Senin, 12 Februari 2018 18:47:00
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Wildan Kusuma
Polisi Tembak Mati Bandar Sabu dan Ekstasi Jaringan Jakarta Malaysia
Ilustrasi.
Foto : istimewa
 

SUDIRMAN - Aparat kepolisian berhasil mengagalkan penyelundupan sabu sebanyak 239,7 kg dan 30 ribu butir ekstasi jaringan Malaysia-Jakarta. Dalam penyegapan, satu orang bandar, Lim Toh Hing alias Onglay, terpaksa harus ditembak mati lantaran mencoba melawan aparat saat dilakukan pengembangan.

Kepala Kepolidian RI Jenderal Tito Karnavian mengatakan peredaran sabu tersebut dikendalikan warga negara Malaysia bernama Onglay. Ketiga tersangka lain yang telah ditangkap adalah Joni alias Marvin Tandiano, Andi alias Liu Kim Liong dan Indrawan alias Alun.

"Total tersangka ada empat orang yang sudah kami tangkap dalam jaringan sabu Malaysia-Jakarta ini," kata Tito di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin, (12/2/2018).

Andi ditangkap di kawasan Raya Perancis Dadap Kosambi, karena merupakan jaringan narkoba Malaysia-Jakarta ini. Sedangkan Alun ditangkap kembali karena menugaskan Andi dalam membantu tersangka Joni menjaga dugang sabu tersebut. "Alun adalah narapidana lembaga pemasyarakatan di Jakarta," ujarnya.

Penyelundupan sabu tersebut diungkap oleh Tim Satgassus Polri dan Polda Metro Jaya di Komplek Pergudangan Harapan Dadap Jaya nomor 36 Gudang E12, Kelurahan Dadap, Kosambi, Kota Tangerang, Kamis pada 8 Februari 2018 lalu.

Tito menuturkan sabu dan ekstasi tersebut disimpan di dalam 12 mesin cuci yang ada di dalam gudang di kawasan Dadap. Pada saat penggerebekan di sana, tersangka yang diringkus adalah Joni.  

Setelah mengembangkan jaringan iji, barulah otak sindikat mereka, yakni Onglay berhasil diciduk di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, sehari setelahnya.

Pada Sabtu, 10 Februari kemarin, polisi membawa Onglay untuk kembali melakukan pengembangan ke kawasan Dadap. Namun, di sana, Onglay melawan dan berusaha merebut senjata petugas. "Akhirnya kami tembak ditempat dan meninggal saat mau dibawa ke rumah sakit."

Para tesangka dijerat pasal 144 ayat 2 junto pasal 132 ayat 1 subsider pasal 112 ayat 2 pas 132 ayat 1 Undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman mati, penjara seumur hidup atau pidana paling singkat enam tahun dan paling lama 20 tahun penjara.

 

Baca Juga

Berikan Komentar Anda