Kebayoran > Otomotif

Komunitas Van Kulture Harus Utamakan Keluarga

Rabu, 26 Juli 2017 10:30 WIB
Editor : Waritsa Asri | Sumber : Dbs

Instagram Komunitas Van Kulture (Ist)
Instagram Komunitas Van Kulture (Ist)
Foto : istimewa

Share this








Komunitas Van Kulture selaku komunitas mobil van dalam kategori MPV diharuskan mengutamakan keluarga dalam setiap modifikasi yang dibuatnya.

KEBAYORAN Family First merupakan tema besar komunitas mobil yang hanya mengkhususkan diri pada kategori MPV atau Multi Purpose Vehicle. Komunitas tersebut memiliki nama Van Kulture Indonesia.

Bahkan, semua mobil yang tergabung dalam Van Kulture Indonesia yang memang mengutamakan kenyamanan keluarga ini harus menggunakan sistem air suspension. Sehingga, saat dijalankan, sistem suspensi udara ini harus diaktifkan sekitar 3-5 menit untuk menaikkan mobil kendaraan yang ceper.

“Ini komunitas tidak sembarang komunitas yang hobinya ngumpul dan ngobrol modifikasi otomotif. Syarat utamanya adalah mobil keluarga. Air  suspension itu ditujukan untuk mempermudah anggota keluarga untuk melangkah masuk atau keluar dari mobil,” Koordinator komunitas van kulture Indonesia, Josint.

Awal terbentuk Van Kulture Indonesia ini, kata Josint, memang dibutuhkan hasrat yang kuat. Lantaran, Josint yang memang penggemar mobil mini van ini memberanikan diri untuk meminta lisensi Van Kulture internasional kepada pendirinya, Paul Cotaco, di California, Amerika Serikat, untuk mendirikannya di Indonesia.

Permintaan ini pun disambut oleh Paul Cotaco. Kemudian, Josint pun menindaklanjuti dengan bertemu seorang pencinta mobil keluarga lainnya, Indra Yogashara, untuk sama-sama mendirikan komunitas tersebut, pada awal 2016.

Tepat pada 30 Januari 2016, Komunitas Van Kulture Indonesia pun diluncurkan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang dihadiri sekitar 200 mobil MPV. Walaupun komunitas ini memang sangat baru, tetapi komunitas ini sering berkumpul untuk kopi darat hingga mulai memberanikan diri menghadiri kontes mobil di berbagai acara.

Namun perlu diketahui, mobil keluarga yang bisa masuk dalam komunitas Van Kulture Indonesia, harus benar-benar MPV. Karena itu, bila tersedia tujuh kursi tetapi modelnya SUV atau Sport Utility Vehicle, tidak bisa diterima sebagai anggota komunitas.

Hingga saat ini, komunitas Van Kulture Indonesia baru memiliki sayap di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan Pekan Baru. Permintaan sejumlah daerah untuk membangun jaringan pun sangat tinggi. Akan tetapi, tak mudah membangun kepercayaan untuk tetap bisa eksis menyandang Van Kulture di Indonesia. Utamanya, komunitas ini masih mengampanyekan penghentian perangkat bajakan untuk mobil.

Family First

Komunitas Van Kulture Indonesia selalu mengarahkan tema kegiatan serta modifikasi untuk keluarga. Misal, slogan yang diangkat pick up the children from school in style. Keluarga tetap menjadi prioritas dalam setiap modifikasi. Tidak sekedar membuat mobil ceper.

Di Amerika, mobil van biasa digunakan ibu-ibu mengantar anak mulai dari sekolah hingga les. Walaupun ibu-ibu yang mengemudikan, mobilnya tetap bergaya ceper dengan suspensi udara.

Di indonesia banyak mobil keluarga, Josint misalnya menggunakan mobil andalannya Toyota Previa, sedangkan Agung Widiatmoko menggunakan Honda Odyssey. Ada pula yang mengandalkan Mazda Biante, Toyota Kijang Innova, dan Toyota Sienta.

Mobil boleh dimodifikasi, tetapi fungsinya untuk membawa anggota keluarga. “Tetap bisa berjalan ini yang disebut mobil beraroma ‘Virus Van’,” terang Josint.