Kebayoran > Profil

Kisah Seorang Putra Maluku-Toraja Pimpin MRT Jakarta

Rabu, 28 Juni 2017 18:50 WIB
Editor : Nurul Julaikah | Reporter : Nurul Julaikah

Dirut MRT Jakarta, William Sabandar
Dirut MRT Jakarta, William Sabandar
Foto : Nurul Julaikah

Share this








William Sabandar, pria berdarah Maluku-Toraja yang ditunjuk sebagai Dirut MRT Jakarta untuk menyelesaikan megaproyek di Ibu Kota.

THAMRIN – Dibalik pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) yang sudah mulai terlihat rekontruksi di beberapa titik mulai dari Lebak Bulus hingga bunderan HI, ada sosok William Sabandar atau akrab disapa dengan Willy. Berbekal pengalaman kerja dalam menangani rekontruksi untuk misi sosial, pria kelahiran Makasar, 4 November 1966 ini dilantik sebagai Direktur Utama (Dirut) MRT Jakarta pada 14 Oktober 2016.

Willy yang memiliki darah Maluku-Toraja ini mengaku, lebih memilih mendedikasikan ilmu dan pengalaman hidupnya untuk pekerjaan-pekerjaan yang menyangkut dengan hajat hidup orang banyak. Usai mengeyam pendidikan Sarjana Teknik Sipil di Universitas Hasanuddin, Willy mengawali kariernya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Departemen Pekerjaan Umum pada tahun 1991.

Selama enam tahun ditugaskan untuk melakukan perencanaan dan pengawasan jalan nasional dan provinsi di Maluku, penggila buku bacaan ini memilih mengambil beasiswa Magister ke University of New South Wales, Australia mengambul jurusan ilmu transport engineer pada tahun 1997. Namun, rencana kembali ke Indonesia setelah menamatkan pendidikan S2 kandas begitu saja karena kondisi politik Tanah Air kala itu (tahun 1999) masih labil.

Kemudian, Ia melanjutkan pendidikan Doktor pada tahun 2001 dengan program beasiswa Doctor of Philosophy di University of Canterbury, Selandia Baru untuk bidang Geografi. Selesai menuntaskan studi S3, tepatnya tahun 2004 akhirnya Willy balik ke kampung halaman karena saat itu, terjadi bencana Tsunami dahsyat di Aceh dan Nias.

Tawaran menggiurkan, yakni mengajar di salah satu kampus di Selandia Baru dan partisipan dalam konferensi yang diadakan dari berbagai Negara pun ditinggalkan. Pulang ke Indonesia, Willy diminta oleh Kepala Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), Kuntoro Mangkusubroto untuk memimpin Badan Rekontruksi dan Recovery (BRR) Nias.

Tak hanya di situ saja, Bapak tiga anak ini juga menjadi Kepala Satuan Tugas Misi Kemanusiaan di Myanmar atas delegasi Sekjen ASEAN pada tahun 2009 lalu. Ia menyebutkan, tugas-tugas tersebut bukan hanya sekedar membangun infrastruktur yang porak poranda akibat bencana, tetapi bagaimana hin kembali mental dan spirit dari masyarakat setempat agar bisa menjalani hidup sebagaimana semestinya seperti semula.

Pada tahun 2014, William Sabandar diangkat menjadi Ketua Tim Satuan Tugas Investasi Timur Tengah. Tim ini tugasnya menyediakan basis data terkait potensi investasi, memfasilitasi pertemuan antara investor dari negara timur tengah dengan mitranya di Indonesia. Pada tahun 2015, Willy ditunjuk sebagai Kepala Satuan Tugas Percepatan Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (P2EBT) Kementerian ESDM.

Kemudian, pada tahun 2016, mantan atasannya Kuntoro di UKP4 menghubungi dan menawarinya untuk memimpin pembangunan MRT Jakarta. Tanpa berfikir panjang, Willy mengiyakan tawaran tersebut, kemudian mengikuti rangkaian tes yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta saat itu.

Akhirnya, Willy lolos menjalani rangkaian tes, dan dipertemukan dengan  Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang kala itu mencari pemimpin untuk percepatan pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. Tepat, 16 Oktober 2016 lalu, Ia dilantik sebagai Dirut MRT Jakarta.

Berikut petikan wawancara tim infonitas.com bersama William Sabandar di Kantornya PT. MRT Jakarta, yang berlokasi di Wisma Nusantara lantai 21, Thamrin, Jakarta Pusat.

