Kebayoran > Laporan Utama

Serba Serbi Asian Games 2018

Jumat, 27 Juli 2018 13:20 WIB
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Ichwan Hasanudin

Gelora Bung Karno (GBK)
Gelora Bung Karno (GBK) menjadi tempat pembukaan dan penutupan Asian Games 2018.
Foto : Azhari Setiawan

Share this








Olympic Council of Asia (OCA) menunjuk Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games 2018 dengan Palembang sebagai tuan rumah pendukung.

KEBAYORAN - Indonesia bisa menjadi tuan rumah Asian Games XVIII punya cerita panjang. Setelah pengunduran diri Vietnam sebagai penyelenggara Asian Games XVIII, Indonesia masuk menjadi negara yang bisa menjadi penyelenggara Asian Games 2018 bersama dua negara lain yakni Tiongkok dan Uni Emirat Arab. Indonesia harus bersaing, bahkan negara seperti Filipina dan India pun menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah Asian Games 2018.

Untuk mematikan kesiapan, Olympic Council of Asia (OCA) melakukan kunjungan ke beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, bandung, dan Palembang. Tepat pada tanggal 25 Juli 2014, OCA menunjuk Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games XVIII dengan Palembang sebagai tuan rumah pendukung.

Seharusnya, pelaksanaan Asian Games XVIII diselenggarakan pada 2019. Namun mengingat Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi pemilihan presiden di tahun tersebut, maka penjadwalan pertandingan diubah menjadi tahun 2018. Selanjutnya, pada 20 September 2014, Indonesia menandatangani kontrak tuan rumah. Penetapan Indonesia ini secara simbolis diterangkan pada penutupan Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan.

Sejak itu, Jakarta dan Palembang dikejar perbaikan infratruktur venue di dua kota tersebut. Bukan hanya venue skala kecil, venue seperti Gelora Bung Karno (GBK) mulai diperbaiki dan dipercantik. Bukan perkara kecil untuk memperbaiki venue-venue tersebut. Dibutuhkan dana yang sangat besar untuk membuat venue seperti GBK layak menjadi tempat pembukaan Asian Games 2018.

Bahkan Pemerintah Pusat bersama Dewan Perwakilan Rakyat telah menyetujui anggaran sebesar Rp 600 miliar untuk merenovasi Gelora Bung Karno. Nilai itu tentunya belum termasuk venue-venue lainnya yang ada di Jakarta dan Palembang yang jika diakumulasikan jumlahnya akan sangat fantastis.

Wajar saja, jika nilai renovasi venue di dua kota tersebut akan menyerap anggaran yang sangat besar. Venue-venue itu harus bisa mengakomodir 40 cabang olahraga yang dipertandingkan di ajang Asian Games yang akan dibuka pada 18 Agustus 2018 dan ditutup pada 2 September di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Menariknya, dalam setiap gelaran ajang olahraga terbesar se-Asia ini, Indonesia mengenalkan tiga maskot sekaligus. Ketiganya merangkum nilai keberagaman dan kesatuan yang mempresentasikan energi yang terdapat dalam Asian Games. Ketiga maskot itu adalah Bhin Bhin, Atung, dan Kaka.

Bhin Bhin adalah seekor burung Cendrawasih (Paradisaea Apoda) yang merepresentasikan strategi. Bhin Bhin mengenakan rompi dengan motif Asmat dari Papua. Atung adalah seekor rusa Bawean (Hyelaphus Kuhlii) yang merepresentasikan kecepatan. Atung mengenakan sarung dengan motif tumpal dari Jakarta. Kaka adalah seekor badak bercula satu (Rhinoceros Sondaicus) yang merepresentasikan kekuatan. Sedangkan Kaka mengenakan pakaian tradisional dengan motif bunga khas Palembang.

Acara pembukaan Asian Games 2018 akan menampilkan keragaman budaya Indonesia dalam pertunjukan seni yang menarik; memadukan empat elemen alam, budaya modern, dan energi Asia. Sedangkan saat penutupan akan ada selebrasi untuk para atlet dan ada penyerahan ke Hangzhou China sebagai kota tuan rumah berikutnya pada Asian Games 19 di tahun 2022.