazimnya, pasien kanker yang datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi stadium lanjut.

“Pada tahap awal, tidak bergejala jadi wanita dapat saja terkena kanker serviks tanpa sepengetahuannya. Namun, kalau sudah stadium lanjut, gejala mulai muncul. Seperti, pendarahan saat senggama, keputihan yang berbau, atau nyeri perut bawah,” tuturnya dalam seminar awam mengenai kanker serviks dan HPV di RS Gading Pluit beberapa waktu lalu.

Alhasil, cara tepat mengantisipasi kanker serviks tak lain dengan deteksi dini. Bisa lewat pap smear. Uji medis ini dapat memeriksa kondisi sel-sel pada serviks dan vagina. Lewat pemeriksaan rutin, perubahan sel yang bisa berkembang menjadi kanker bisa terdeteksi.

Namun, pap smear normal tidak selalu berarti bebas kanker. ”Hampir 1/3 kanker serviks terjadi pada mereka dengan hasil papsmear normal. Apa penyebabnya? Pengambilan sediaan yang tidak memadai (62%), kegagalan skrining (15%), dan kesalahan interpretasi (23%). Bagaimanapun, pasien harus tetap mengikuti anjuran dokter,” ucap Yuanita.