Jaksa Hadirkan Lima Saksi Pelapor di Sidang Ahok Hari Ini
Kebayoran > Laporan Utama

Jaksa Hadirkan Lima Saksi Pelapor di Sidang Ahok Hari Ini

Selasa, 10 Januari 2017 09:18 WIB
Editor : Dany Putra | Sumber : DBS

Sidang Ahok.
Sidang Ahok.

Share this





Saksi pertama Irena Handono, Pedri Kasman, Ibnu Baskoro, Muhammad Burhanuddin, dan Willyudin Abdul Rasyid.

JAKARTA – Sidang kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), kembali digelar Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, di Aula Gedung Kementerian Pertanian, Jalan HM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (1/10/2016) pagi.

Ahok datang menghadiri sidang keempatnya itu sekitar pukul 08:00 WIB. Ahok yang mengenakan  baju batik berwarna biru dan celana hitam lengkap dengan kacamatanya langsung masuk ke Gedung Kementan melalui pintu selasar gedung A yang jaraknya jauh dari gedung Auditorium sebagai lokasi sidang.

Agenda sidang kali ini adalah mendengarkan keterangan dari lima orang saksi pelapor yang didatangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU).  Saksi pertama yang dihadirkan adalah Irena Handono. Saksi kedua adalah Sekretaris Pusat Pemuda Muhammadiyah Pedri Kasman. Sementara itu saksi ketiga adalah Ibnu Baskoro. Saksi keempat Muhammad Burhanuddin yang dijadwalkan datang di persidangan pekan lalu, namun absen dengan alasan sakit.

Sedangkan saksi terakhir adalah Willyudin Abdul Rasyid Dhani yang merupakan Sekretaris Forum Umat Islam Bogor. Dia tercatat pernah menjadi anggota MUI Kota Bogor.

Seperti diketahui, dalam persidangan Selasa (3/1/2016), jaksa menghadirkan 4 saksi pelapor atas nama Habib Novel Chaidir Bamukmin, Habib Moechsin Alatas, Gusjoy dan terakhir Syamsu Hilal.







Kebayoran > Laporan Utama

Saksi Kasus Ahok Bantah Ancam Polisi

Selasa, 17 Januari 2017 18:09 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Sidang Ahok
Sidang Ahok

Share this





Williyudin Abdul Rasyid Dhani membantah telah mengancam aparat kepolisian saat membuat laporan tentang adanya dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok.

PASAR MINGGU – Salah satu saksi kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Williyudin Abdul Rasyid Dhani membantah telah mengancam aparat kepolisian saat membuat laporan tentang adanya dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok.

Justru saat dirinya membuat laporan di Polres Kota Bogor sempat ditolak pihak kepolisian, sebab kejadiannya berada di Kepulauan Seribu bukan di Bogor, Jawa Barat.

"Sempat ditolak, tapi saya ngomong ke polisinya, kalo laporan saya tidak diterima, besok itu akan ada ribuan orang yang akan melaporkan secara sendiri-sendiri atau bersama-sama," kata dia usai persidangan, Selasa (17/1/2017).

Dia menambahkan, perkataannya tersebut bukan bermaksud untuk mengancam pihak kepolisian. Namun, sebagai informasi bahwa dirinya sebagai perwakilan umat muslim di Bogor, Jawa Barat.

"Itu bukan ancaman, maksud saya yang akan melaporkan banyak. Cuma cukup diwakilkan ke saya, bukan mengancam dan mau demo," beber dia.

Lebih jauh dia juga menanggapi pernyataan dua anggota Polresta Bogor, yang mengatakan dia datang berempat. Menurutnya, saat itu dia hanya datang berdua dengan seorang teman. "Mana mungkin kami datang berempat, sedangkan satu motor isinya cuma berdua," jelasnya

Sebagai informasi, dua anggota Polresta Bogor yakni Brigadir Agung Hermawan dan Bripda Ahmad Hamdani di pertemukan dengan saksi Williyudin oleh pihak majelis hakim. Dalam kesaksiannya, dua anggota polisi tersebut memberikan keterangan yang berbeda dengan keterangan Williyudin.







Kebayoran > Laporan Utama

Saksi Kasus Ahok Bantah Berkata Bohong di Depan Majelis Hakim

Selasa, 17 Januari 2017 17:56 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Williyudin Abdul Rasyid Dhani
Williyudin Abdul Rasyid Dhani

Share this





Salah satu materi persidangan yang dianggap berisi kebohongan yakni isi laporan polisi yang dibuat oleh Williyudin Abdul Rasyid Dhani.