Apa bisa diceritakan kembali, bagaimana awalnya bapak dipilih oleh pak Ahok yang waktu itu masih menjabat Gubernur DKI Jakarta untuk menjadi Dirut MRT?

Cerita awalnya memang saya ditanya, dihubungi oleh pak Kuntoro bos UKP4. Pak Gubernur, Pak Ahok mencari orang yang bisa memimpin BUMD termasuk MRT Jakarta untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang sedang dihadapi waktu itu ya. Ketika itu, saya sebenarnya sudah punya kontrak kerjaan,  waktu itu saya di Kementerian ESDM mengepalai satu unit kerja yang namanya satuan tugas untuk percepatan energi terbarukan, jadi bertanggungjawab langsung kepada Menteri dan itu sebenarnya saya sudah ada (penyelesaian tugas). Tapi karena waktu itu ada tawaran dan tantangan dan kemudian saya diminta kalau memang siap untuk kemudian nanti akan dites, jadi saya ikut proses tesnya dinyatakan lulus, kemudian saya dipertemukan dengan pak Ahok waktu itu.

Jadi waktu ditawari oleh pak Kuntoro saat itu langsung diterima atau masih mikir-mikir?

Enggak, saya enggak pernah mikir. Saya kalau begitu ada tawaran dan saya berpikir itu sesuatu yang baik untuk Negara maka itu saya terima. Ini sama dengan waktu saya dari dulu. Saya mukai di BRR, kan saya kenal pak Kuntoro itu di BRR, beliau minta saya untuk ke Nias, mimpin rekontruksi Nias, saya langsung enggak mikir, langsung ya begitu malam itu juga. Menurut saya, ya berbuat sesuatu yang baik untuk pembangunan Negara, untuk suatu bangsa dan Negara dan saya katakan iya. Setelah di BRR, saya diminta oleh Sekjen ASEAN untuk ke Myanmar memimpin rekontruksi di sana, itu juga saya enggak pernah mikir, itu semua langsung saya katakan iya begitu.

Memang ada proses-proses, test segala macam tapi nurani dan hati saya mengatakan kalau itu untuk sebuah pekerjaan kemanusiaan dan saya iya.

Balik ke sini (Indonesia), kembali dengan pak Kuntoro di bagian unit Presiden ya saya juga mengatakan iya, disuruh mimpin badan REDD+, ya saya katakan iya. Saya termasuk orang yang suka berpindah- pindah tapi ya yang menjadi motivasi saya, dimana ada tempat, dimana ada kesempatan untuk berbakti kepda Negara menyumbangkan tenaga dan pikiran yang saya punyai untuk memperbaiki dan membangun Negara, saya enggak akan pernah menolak.

Jadi saya pun dihadapkan dengan situasi seperti itu. Jadi begitu saya ketemu dengan pak Ahok, saya mengatakan, ini kalau nilainya untuk saya kegiatan-kegiatan ini berkaitan dengan pembangunan sifatnya critical, maka saya orang yang relevan untuk menjalani. Karena saya terbiasa dengan krisis. Tapi kalau ini proyek yang normal sebagai pekerjaan rekontruksi, ya saya mungkin bukan orang yang relevan itu.

Apa yang saya maksud krisis bahwa kita sedang merubah, membangun Jakarta. Kita sedang merubah Jakarta dan yang kita bangun itu bukan hanya kontruksi, tapi kita bangun ini hanya sebuah paradigma baru membangun Jakarta yang lebih bagus. Jadi saya selalu seperti itu.

Saya masuk ke Nias, rekrontruksi Nias, saya enggak cuma membangun jalan, membangun ini, tetapi membangun manusia, membuat manusia sejahtera, membuat manusia punya harapan, begitu pun ke Myanmar. Saya melihat manusia sedang terpuruk, maka saya berpikir harus membangun sesuatu. Memang memabangunnya infrastruktur, membangunnya rumah gitu but rumah itu memberikan harapan kepada orang yang masuk ke rumah itu kan.

Myanmar itu bencana alam, kondisinya sama dengan Aceh, nyapu 200 ribu orang meninggal, lebih 80 juta orang homeless. Jadi mulai pengungsian dan segala macam. Saya ditugaskan waktu itu sebagai utusan khusus Sekjen ASEAN untuk memfasilitasi proses mencari donator yang mau ngasih duit untuk pembangunan di sana. Tapi kondisi Myanmar saat itu, tidak dipercaya oleh dunia internasional jadi kan takutnya duitnya dikasih ke pemerintah kan takutnya duitnya dikorupsi misalnya kan. Begitu juga dengan pemerintah nih tidak percaya dengan dunia internasional, mereka masuk nanti intervensi militer, waktu itu Myanmar masih tertutup tahun 2009 masih junta militer.

