Waspada, Narkoba Bentuk Permen Beredar di Sekolah
Kebayoran > Laporan Utama

Waspada, Narkoba Bentuk Permen Beredar di Sekolah

Rabu, 11 Januari 2017 17:05 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Kapolda Metro Jaya, Irjen M. Iriawan
Kapolda Metro Jaya, Irjen M. Iriawan

Share this





Narkoba murah tersebut sangat mudah dibedakan dengan permen buatan pabrikan. Karena, hanya dibungkus dengan plastik bening.

KEBAYORAN BARU – Para bandar besar Narkoba kembali membuat sensasi. Baru-baru ini pihak Polda Metro Jaya, mendapatkan permen yang sudah dicampur dengan Narkoba jenis sabu. Namun, harga jualnya tergolong murah, yakni kisaran Rp 15.000 – Rp 20.000.

Kapolda Metro Jaya, Irjen M. Iriawan menyatakan, Narkoba murah meriah tersebut mulai beredar dikalangan anak sekolah. "Disusup ke sana (anak-anak). Banyak masuk ke sekolah," kata dia di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (11/1/2017).

Sementara itu, Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Kombes Nico Afinta menjelaskan, Narkoba murah tersebut dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai permen, sehingga dapat mengelabui petugas. "Jadi itu ekstasi yang dibentuk seperti permen," ujarnya.

Dari segi bentuknya, sambung Nico, Narkoba murah tersebut sangat mudah dibedakan dengan permen buatan pabrikan. Karena, hanya dibungkus dengan plastik bening. "Bukan pabrikan seperti permen beli di toko," jelas Nico.

Sebelumnya diketahui, Jajaran Dit Reserse Narkoba menemukan bandar Narkoba ekstasi yang dibentuk permen di Hotel Golden Crown, Tamansari, Jakarta Barat. Pemilik barang haram tersebut sempat ditempat karena berusaha melawan saat diamankan.

 







Kebayoran > Laporan Utama

Ini Kandungan Narkoba Bentuk Permen

Rabu, 11 Januari 2017 18:11 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Direktur Reserse Narkoba, Kombes Nico Afinta
Direktur Reserse Narkoba, Kombes Nico Afinta

Share this





Kandungan didalam Narkoba bentuk perman tersebut adalah amphetamin atau sama persis dengan bahan pembuat ekstasi.

KEBAYORAN BARU – Beredarnya Narkoba yang menyerupai bentuk permen, mulai ditanggapi serius oleh pihak kepolisian. Sebab, kandungan didalam Narkoba yang harganya relatif murah itu, setara dengan kandungan ekstasi yang dapat membuat pemakainya energic.

Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta menuturkan, kandungan didalam Narkoba murah tersebut adalah amphetamin atau sama persis dengan bahan pembuat ekstasi. "Kandungannya amphetamin atau sama kayak ekstasi," kata Nico melalui sambungan telepon di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (11/1/2017).

Nico membeberkan, untuk Narkoba murah tersebut dapat dipergunakan setiap saat, sehingga berbeda dengan ekstasi yang kerap dikonsumsi pada malam hari. "Cuma kalau ekstasi makainya malam hari kan," terang Nico.

Selain itu, sambung Nico, para pengedar Narkoba murah tersebut mulai menyasar kaum pelajar sebagai mangsa pasarnya. "Diedarkan dimana saja juga disekolah. Ya SMA lah ya (tingkatan)," jelas Nico.

Sebelumnya diketahui, jajaran kepolisian mengungkap peredaran Narkoba murah yang dibuat seperti permen. Sebanyak 24.000 butir Narkoba diamankan dari dua orang di Hotel Golden Crown, Tamansari, Jakarta Barat.







Kebayoran > Laporan Utama

Polisi Bantah Pemanggilan Buni Yani Menyalahi Aturan

Senin, 09 Januari 2017 15:09 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono

Share this





Meskipun tenggat waktu 14 hari telah selesai, namun pihak kepolisian tetap akan memanggil Buni Yani.