PASAR MINGGU - Williyudin Abdul Rasyid Dhani, yang menjadi saksi dalam kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), membantah tuduhan tim kuasa hukum Ahok jika dirinya telah memberikan keterangan palsu dimuka majelis hakim.

Salah satu materi persidangan yang dianggap berisi kebohongan yakni isi laporan polisi yang dibuat oleh Williyudin. Menurut tim kuasa hukum Ahok, ada kejanggalan dalam isi laporan tersebut.

Dalam isi laporan tersebut, tertulis Williyudin melihat video dugaan penistaan agama pada tanggal 6 September 2016. Sedangkan kejadian dalam video tersebut baru terjadi pada 27 September 2016.

"Pertama ini menunjukan ketidak professional polisi dalam menangani perkara pelaporan, karena saya berkali-kali mengkoreksi, bahkan saya menyodorkan kertas berisi tulisan kronologis saya," kata Williyudin usai persidangan, Selasa (17/1/2017).

Menurut Williyudin, polisi telah membuat kesalahan dalam menetapkan tanggal. Sebab, yang sebenarnya terjadi bukan tanggal 6 September melainkan 6 Oktober 2016. "Yang dipermasalahkan 6 Oktober, bukan 6 September. Kok bisa mundur smp satu bulan," jelas dia.

Atas dasar itu, dirinya pun menuding ada main mata antara pihak kepolisian dengan terdakwa kasus penistaan agama Ahok. "Karena ini merugikan orang-orang yang mencari keadilan hukum secara transparan, jujur dan adil," tutup Williyudin.







Kebayoran > Laporan Utama

Massa Kontra Ahok Gelar Pameran Lukisan

Selasa, 17 Januari 2017 17:48 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Tenda pelukis yang berdiri disepanjang Jalan RM Harsono, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Tenda pelukis yang berdiri disepanjang Jalan RM Harsono, Pasar Minggu, Jakarta Selatan

Share this





Nantinya, hasil karya para pelukis dalam negeri tersebut akan dilelang dan dana hasil pelelangan akan sepenuhnya didonasi bagi kebutuhan massa .

PASAR MINGGU – Dalam aksi mengawal jalannya persidangan kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), seorang simpatisan kubu kontra Ahok terlihat mendirikan tenda disepanjang Jalan RM Harsono, Pasar Minggu, Jakarta Selatan didepan Gedung Kementrian Pertanian (Kementan), Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Dari pantauan Infonitas.com, terlihat 13 tenda berjejer rapih. Tenda tersebut diperuntukan bagi Ormas Parmusi (Persaudaraan Muslim Indonesia), yang tengah melukis. Nantinya, lukisan yang dibuat akan dilelang sebagai dana bagi massa yang datang untuk mengawal sidang Ahok.

"Kami ingin hadirkan ke masyarakat bahwa Islam juga harus terlibat dalam gerakan kebudayaan, Islam membawa nilai-nilai keindahan," ujar Ketua Departemen Seni dan Budaya Parmusi, Chavchay Syaifullah di lokasi, Selasa (17/1/2017).

Chavchay menambahkan, pelukis yang didatangkan ke lokasi aksi kawal persidangan Ahok ini bukan dari pihak massa kontra Ahok. Melainkan, mahasiswa dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) serta beberapa pelukis lain.

Nantinya, hasil karya para pelukis dalam negeri tersebut akan dilelang dan dana hasil pelelangan akan sepenuhnya didonasi bagi kebutuhan massa pengawal sidang Ahok dari kubu kontra. "Kami lelang dalam minggu ini, hasil lelangnya untuk bantu pendanaan aksi," tukas Chavchay.

Sebagai informasi, Parmusi menjadi salah satu Ormas yang datang saat persidangan kasus dugaan penistaan agama. Selain itu ada GNPF MUI (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI), selalu senantiasa hadir mengawal persidangan Ahok.







Kebayoran > Laporan Utama

Dua Saksi Sidang Ahok Hari Ini, Mangkir dari Panggilan Jaksa

Selasa, 17 Januari 2017 17:30 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Sidang Ahok
Sidang Ahok

Share this





Saksi yang tidak hadir dalam persidangan adala Muhammad Asroi Saputra dan Iman Sudirman.

