Kebayoran > Laporan Utama

Mengembalikan Citra Kebayoran Baru

Jumat, 30 Juni 2017 16:15 WIB
Editor : Admin | Reporter : Rachli Anugrah Rizky

Brawijaya menjadi wilayah yang masih cukup banyak warisan hunian dan taman.
Brawijaya menjadi wilayah yang masih cukup banyak warisan hunian dan taman.
Foto : Azhari Setiawan

Share this








Dengan menjaga keasrian dan keasliannya, Kebayoran Baru bisa menjadi percontohan taman tropis yang bisa diterapkan di seluruh Indonesia.

Info Utama - Untuk mengembalikan citra Kebayoran Baru sebagai sebuah kota taman yang idela tidak mudah. Ada banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi. Pengamat Tata Kota Nirwono Joga mengakui Kebayoran Baru menjadi wilayah incaran para pelaku bisnis. Perkembangan yang pesat dan lingkungan yang nyaman menjadi daya tarik orang untuk berinvestasi. Jika tidak aturan yang ketat dari Pemerintah Kota Jakarta Selatan, maka tidak lama lagi rumah-rumah di Kebayoran Baru akan beralih fungsi menjadi tempat usaha.

Untuk itu memasuki usia yang ke-70 tahun pada 2019, Nirwono berharap Kebayoran Baru bisa ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. “Semua yang ada di dalamnya harus dilakukan konservasi mulai dari bangunannya, taman-tamannya, izin-izinnya yang akan dikeluarkan,” jelas salah satu pendiri Kemitraan Habitat ini. Semua itu dilakukan untuk satu tujuan jangan sampai merusak identitas khas Kebayoran Baru.

Bahkan, jika Pemprov DKI serius, lanjutnya, Kebayoran memiliki potensi yang bisa dikembangkan. “Kebayoran Baru bisa menjadi percontohan atau laboratorium pengembangan kota taman tropis yang bisa diduplikasi ke kota-kota lain di Indonesia,” ucap Nirwono. Kondisi Kebayoran ditata kembali, dipertahankan keasrian dan keaslian bangunan dan lingkungannya. Fungsi atau nilai baru bisa saja dimasukan tanpa harus merusak existing Kebayoran Baru.

Salah satunya adanya Gedung Sekretarian ASEAN. Potensi ini bisa dikembangkan menjadi daya tarik wisata dengan pengembangan Kebayoran Baru sebagai “Ibu Kota ASEAN”. Nirwono mencontohkan Pemprov bisa menambah salah satu taman yang representatif menjadi taman ASEAN atau menyelanggarakan festival taman ASEAN di Kebayoran Baru. “Jika tidak ditambah nilai baru hanya mempertahankan keaslian dan keasriannya, maka Kebayoran Baru tidak akan bisa bertahan dengan perubahan yang ada di sekitarnya,” ucapnya.

Upaya menjadikan Kebayoran sebagai cagar budaya sangat didukung oleh h Moh. Sidik. Warga asli Kelurahan Pulo ini juga menilai mempertahankan keaslian Kebayoran sangat bermanfaat bagi generasi mendatang. Meskipun terbilang terlambat, sisa-sisa warisan yang ada harus tetap dipertahankan. “Iya harus. Kan ini warisan sejarah, harus dijaga. Anak cucu kita nanti bisa lihat dan belajar banyak,” jelas pria berusia 65 tahun ini.