Minggu, 01 Juli 2018 14:51:00
Editor : Galih Pratama | Reporter : Rachli Anugrah Rizky
Lakon Gemintang Sarat Akan Sindiran Dunia Politik Indonesia
Akting lakon Gemintang dari Teater Koma.
Foto : Azhari Setiawan
 

JAKARTA - Setelah berkiprah selama 41 tahun di dunia seni peran, untuk kali pertamanya Teater Koma mengangkat tema fiksi ilmiah dalam pertunjukan mereka. Gemintang, itulah judul lakon produksi ke-153 Teater Koma.

Bukan Teater Koma jika dalam setiap judul lakon yang dipentaskannya tidak mengandung sentilan politik. Secara kelseluruhan, lakon yang disutradarai oleh Nano Riantiarno ini menceritakan cuplikan keluarga koruptor.

Akan tetapi, cerita yang sarat akan pesan ini dibalut dengan kisah cinta seorang Doktor Astronomi Arjuna Wibowo dengan Ssumphphwttsspasbazaliapahssttphph atau Sumbrada yang merupakan putri penasehat raja dari planet Ssumvitphphpah.

Wibowo Sumardji, ayah Arjuna, adalah seorang tokoh partai yang menjadi anggota Dewan Rakyat. Dirinya tergiur akan kekuasaan dan kekayaan. Untuk menggapai tujuannya, ia rela melakukan segala cara, seperti melakukan tindak korupsi dan mengabaikan keluarga.

Di dalam keluarga tersebut ada Astini, ibu Arjuna. Kakak Arjuna, DR. Samudra yang memiliki kebiasaan sama dengan sang ayah, korupsi. Lalu Pratiwi, adik Arjuna yang pintar dan selalu jadi jawara di sekolah namun terjerat kehidupan malam.

Ada istri kedua Wibowo, Niken. Ibunda Wibowo, Sahlinaz, yang selalu menyebut dirinya Kejora, dan Sahranasyad, kakak Wibowo yang selalu menyebut dirinya Rambo. Ada juga dua penasihat Wibowo, Aprat Sakiro, kakak Astini, dan Subrat Balia, paman Niken.

Masing-masing dari karakter lakon ini membawa pesan tersendiri. Misalnya, kehidupan istri Wibowo di luar rumah yang seolah menjadi gambaran sosialita, seperti kumpul di kafe dan bergosip dengan rekan-rekannya.

Tak hanya itu, Pratiwi, adik Arjuna, dalam cerita karakternya menggambarkan pergejolakan para remaja jaman sekarang yang tidak mau diatur orang tua dan menuntut kebebasan. Kehidupan malam menjadi jalan keluar saat bosan dengan keluarga.

Selain itu, dalam dialog yang dilakukan oleh Aprat Sakiro dan Subrat Balia menarik perhatian penonton. Pasalnya, mereka menceritakan soal karakter presiden demi presiden hingga tingkah laku seorang koruptor.

Sindiran akan bakpau, tiang listrik, hingga pemesanan kamar di rumah sakit pun tak luput disinggung oleh mereka berdua hingga mengundang gelak tawa dari para penontong yang datang ke Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Pementasan ini berlangsung tanggal 29 Juni hingga 8 Juli 2018. Sang sutradara Nano Riantiarno menyatakan, "Inilah kisah manusia yang mencari cinta di negeri tanpa cinta. Karena, jika masih ada korupsi berarti itu negeri tanpa cinta".

Baca Juga

Berikan Komentar Anda