PASAR MINGGU – Sidang keenam kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dijadwalkan mendengarkan keterangan enam orang saksi, yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), di Auditorium Kementrian Pertanian (Kementan), Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (17/1/2017).

Namun, dua dari enam saksi yang dijadwalkan mangkir dari panggilan. Dua saksi tersebut adalah Muhammad Asroi Saputra dan Iman Sudirman yang tidak diketahui sebab mangkirnya dari panggilan sebagai saksi.

"Saksi tiga (Muhammad Asroi Saputra) dan empat (Iman Sudirman) tidak datang sidang," kata salah seorang dari tim penasihat Ahok, Rian Ernest di Auditorium Kementan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Rian melanjutkan, saksi pertama yang dihadirkan adalah dua anggota kepolisian dari Polres Kota Bogor yang menerima laporan polisi yang dibuat oleh Willyuddin Dhani.

“Bripka Agung Hermawan dari Polres Bogor Banit SPKT (menerima laporan masyarakat) dihadirkan (sebagai saksi pertama)," tukas Rian.







Kebayoran > Laporan Utama

Kuasa Hukum Ahok Sebut Jawaban Saksi Diarahkan Seseorang

Selasa, 17 Januari 2017 17:23 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Kuasa Hukum Ahok, Humphrey R Djemat
Kuasa Hukum Ahok, Humphrey R Djemat

Share this





Saksi yang dimaksud ialah, Burhanuddin dan Gus Joy yang dihadirkan JPU pada sidang keempat dan kelima.

PASAR MINGGU - Tim kuasa hukum terdakwa kasus dugaan penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Humphrey R. Djemat mengatakan, saksi yang dihadirkan pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendapat arahan dari seseorang dalam memberikan kesaksiannya.

Saksi yang dimaksud ialah, Burhanuddin dan Gus Joy yang dihadirkan JPU pada sidang keempat dan kelima. Menurut Humphrey, dirinya sempat menganalisa kata-kata yang dituduhkan ke kliennya yang mengandung penistaan agama.

"Tentang mengenai kata-kata yang ada penistaan agamanya, Titik komanya sama. Kalau gak salah, Burhanuddin sama Gus Joy kan hanya 40 karakter kata," ungkap Humphrey di Auditorium Kementrian Pertanian (Kementan), Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (17/1/2017).

Humphrey menambahkan, dengan adanya persamaan antara dua saksi tersebut, tim kuasa hukum Ahok mengira saksi yang dihadirkan merupakan orang suruhan yang sengaja dihadirkan untuk menyudutkan Ahok.

"Pertanyaannya sama, jawabannya sama. Titik koma sama, bayangkan, apa mungkin. Gak mungkin dong kecuali ada yang ngajarin, ini jawabnya gimana," tegas Humphrey.







Kebayoran > Laporan Utama

1.500 Personil Polisi Kawal Debat Cagub Nanti Malam

Jumat, 13 Januari 2017 11:17 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Ilustrasi Personel Kepolisian
Ilustrasi Personel Kepolisian

Share this





Pengamanan saat debat akan disiagakan di empat titik. Mulai dari luar hingga kedalam gedung.

KEBAYORAN BARU – Jelang debat pasangan calon (Paslon) gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, yang akan diselenggarakan pukul 19.30 WIB di Hotel Bidakara, Tebet, Jakarta Selatan, pihak kepolisian akan menyiagakan 1.500 personil untuk memperlancar proses debat yang diselenggarakan KPU DKI Jakarta.

Kepala Sub Bagian Humas Polres Metro Jakarta Selatan, Kompol Purwanta mengatakan, pembagian pengamanan akan dibagi empat titik. "Nanti dibagi empat titik. Mulai dari luar hingga kedalam," terang dia saat dihubungi Infonitas.com, Jumat (13/1/2017).

"Terdiri ring 1, 2, 3, dan 4. Ring 1 itu bagian dalam. Ring 2 itu bagian samping kanan kiri ruangan. Ring 3 samping luar di jalanan, ring 4 di luar tempat keluar masuk," terangnya lagi.

Sementara itu, sambung Purwanta, untuk massa pendukung yang diprediksi akan memenuhi Hotel Bidakara, pihak kepolisian akan membatasi antar massa pendukung. "Sudah dibagi juga. Untuk yg di luar ada kanalisasi untuk masing-masing pasangan," bebernya.