Tugas saya ini membawa misi dunia internasional, kemudian memastikan supaya pemerintah ini bisa percaya bahwa dukungan internasional ini untuk bantuan kemanusian, dan pemerintah bisa membuka diri untuk melaksanakan bahwa kami ini pemerintah yang bertanggunjawab, bahwa duit yg anda masukan ini tdk akan kami korupsi tapi kami akan selalu saluran ke masyarakat. Kan itu yang terjadi di Aceh dan Nias, dimana dunia internasional itu percaya ke pemerintah Indonesia untuk melaksanakan rekrontruksi. dan Myanmar itu yang saya lakukan supaya membawa pemerintah Myanmar itu punya kepercayaan diri dan bisa mengatakan would im doing. Bahwa itu sesuatu yang baik untuk rakyat. Selama ini kan begitu, itu yang coba saya lakukan mencoba menjadi jembatan. Apa yg ditentunkan itu, misalnya bangun apa istilahnya temporary shelter, semacam rumah sementara. Kebayangkan, di situasi itu rakyat Myanmar tidur di tenda. Jadi kita pindahkan, kita bangunkan rumah sementara, pelan-pelan kita pindahin ke rumah yang sudah kita.

Nah rumahnya dariman, kita cari nih donatur internasional, kita cari nih save of the children, kamu mau bantu enggak,  oxpam mau bantu enggak. Bukan cuma rumah, tapi juga mau membangunkan mata pencaharian, human care crisis, responbility, dan itu yang saya fasilitasi.

Sama di Nias begitu juga, bangun rumah, bangun sekolah, bangunnya secara fisik infrastruktur tapi kita sebenarnya membangun istilahnya trust building jadi menimbulkan trust and confident building. Jadi, bagaimana membangun sebuah masyakat yang secara kelembagaan secara kuat, instutusi kuat, bukan hanya infrastruktur fisiknya tetapi, juga spirit humannya kuat, aspek komunitasnya. Kita percaya tidak membangun satu rumah tetapi kenyamanan lingkungan.

Satu situasi dimana ada rumah, ada interaksi antar orang-orang dan ada orang-orang membangun interaksi kepercayaan diri yang akirnya nanti menimbulkan siap membangun dirinya sendiri. Kan bantuan ini sifatnya tidak permanen, tapi suatu saat bantuan itu akan habis, ketika bantuan ini selesai maka orang-orang ini secara independent, dapat survive.

Jadi, motivasi saya untuk MRT ini adalah, ya benar, kita sedang membangun infrastruktur MRT, tetapi infrastruktur ini istilah saya game changer, city changer suatu infrastruktur yang membawa perubahan kepada Jakarta. life style Jakarta akan berubah lewat sini, jadi jangan dilihat dia (MRT) hanya sebagai instrument transportasi tetapi life style kita membangun kemacetan yang sudah sangat menjadi momok di Jakarta itu bisa berubah.

Artinya saya melihat bahwa MRT ini akan dilihat oleh masyarakat Jakarta sebagai sebuah investasi bersama yang dimiliki penduduk Jakarta untuk dipelihara, digunakan secara bertanggungjawab bersama. Dan, ini supaya orang melihat ada value dari sebuah infratruktur yang begitu pentingnya, yang nantinya akan menjadikan Jakarta lebih baik, dalam artian Jakarta lebih tertata dengan baik dari segi infrastruktur maupun dari segi life style-nya.

Saat itu kan bapak masih terikat kontrak kerja sebagai Kepala Satgas PPEBT, lalu, Apakah mengundurkan diri atau memang lebih menantang MRT?

Kan memang itu tugas Negara juga, tapi saya diminta juga, kemudian saya mengundurkan diri. Nah disitu kan sudah meletakan sub tugas baru, nah saya ada proses yang saya lakukan dan kemudian satgas itu bukan satuan yang permanen jadi satgas P2EBT sudah bisa berjalan. Kemudian itu, kita serahkan kepada menteri ESDM yang dilaksankan oleh Dirjen energi terbarukan.

Waktu saya selesai bukan lagi pak Sudirman Said, jadi pak luhut waktu itu masa transisi. Pak Arcandra kan masalah kewargnegaraan diganti oleh pak Luhut. Jadi bertepatan pak Luhut selesai pak jonan masuk. Jadi, sama-sama waktu pak Jonan dilantik sebagai menteri, saya dilantik sebagai Dirut MRT.

Bersambung.