Kebayoran > Pendidikan

Binus University Peduli Kesiapan Karier Generasi Millenial

Rabu, 13 Desember 2017 18:03 WIB
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Ichwan Hasanudin

Dialog Psikologi Nusantara 2017
Dr. Wahyu Indiati, Psi, perwakilan dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, General Manager HRD PT. Sosro Tinongadi, dan perwakilan Program Studi Psikologi Binus University Dr. Istiani, M.Psi, dalam diskusi Dialog Psikologi Nusantara 2017 .
Foto : Ichwan

Share this








Binus University melalui Program Studi Psikologi menyelenggarakan talkshow Dialog Psikologi Nusantara sebagai bentuk kepedulian karier para lulusannya.

SUDIRMAN – Sebagai salah satu bentuk kepedulian Binus University terhadap kesiapan kerja para lulusannya, melalui Program Studi Psikologi menyelenggarakan talkshow Dialog Psikologi Nusantara 2017 bertema Kesiapan Karier Bagi Generasi Milleniels, di Gedung A, Kementerian Pendidikan dan kebudayaan, Jalan Jend. Sudirman, Jakarta Selatan, Selasa (12/12/2017). 

Hadir dalam diskusi tersebut Dr. Wahyu Indiati, Psi, perwakilan dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, General Manager HRD PT. Sosro Tinongadi, dan perwakilan Program Studi Psikologi Binus University Dr. Istiani, M.Psi. 

Pada kesempatan itu, Tinongadi menjelaskan ada stereotype posotif dan negatif dari generasi millenial. “Negatifnya, generasi millenial itu kutu loncat, kurang sopan, narsis, ‘gila’ gadget, mementingkan diri sendiri, dan tidak fokus. Positifnya, generasi millenial itu imajinatif, kreatif, inovatif, kolaboratif, dan berorientasi pada kerja,” katanya. 

Namun, lanjut Tino, generasi millenial itu sebenarnya senang untuk dikontrol, dibimbing, dan senang diberi masukan. Pasalnya generasi ini sangat open minded. 

Di sesi lain, Dr. Wahyu Indiati menjelaskan agar generasi millenial siap dalam berkarier, genarasi ini juga harus mampu mengenali kekurangan dan kelebihan diri. Untuk itu, generasi ini harus mampu menggali potensi dengan meningkatkan kemampuan kompetensi diri. 

“Kita harus mempersiapkan dengan baik dan merencanakan dengan baik. Jadi kita sedini mungkin bisa mengenali potensi diri sehingga pengembangan diri bisa optimal,” jelasnya. 

Indiati juga menyoroti bahwa anak-anak sekarang ini cederung nyaman dengan situasinya atau comfort zone, sehingga mereka tidak tahu apa-apa. “Maka dari itu, anak juga boleh salah karena dari kesalahan itu, ada proses belajar,” terangnya.