Kebayoran > Profil

Sebarkan ‘Virus’ Positif Urban Farming

Senin, 20 Maret 2017 15:52 WIB
Editor : Admin | Reporter : Rachli Anugrah Rizky

Sigit Kusumawijaya.
Sigit Kusumawijaya.
Foto : Azhari Setiawan

Share this








Kegiatan sosial komunitas ini berupaya memberikan ‘virus’ positif dengan memanfaatkan lahan non produktif di perkotaan.

Info Tokoh - Selain berprofesi sebagai arsitek dan urban designer, Sigit Kusumawijaya sangat konsen dengan lingkungan. Bersama Ridwan Kamil (saat ini Wali Kota Bandung) dan beberapa kawan lainnya, ia mengajak masyarakat untuk peduli lingkungan dengan membentuk gerakan bernama Jakarta Berkebun pada 2011. Kegiatan sosial komunitas ini berupaya memberikan ‘virus’ positif dengan memanfaatkan lahan non produktif di perkotaan dengan cara menanami tanaman yang bermanfaat dan menjadinya sebagai kebun produktif.

Gerakan Jakarta Berkebun mendapat sambutan yang baik dan menjadi cikal bakal berdirinya Indonesia Berkebun, wadah besar yang kini menaungi 45 network yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Bahkan konsep berkebun di perkotaan (urban farming) kini bisa menjadi booming dan banyak disebut sebagai gaya hidup baru masyarakat kota. “Saya juga heran tapi kami bersyukur kalau itu memberi nilai positif bagi masyarakat luas,” kata pria kelahiran Jakarta, 14 November 1981 ini.

Agar konsep urban farming bisa menyebar lebih luas, diakui Sigit, perlu dukungan dari pemangku kebijakan, dalam hal ini pemerintah baik pusat dan daerah. “Seharusnya sudah masuk ke ranah peraturan,” ucapnya. Sebagai contoh, setiap kelurahan atau RW diwajibkan memilii spot urban farming dengan luasan tertentu. Lokasi yang digunakan pun bisa lahan milik pemerintah. “Kalau ada kewajiban itu bisa. Tapi belum sampai ke situ,” tambah Sigit.

Tidak hanya mengenalkan melalui Indonesia Berkebun, lulusan Delft University of Technology (TU Delft), Belanda ini juga memanfaatkan profesinya untuk menyoalisasikan konsep urban farming ini dalam project arsitekturnya. Tidak memudah untuk menyakinkan orang untuk bisa menerapkan hunian berkonsep urban farming. “Ya, kita coba edukasi,” senyum Sigit.