KEBAYORAN BARU - Pihak kepolisian membantah pemanggilan tersangka kasus ujaran kebencian dan penghasutan berbau SARA melalui media sosial, Buni Yani pada Senin (9/1/2017) hari ini telah menyalahi aturan perundang-undangan.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono menerangkan, meskipun tenggat waktu 14 hari penyerahan berkas ke kejaksaan telah selesai, namun pihak kepolisian tetap akan memanggil Buni Yani.

"Gak ada ya (menyalahi aturan), hanya ada satu pertanyaan yang ingin ditanyakan untuk Buni Yani," beber Argo saat dikonfirmasi di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (9/1/2017).

Sebelumnya, Buni Yani sesumbar didepan awak media bahwa pihak penyidik Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya telah menyalahi aturan. Sebab, tenggat waktu 14 hari yang diberikan oleh pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI telah dilanggar oleh pihak kepolisian.

Malahan, merujuk pada KUHAP pasal 138 dan Peraturan Kejaksaan No 36 tahun 2011 Pasal 12 ayat 5, pemanggilannya kali ini sudah menyalahi aturan. "Polisi tak bisa memenuhi 14 hari pemenuhan berkas. Kalau gak bisa memenuhi, berati kalau saya dipanggil ini berati menyalahi aturan," ungkap Buni Yani.

Patut diketahui, Buni Yani kembali diperiksa oleh penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, Senin (9/1) hari ini sebagai tersangka kasus pelanggaran UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). 

Namun, dalam pemeriksaan kali ini Buni Yani menyebut kepolisian telah menyalahi aturan lantaran tidak dapat memenuhi kelengkapan berkas dari pihak kejaksaan.







Kebayoran > Laporan Utama

Buni Yani Pertanyakan Panggilan Polisi Untuk Memenuhi Berkas Penyidikan

Senin, 09 Januari 2017 13:23 WIB
Editor : | Reporter : Chandra Purnama

Buni Yani
Buni Yani

Share this





Pemanggilannya sudah menyalahi aturan. Sebab, penyidik harusnya sudah mengembalikan berkas pemeriksaan ke Kejati dalam kurun waktu 14 hari.

KEBAYORAN BARU – Tersangka kasus pelanggaran UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Buni Yani mempertanyakan sikap penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Metro Jaya, terkait pemanggilannya untuk memenuhi berkas penyidikan.

Menurut Buni Yani, merujuk pada KUHAP pasal 138 dan Peraturan Kejaksaan No 36 tahun 2011 Pasal 12 ayat 5, pemanggilannya kali ini sudah menyalahi aturan. Sebab, penyidik harusnya sudah mengembalikan berkas pemeriksaan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) dalam kurun waktu 14 hari.

"Saya sudah melakukan riset sedikit, polisi tak bisa memenuhi 14 hari pemenuhan berkas. Kalau nggak bisa memenuhi, berati kalau saya dipanggil ini berati menyalahi aturan," beber Buni Yani di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (9/1/2017).

Buni Yani melanjutkan, merujuk pada peraturan, jika dirinya menolak untuk diperiksa kembali oleh penyidik merupakan haknya yang telah diatur oleh undang-undang. "Seharusnya saya gak datang saja, sebagai warga negara saya gak mau bikin sensasi," kata Buni Yani.

Sementara itu, pengacara Buni Yani, Cecep Suhardiman menegaskan, apabila penyidik tidak menemukan unsur pidana dalam kasus yang menjerat kliennya, seharusnya kasus tersebut ditutup. "Kami mengharapkan, kalau dalam perkara ini tak ditemukan tindak pidana, jangan dipaksakan," tegas Cecep.

Sebagai informasi, pihak Kejati DKI Jakarta telah mengembalikan berkas penyidikan Buni Yani pada 19 Desember 2016 lalu dikarenakan masih kurang lengkap. Namun dalam kurun waktu 14 hari, pihak penyidik belum mengembalikan kembali ke pihak Kejati.

Buni Yani ditetapkan sebagai tersangka kasus pelanggaran UU ITE karena menyebarkan potongan pidato Gubernur DKI Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat kunjungan ke Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu.