Kelapa Gading > Famili

Lusy, Ternyata Aku Lebih Beruntung

Jumat, 16 Desember 2016 09:36 WIB
Editor : | Sumber : DBS

Lusy
Lusy
Foto : istimewa

Share this








Apa yang sudah kucari saat muda habis hanya untuk pengobatan kanker. Memang menyesal. Namun, ya sudahlah.

Kisah Famili - Segalanya membutuhkan uang. Namun, uang bukan segalanya. Itulah yang kupahami saat ini. Dulu, semasa muda, hampir seluruh waktu kuhabiskan dengan bekerja. Sebelum matahari terbit, aku sudah berangkat dari tempat tinggalku di Kerawang menuju kawasan Kota, Jakarta Barat. Ini rutinitasku dari Senin hingga Sabtu. Semata hanya karena mencari uang.

Semakin banyak uang, semakin membuat pola hidupku tidak teratur. Pola makanku tidak sehat, jarang berolahraga, dan aku menjadi perokok berat. Bisa tiga bungkus dalam satu hari. Tanpa kusadari, kondisi ini ternyata bom waktu yang siap meledak dan meluluhlantakan diriku.

Awal 2002. Tepatnya, ketika aku berusia 44 tahun, semua terbukti. Rahimku sakit. Setelah diperiksa ternyata ada tumor. Dokter menyarankan melakukan operasi pengangkatan rahim. Rasa takut menyergap. Apalagi, aku tidak pernah satu kalipun dirawat di rumah sakit. Mentalku drop. Akhirnya kutunda pengobatan sambil mempersiapkan mental.

Selang enam bulan, aku menemukan benjolan di payudaraku. Berbeda dengan rahim, benjolan ini tidak terasa sakit. Namun, aku penasaran dan langsung periksa ke dokter. Hasilnya, sungguh mengejutkan. Dokter mengklaim aku mengidap kanker payudara stadium tiga. Kata dokter, “Kalau ini tidak bisa ditunda-tunda. Harus segera operasi. Sebab, membahayakan nyawa kamu.” Urusan rahim belum selesai, datang lagi masalah baru. Semua aktivitas termasuk bekerja terpaksa kuhentikan. Oh Tuhan, ujian apa yang sedang Engkau berikan.

Awalnya sempat ragu. Namun, kakak dan adik-adikku terus memotivasi. Aku masih ingat saat kakakku bilang, “Apa yang kamu pikirkan lagi? Anak tidak punya, suami sudah tidak ada. Mening kamu fokus untuk kesembuhan diri kamu.” Ya, memang benar. Easy going. Yang terjadi nanti, urusan nanti. Akhirnya, aku jalani semua proses pengobatan, dari operasi, enam kali kemoterapi, dan 31 kali radiasi.  Dokter sempat berucap, “Kalau kamu mampu melewati tahun keempat, kamu akan survive.” Aku pun kian termotivasi dan berhasil membuktikannya dengan segala pengorbanan baik mental maupun materi. Bahkan, bisa dibilang apa yang sudah kucari saat muda habis hanya untuk pengobatan kanker. Memang menyesal. Namun, ya sudahlah.

Kini, kuhabiskan waktuku untuk melakukan hal-hal positif bersama organisasi Cancer Information and Support Centre (CISC). Kebetulan, aku pun dipercaya mengelola rumah singgah untuk para pasien-pasien kanker BPJS kelas 3. Di sinilah aku tersadar bahwa hidupku masih lebih beruntung dibanding para pasien di rumah singgah. Bagaimana tidak, di sini, aku bertemu pasien wanita berusia 17 tahun yang sudah mengidap kanker payudara. Juga, pasien-pasien lain yang kondisinya lebih parah dariku. Mereka seakan memotivasiku untuk terus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan hal-hal bermanfaat. Meski tanpa penghasilan, aku merasa hidupku lebih berarti saat ini. Kanker memang mematikan, tetapi kanker bukan penyebab kematian.