Kebayoran > Laporan Utama

Kekayaan Warisan Arsitektur Jengki

Jumat, 30 Juni 2017 12:15 WIB
Editor : | Reporter : Rachli Anugrah Rizky

Rumah berarsitektur Jengki yang masih tersisa di jalan Dharmawangsa.
Rumah berarsitektur Jengki yang masih tersisa di jalan Dharmawangsa.
Foto : Azhari Setiawan

Share this








Kebayoran Baru memiliki kekayaan warisan budaya arsitektur bangunan yang sederhana, modern, dan tropis yang semestinya harus dilindungi.

Info Utama - Sebagai bagian dari sejarah perkembangan Kota Jakarta, Kebayoran Baru memiliki banyak warisan budaya yang harus dijaga kelestariannya. Sebagai kota taman tropis, Kebayoran Baru punya dominasi ruang terbuka hijau (RTH) baik berupa taman yang hampir merata di setiap kelurahan. Sebut saja, Taman Puring, Taman Patung Tumbuh Kembang, Taman Langsat, Taman Leuser, Taman Ayodya Barito, Taman Christina Marta Tiahahu, dan Taman PKK.

Selain taman, Kebayoran Baru juga menyimpan kekayaan warisan arsitektur bangunan yang dinamakan Jengki. Pengamat Tata Kota Nirwono Joga menerangkan Kebayoran Baru memiliki sebuah kekhasan bangunan yang kaya dan sesuai dengan iklim tropis. “Bangunan (Jengki) sangat adaptasi dengan iklim tropis yang ada di Indonesia,” katanya. Dengan arsitektur Jengki ini, rumah tidak memerlukan pendingin ruangan (AC) karena sirkulasi udara tertata baik. “Ini menjadi (bisa) percontohan yang bisa dikembangkan,” tambah Nirwono.

Sisa-sisa berbagai tipe bangunan hunian dengan berbagai ukuran dan gaya berbeda ini masih bisa dilihat. Tipe bangunan rumah mewah ada di sepanjang Jalan Sriwijaya, Jalan Adityawarman, Jalan Galuh, Jalan Kertanegara, Jalan Daksa, Jalan Erlangga, Jalan Pulokambeng. Untuk rumah tipe sedang ada di Jalan Lamandau dan Jalan Mendawai. Sementara untuk rumah kecil tunggal ataupun gandeng ada di Jalan Kerinci  dan Jalan Gandaria.

Seiring perkembangan rumah-rumah khas Jengki itu mulai banyak hilang. Moh. Sidik (65 tahun) menceritakan tipe rumah Jengki tunggal atau gandeng masih banyak berdiri di kawasan Brawijaya. “Tahun 80an masih banyak rumah kayak gitu. Kalo yang gandeng ada di depan sekolah Pangudi Luhur. Kayaknya sekarang udah gak ada lagi,” cerita warga Kelurahan Pulo ini.   

Sidik sangat menyayangkan hilangnya warisan hunian Jengki tersebut. “Sayang sih. Itu kan rumah khas Kebayoran,” katanya. Bahkan Nirwono menilai kekayaan Kebayoran Baru itu harus dilihat oleh pemerintah dan masyarakat sebagai aset dan sejarah kota. Dengan dianggap sebagai aset, banyak orang bisa datang dan belajar tentang arsitektur bangunan khas tropis, menduplikasi keunikannya, dan memberi manfaat positif ke rumah-rumah lainnya. “Kalau itu yang muncul, harusnya pemerintah melakukan perlindungan pelestarian bangunan-bangunan tersebut. Bahkan didokumentasikan dengan baik,” tegas Nirwono.