Jumat, 22 Juni 2018 18:00:00
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Ichwan Hasanudin
Mengenang Sejarah Singkat Kota Jakarta
Museum Fatahillah.
Foto : istimewa
 

KEBAYORAN – Jakarta hari ini tanggal 22 Juni tengah merayakan hari jadinya yang ke-491 tahun. Di tanggal ini juga banyak rangkaian acara digelar di beberapa lokasi. Mulai dari Taman Impian Jaya Ancol hingga Pekan Raya Jakarta.

Hampir semua warga Jakarta pasti ingat tanggal ini. Namun, mungkin hanya sedikit orang yang tahu bagaimana tanggal 22 Juni ditetapkan sebagai hari jadi Kota Jakarta.

Memang tidak banyak catatan sejarah yang menerangkan secara pasti bahwa tanggal 22 Juni bisa dikatakan sebagai hari lahir Kota Jakarta. Kalangan sejarahwan dan budayawan pun masih silang pendapat mengenai penetapan tanggal ini.

Alwi Shahab dalam ‘Dongeng’ HUT Jakarta menuliskan hari lahir Kota Jakarta pada 22 Juni 1527 masih diperdebatkan. Dua orang profesor berdebat mengenai penetapan tanggal tersebut.

Orang yang pertama kali menetapkan bahwa tahun 1527 sebagai tahun kelahiran Jayakarta adalah almarhum Prof. Dr. PA Hussein Djajaningrat. Hal itu tertuang dalam disertasinya berjudul Critische Beschouwaring van den Sejarah Banten yang dipertahankan di Universitas Leiden, Belanda.

Dalam disertasi itu, Prof. Hussein menyatakan Jayakarta diartikan volbrachtezege, yakni sebuah ‘kemenangan yang besar’ setelah bandar (Sunda Kelapa) berhasil direbut dari Kerajaan Pajajaran dan berhasil mengusir Portugis.

Mengenai penentuan HUT Jakarta, Prof. Dr. Sukanto, seorang guru besar sejarah dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam sebuah risalah berjudul Dari Djajakarta ke Djakarta. Dia mencoba melengkapi tahun kelahiran Jayakarta dengan tanggal dan bulannya, yaitu 22 Juni 1527.

Prof Dr Sukanto menduga hari lahir kota Jayakarta (Jakarta) 22 Juni 1527 pada saat peringatan Maulid Nabi. Pendapat ini diterima oleh Pemda DKI Jakarta Raya sebagai hari lahir resmi kota Jakarta. HUT Jakarta ini baru dirayakan sejak 1957 pada masa Wali Kota Sudiro.

Budayawan Betawi Ridwan Saidi dalam sebuah diskusi terbatas bertema "Kontroversi Hari Jadi Jakarta" di Fadly Zon Library, 22 Juni 2016. Dia mengkritik penyelenggaraan Hari Ulang Tahun Jakarta yang diperingati setiap tanggal 22 Juni. Berdasarkan fakta sejarah, seharusnya HUT Jakarta diperingati setiap 3 September.

"Kita harus mengacu kepada sejarah yang benar, bahwa Jakarta ini ditetapkan sebagai Kota Praja pada tanggal 3 September 1945 oleh Presiden Pertama Republik Indonesia, Bung Karno. Itu hari jadi yang benar," tandasnya.

Ridwan menegaskan penetapan hari jadi atas dasar pemikiran itu salah. "Soal nama Jayakarta sendiri, telah pernah ada sebagai nama sebuah kecamatan tempat lahirnya salah satu putri Prabu Siliwangi di dekat Kawasan Kuningan. Jadi, tetap kontroversi," katanya.

Namun sejarawan Adolf Heyken SJ mengatakan hari jadi Jakarta hanyalah sebuah dogeng. Hal itu merujuk minimnya atau bahkan tidak adanya dokomen yang menguatkan dan menyebutkan nama Jayakarta. Bahkan setelah 50 tahun berkuasa, VOC masih menyebut nama Sunda Kelapa.

”Fatahillah orang Arab, jelaslah tidak mungkin apabila orang Arab memberi nama sesuatu dengan bahasa sansekerta dan Jayakarta adalah nama sanksekerta. Jadi itu semua dongeng supaya Jakarta memiliki hari ulang tahun,” kata Heyken dikutip dari tulisan Alwi Shahab berjudul ‘Dongeng’ HUT Jakarta.

Terlepas dari benar tidaknya tanggal 22 Juni 1527 sebagai hari lahir kota Jakarta, namun yang bisa dipastkan bahwa nama Jakarta ditetapkan oleh Jepang pada 8 Desember 1942. Saat itu, pemerintahan Jepang melarang semua atribut dan penggunaan bahasa Belanda. Sehingga nama Batavia diubah menjadi Jakarta.

 

Baca Juga

Berikan Komentar Anda