Kebayoran > Laporan Utama

Secarik Kesaksian Perjuangan Wolter Monginsidi

Sabtu, 09 September 2017 21:00 WIB
Editor : Ichwan Hasanudin | Sumber : Album Sejarah

Robert Wolter Monginsidi
Secarik kertas tulisan Robert Wolter Monginsidi sebelum dieksekusi.
Foto : istimewa

Share this








Usianya baru 24 tahun dan gugur ditembak mati Belanda. Secarik kertas berisi tulisan menjadi saksi perjuangan pria muda bernama Robert Wolter Monginsidi.

KEBAYORAN – Namanya harus abadi menjadi sebuah jalan. Jalan Wolter Monginsidi yang berada di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dia adalah pahlawan yang sangat memegang teguh kecintaan kepada negara ini. Wolter Monginsidi menghembukan nafas terakhirnya ditembus timah panas pasukan di usia 24 tahun. 

Nama lengkapnya adalah Robert Wolter Monginsidi. Panggilan kesayangannya adalah Bone. Dia lahir pada tanggal 14 Februari 1925, di pesisir Desa Malalayang, Manado, Sulawesi Utara. Dia memulai pendidikan pada tahun 1931 di Hollands Inlandsche School (HIS) yang dilanjutkan dengan sekolah menengah Don Bosco di Manado. Di zaman Jepang, dia didik menjadi guru bahasa Jepang di sekolah Tomohon. 

Setelah Indonesia merdeka, pada 17 Juli 1946, Bone dengan Ranggong Daeng Romo dan Lainnya membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia (LAPRIS) yang selanjutnya membuat Belanda terganggu dan cemas. Bahkan seringkali dibuat kalang kabut atas perlawanan yang dilakukan LAPRIS.

Tanggal 28 September 1948, Monginsidi ditangkap Belanda karena pengkhianatan dari kawan seperjuangannya. Setelah tertangkap, dia divonis hukuman mati. Sebenarnya, Monginsidi punya hak untuk mengajukan grasi. Namun dia selalu menolak grasi yang diberikan. Menurutnya, lebih baik mati untuk Indonesia merdeka. 

Pada tanggal 5 September 1949 pukul 05.00 subuh, dengan gagah berani, Mongindisi berjalan tegap. Dia segera menuju lapangan untuk menjalankan eksekusi mati. Wolter benar-benar sudah siap. Dengan santai, dia menjabat tangan tim regu tembak yang bertugas untuk menghabisi nyawanya itu. 

“Laksanakan tugas saudara. Saudara-saudara hanya melaksanakan tugas dan perintah atasan. Saya maafkan saudara-saudara dan semoga Tuhan mengamouni dosa suadara-saudara,” katanya. 

Wolter menatap pasti setiap moncong senapan yang menuju ke tubuhnya. Dia bahkan menolak ketika matanya akan ditutup. Dia pun berucap dengan lantang, “dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku.” Lalu Wolter berteriak, “Merdeka....merdeka...merdeka...!” Delapan timah panas menembus tubuhnya. Wolter gugur dalam usia sangat muda, 24 tahun. 

Sebelum dieksekusi, Wolter Monginsidi sempat menulis dalam secarik kertas. Isinya “Setia hingga terakhir di dalam kenyakinan, 5 Sep 1949. Tulisan di secarik kertas itu ditemukan di dalam Alkitab saku baju Wolter Monginsidi dan ditulis sebelum dieksekusi dilakukan.