Lalu, Purwanta menegaskan, untuk pengalihan arus lalu lintas akan bersifat situasional. "Lalu lintas sudah diantisipasi dan diatur sebaik mungkin hingga tidak ada pengalihan arus," tandas Purwanta.

 







Kebayoran > Laporan Utama

Warga Bantaran Kali Jelawe Bongkar Bangunannya Sendiri

Kamis, 12 Januari 2017 09:34 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Warga melakukan kerja bakti melakukan pembongkaran bangunan
Warga melakukan kerja bakti melakukan pembongkaran bangunan

Share this





Maraknya bangunan liar diatas Kali Jelawe membuat kawasan tersebut rentan banjir.

KEBAYORAN BARU – Ribuan warga di Jalan Hang Lekir RT 11/06, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan membongkar sendiri bangunannya yang berdiri diatas Kali Jelawe, Jakarta Selatan. Pembongkaran tersebut merupakan upaya normalisasi kali untuk mengatasi banjir  yang kerap terjadi di kawasan tersebut.

Camat Kebayoran Baru Fidiyah Rokhim menuturkan, maraknya bangunan liar diatas Kali Jelawe membuat kawasan tersebut rentan banjir. "Setelah puluhan tahun, akhirnya warga menyadari kesalahannya dan hari ini membongkar sendiri bangunannya yang mengokupasi kali," ujarnya dilokasi, Rabu (11/1/2017).

Sementara itu, Ketua RT 11/06 Kelurahan Gunung, Haryo Hendro menambahkan jika hujan besar datang kawasan tersebut kerap didera banjir. "Kami memang salah membangun bangunan tambahan sehingga menutupi badan kali. Akibatnya jika hujan deras, rumah di sini kebanjiran sekitar 30-50 centimeter,” terangnya.

Seperti diketahui, Kali Jelawe sepanjang 300 meter dan lebar 7 meter tertutup habis oleh bangunan permanen warga yang mayoritas memiliki dua lantai. Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Selatan sudah menyurati Lurah Gunung agar warga setempat untuk melakukan pembongkaran.







Kebayoran > Laporan Utama

Alasan Polisi Pisahkan Massa Pro dan Kontra Ahok Sangat Jauh

Selasa, 10 Januari 2017 10:53 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono

Share this





Polisi memutuskan memperlebar jarak antara kedua massa tersebut agar tidak terjadi kericuhan seperti terjadipada sidang sebelumnya.

PASAR MINGGU – Pihak kepolisian memisahkan massa pro dan kontra Ahok dengan jarak yang cukup jauh. Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono, hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi adanya kericuhan seperti persidangan sebelumnya.

Argo menjelaskan, sebelumnya pihak kepolisian sudah melakukan koordinasi dengan massa pro dan kontra Ahok. Atas dasar itu, pihaknya memutuskan memperlebar jarak antara kedua massa tersebut. "Itu bagian dari cara bertindak kepolisian untuk mengamankan sidang," kata Argo di Gedung Kementrian Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (10/1/2017).

Argo menambahkan, untuk sidang kelima ini, pihak kepolisian tidak mengubah cara pengamanan. Hanya merubah penempatan personil kepolisian dari yang sebelumnya. "Sebenarnya sama ya (pengamanan), cuma pengamanan berbedanya di sini jalan di sini ditutup dialih arus. Kalau kemarin tetap lewat dengan padat merayap," beber Argo.

Sebelumnya diberitakan, massa pendukung Ahok dan kontra Ahok kembali melakukan aksi saat sidang kelima perkara Ahok digelar hari ini. Berbeda dengan aksi mereka pada sidang keempat, pada aksi mereka di sidang kelima, kedua belah kubu melakukan aksi sekitar 100 meter jauhnya dari lokasi sidang. Mereka pun dibatasi dengan kawat berduri, mobil baracudan, dan water canon, serta dijaga oleh banyak personel kepolisian.

Untuk diketahui, sidang lanjutan perkara dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) digelar hari ini, Selasa 10 Januari 2017. Sidang hari ini merupakan sidang kelima dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) itu akan kembali digelar di Gedung Auditorium Kementerian Pertanian (Kementan), Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Saat ini, Ahok berstatus sebagai terdakwa perkara dugaan penistaan agama. Pernyataannya terkait Surat Al-Maidah Ayat 51 membawanya ke meja hijau. Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa Ahok dengan Pasal 156 a KUHP tentang penistaan agama dengan ancaman penjara paling lama lima tahun.







