Kebayoran > Laporan Utama

Pembunuh Massal itu Bernama Miras Oplosan

Senin, 16 April 2018 14:23 WIB
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Ichwan Hasanudin

Konferensi pers minuman keras oplosan oleh Polres Metro Jakarta Selatan.
Konferensi pers minuman keras oplosan oleh Polres Metro Jakarta Selatan. (foto: dok. humas polres jaksel)
Foto : istimewa

Share this








Ratusan orang meregang nyawa oleh minuman keras (miras) oplosan. Saking banyaknya korban, miras oplosan ini bisa menjadi alat pembunuh massal.

KEBAYORAN – Harga yang murah dibanding minuman keras berlabel menjadi alasan miras oplosan diminati. Jelas saja murah, miras oplosan itu diracik secara serampangan. Bahan-bahan seperti methanol dicampur dengan bahan lainnya tanpa takaran dan dicampur semaunya.

Racikan serampangan miras oplosan membawa efek yang luar biasa. Kandungan methanol dengan kadar tinggi membuat peminumnya menjadi cepat mabuk. Padahal cairan ini bukan barang konsumsi sangat berbahaya jika diminum dalam kadar yang tinggi.

Methanol dan ethanol sangat berbahaya bagi tubuh. Laman halosehat.com menerangkan keduanya memiliki senyawa beracun yang bisa mengancam jiwa jika dikonsumsi. Jika dikonsumsi secara rutin, ethanol dapat merusak jaringan dalam tubuh, adanya gangguan ginjal, dan gangguan hati.

Sementara methahol membawa kerusakan pada hati, keracunan, kerusakan syaraf, sesak nafas, otot tidak dapat bergerak, dan kejang-kejang. Bahaya paling parah dari methano ini adalah kematian. “Bahaya paling mengancam adalah kematian,” tulis laman tersebut.

Ancaman kematian sudah nyata di depan mata. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Kompleks Mabes Polri pada Jumat (13/4/2018) lalu mengatakan, jumlah korban tewas di Jakarta dan Jawa Barat akibat menenggak miras oplosan terus bertambah.  

Di wilayah hukum Polda Metro Jaya, jumlah korbannya mencapai 33 orang. Rinciannya, 10 orang meninggal di Jakarta Timur, 8 orang meninggal di Jakarta Selatan, 6 orang meninggal di Depok, 7 orang meninggal di Bekasi Kota, dan 2 orang meninggal di Ciputat.

Di Jawa Barat lebih banyak lagi. Korban tewas akibat miras oplosan di Jabar sudah mencapai 58 orang. Rinciannya, yakni 41 orang di Cicalengka, 7 orang di Kota Bandung, 7 orang di Sukabumi, 2 orang di Cianjur, dan 1 orang di Ciamis.

Puluhan nyawa melayang akibat miras oplosan membuat Wakapolri Komjen Pol Saffrudin angkat bicara. “Ini fenomena gila,” ucapnya geram. Saking geramnya, dirinya meminta kepada Kepolisan Daerah untuk menyelesaikan masalah miras oplosan ini.

“Bulan ini harus selesai, jangan sampai bulan Ramadhan ada Miras. Semua dicek perizinannya, mekanisme penjualan, jangan hanya masalahnya yang diselesaikan namun sistemnya,” pinta Jenderal Bintang Tiga ini di Mapolres Jakarta Selatan, Rabu (11/4/2018).

Bisa dijerat pasal pembunuhan berencana
Harus diakui, peredaran miras oplosan semakin meluas dan telah memakan banyak korban. Meski begitu, pembuat dan pengedarnya seakan tidak punya rasa takut. Produksi miras oplosan tetap merajalela di berbagai daerah. Terbaru adalah ditemukannya tempat pembuatan miras bawah tanah di wilayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Pihak kepolisian pun terus berupaya membongkar produksi dan peredaran miras oplosan ini. Bahkan, kepolisian akan mengkaji kemungkinan menerapkan pasal pembunuhan berencana bagi pembuat dan pengedar miras oplosan tersebut.

“Ini kontsruksi pasalnya baru UU Pangan dan UU Kesehatan. Tidak menutup kemungkinan kita konstruksikan pada perencanaan pembunuhan. Peracik dan penjual bisa terjerat pasal itu,” ucap Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Mohammad Iqbal di Mapolres Jakarta Selatan, Rabu (11/4/2018).

Ketua Komisi III DPD RI Fahira Idris dalam website miliknya menyatakan maraknya miras oplosan disebabkan oleh tidak adanya undang-undang tentang miras dan penegakan hukum yang lemah. “Sudahlah undang-undang miras tidak ada, penegakan hukum lemahm ditambah lagi bahan baku utama miras oplosan yaitu etanol dan metahol dijual bebas bak kacang goreng,” tulisnya di www.fahiraindris.id.

Dirinya memberi solusi, jika ingin memberantas miras oplosan, Pemerintah harus mulai melakukan pengawasan yang ketat terhadap penjualan ethanol dan methanol. Pengawasan itu bertujuan untuk memastikan bahwa kedua zat tersebut memang diperuntukkan sesuai kegunaan dan hanya dibeli oleh pihak-pihak tertentu seperti industri atau lembaga penelitian.

“Membuat miras oplosan itu sangat mudah. Tinggal beli etanol atau metanol kemudian diracik atau dioplos dengan bahan lain mulai dari sirup sampai minuman energi, dikemas kemudian dijual. Semudah itu. Jadi walaupun produsen dan pengedarnya ditangkap, tidak akan menyelesaikan masalah karena bahan bakunya begitu mudah didapat,” ucap Senator Jakarta ini.