Kebayoran > Laporan Utama

Pendukung Ahok: FPI Bubarkan, Ahok bebaskan

Selasa, 10 Januari 2017 10:19 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Relawan pendukung Ahok di depan Gedung Kementan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Relawan pendukung Ahok di depan Gedung Kementan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Share this





Massa pro Ahok menyuarakan sidang kelima kasus penistaan agama yang sedang diikuti Ahok menganggu kampanye Ahok.

PASAR MINGGU - Pendukung terdakwa kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), mulai memenuhi depan Gedung Kementerian Pertanian (Kementan), Jalan RM Harsono, Ragunan, Pasar Minggu Jakarta Selatan tempat digelarnya sidang kasus dugaan penistaan agama.

Dalam orasinya, massa pro Ahok mengumandangkan seruan agar polisi segera mengusut kasus pemukulan Kader PDI Perjuangan oleh anggota Front Pembela Islam (FPI). "Ada kader dipukuli, dikeroyok FPI, kami harus lawan. Bubarkan FPI!," tegas orator diatas mobil berpengeras suara di depan Kantor Kementan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (10/1/2017).

Selain itu, massa pro Ahok juga menyuarakan bahwa sidang kelima kasus penistaan agama yang sedang diikuti Ahok menganggu kampanyenya. "Ini sudah masuk minggu kelima. Sidang ini mengganggu kampanye pak Ahok," terang orator.

Terakhir, massa pro Ahok yang rata-rata mengunakan kemeja kotak-kotak tersebut meminta agar Ormas Islam FPI dibubarkan. "Indonesia dalam bencana dijajajah bangsa sendiri. Mari rapatkan barisan untuk melawan penindasan. Agama jadi jualan untuk bisa berkuasa. FPI radikal, FPI perusak, FPI musuh besar bangsa," nyanyi para pendukung Ahok.

"FPI bubarkan, Basuki bebaskan!," sambung mereka.







Kebayoran > Laporan Utama

Ada Sidang Ahok, Jalan RM Harsono Ditutup

Selasa, 10 Januari 2017 10:02 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Suasana di luar Kementrian Pertanian yang disesaki massa pro dan kontra Ahok
Suasana di luar Kementrian Pertanian yang disesaki massa pro dan kontra Ahok

Share this





Polisi mengimbau agar warga mencari alternatif lain jika hendak menuju Kebun Binatang Ragunan.

PASAR MINGGU – Jalan Raya RM Harsono, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan ditutup total. Jalan yang biasa digunakan sebagai akses warga dari dan menuju Kebun Binatang Ragunan, tidak boleh dilintasi kendaraan apa pun termasuk Transjakarta.

Jalur itu ditutup total sebab ada sidang lanjutan kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Gedung Kementerian Pertanian. Jalanan bakal ditutup sepanjang sidang berlangsung.

Kapala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengimbau warga mencari alternatif lain jika hendak menuju Kebun Binatang Ragunan.

"Masyarakat agar jangan melewati depan RM Harsono sini karena ditutup silahkan untuk melewati jalur yang lain dengan arah dari petugas kepolisian yang di lapangan," kata Argo di Gedung Kementan, Jakarta Selatan, Selasa (10/1/2017).

Akses jalan RM Harsono, bukan hanya ditutup bagi kendaraan. Warga yang berjalan kaki juga tidak bisa melintas. Sebab, polisi juga sudah memasan kawat berduri di jalan tersebut.

Kawat duri sengaja dipasang untuk membatasi lokasi aksi massa pedemo. Selain kawat duri, mobil anti huru hara seperti water canon dan barracuda juga sudah bertengger.

Pengamanan sidang kelima Ahok tampak lebih ketat. Kapolres Jakarta Selatan Kombes Iwan Kurniawan menyebut lebih dari 2.000 personel diterjunkan buat mengawal jalannya sidang.

Pantauan di lapangan, polisi berjaga di segala sudut Gedung Kementan. Personel juga ditempat mengatur lalu lintas di beberapa tempat, dekat Gedung Kementan.

Hari ini sidang lanjutan kasus Ahok kembali digelar Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Agenda sidang mendengarkan keterangan saksi.