Kebayoran > Laporan Utama

Ini Kandungan Narkoba Bentuk Permen

Rabu, 11 Januari 2017 18:11 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Direktur Reserse Narkoba, Kombes Nico Afinta
Direktur Reserse Narkoba, Kombes Nico Afinta

Share this





Kandungan didalam Narkoba bentuk perman tersebut adalah amphetamin atau sama persis dengan bahan pembuat ekstasi.

KEBAYORAN BARU – Beredarnya Narkoba yang menyerupai bentuk permen, mulai ditanggapi serius oleh pihak kepolisian. Sebab, kandungan didalam Narkoba yang harganya relatif murah itu, setara dengan kandungan ekstasi yang dapat membuat pemakainya energic.

Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta menuturkan, kandungan didalam Narkoba murah tersebut adalah amphetamin atau sama persis dengan bahan pembuat ekstasi. "Kandungannya amphetamin atau sama kayak ekstasi," kata Nico melalui sambungan telepon di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (11/1/2017).

Nico membeberkan, untuk Narkoba murah tersebut dapat dipergunakan setiap saat, sehingga berbeda dengan ekstasi yang kerap dikonsumsi pada malam hari. "Cuma kalau ekstasi makainya malam hari kan," terang Nico.

Selain itu, sambung Nico, para pengedar Narkoba murah tersebut mulai menyasar kaum pelajar sebagai mangsa pasarnya. "Diedarkan dimana saja juga disekolah. Ya SMA lah ya (tingkatan)," jelas Nico.

Sebelumnya diketahui, jajaran kepolisian mengungkap peredaran Narkoba murah yang dibuat seperti permen. Sebanyak 24.000 butir Narkoba diamankan dari dua orang di Hotel Golden Crown, Tamansari, Jakarta Barat.







Kebayoran > Laporan Utama

Polisi Amankan Istri Pertama Bos Pandawa Group

Rabu, 22 Februari 2017 18:04 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Bos Pandawa Grup Salman Nuryanto Ditangkap
Bos Pandawa Grup Salman Nuryanto Ditangkap

Share this





Nani ditangkap karena masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) bersamaan dengan Nuryanto karena ikut melarikan diri.

DEPOK – Untuk menelusuri aset milik bos Pandawa Group Salman Nuryanto, Polda Metro Jaya turut mengamankan istri pertama Nuryanto bernama Nani. Diduga, Nuryanto mengamankan aset hasil penipuannya itu mengatasnamakan istrinya.

Kepala Subdit Fisimondev Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya, AKBP Sandi mengatakan, Nani ditangkap karena masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) bersamaan dengan Nuryanto karena ikut melarikan diri.

"Istri pertamanya kami tangkap di tempat persembunyiannya di Indramayu. Dia juga kabur dan jadi DPO kami," kata dia saat di konfirmasi, Rabu (22/2/2017).

Sandi menjelaskan, meski memiliki dua istri, hanya Nani istri pertama Nuryanto yang terlibat. Istri kedua Nuryanto memang sempat diamankan pada saat penangkapan suaminya itu. Namun, dia dipulangkan karena dinilai tidak mengambil peran dalam investasi bodong tersebut.

Sandi menyebut, sejumlah barang bukti juga turut diamankan dalam penangkapan tersebut. Namun, dia tidak dapat menyebutkan detail alat bukti tersebut, karena masih dalam pendataan polisi. "Dia sudah ditahan di sini (Polda Metro Jaya," tambah Sandi.

Diberitakan sebelumnya, Nuryanto ditangkap bersama dua adiknya, Taryo dan Subardi yang berperan sebagai administrator di Pandawa Mandiri Group. Selain itu, seorang leader Pandawa Mandiri Group sekaligus orang kedua setelah Nuryanto, Madamine, juga telah ditangkap dan ditahan.







Kebayoran > Laporan Utama

Lapor Polisi Jika Temukan Politik Uang

Rabu, 15 Februari 2017 09:13 WIB
Editor : Wahyu AH | Sumber : DBS

Ilustrasi serangan fajar.
Ilustrasi serangan fajar.

Share this





Nantinya, akan ada 2 anggota kepolisian yang mengawal 4 TPS. Segera lapor bila menemukan indikasi politik uang.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono meminta masyarakat proaktif melaporkan segala indikasi adanya politik uang atau kecurangan lain kepada polisi yang bertugas di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

“Ada 2 hingga 4 petugas kepolisian yang mengawal 4 atau 8 TPS. Juga, ada pula anggota yang berpatroli untuk mengontrol keamanan. Kan polanya ada yang terendah 2 polisi, 4 TPS, 8 linmas. Kemarin, rata-rata ada beberapa TPS yang berdekatan jadi memudahkan untuk kontrol,” tutur Argo.

Kapolda Metro Jaya Irjen Mochamad Iriawan rencananya akan memantau langsung pelaksanaan pencoblosan sejumlah TPS di Jakarta Selatan dan Jakarta Utara.

Antara lain, TPS 03 Dharmawangsa, TPS 04 Budi Kemuliaan, TPS 01 Gondangdia, dan TPS 03 Setiabudi.

Selain DKI Jakarta, wilayah hukum Polda Metro Jaya yang juga melaksanakan Pilkada adalah Kabupaten Bekasi, Tangerang, dan Tangerang Selatan. 







Kebayoran > Laporan Utama

Polisi Buru Keberadaan Bos Pandawa Grup

Jumat, 10 Februari 2017 16:48 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Bos Pandawa Grup Salman Nuryanto (pakai sorban) (ist)
Bos Pandawa Grup Salman Nuryanto (pakai sorban) (ist)

Share this





Polisi hingga saat ini belum mendapatkan titik terang keberadaan Bos Pandawa Grup Salman Nuryanto.

KEBAYORAN BARU – Polda Metro Jaya tengah memburu keberadaan bos dari Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa Grup, Salman Nuryanto. Bahkan, pihak imigrasi sudah mengeluarkan surat pencekalan agar Salman tidak bisa keluar negeri.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono menjelaskan, kendala penetapan tersangka dalam kasus Pandawa Grup karena sampai sekarang, karena pihak kepolisian belum meminta keterangan dari bos Pandawa Grup, Salman Nuryanto.

Argo mengaku polisi hingga saat ini belum mendapatkan titik terang keberadaan Salman Nuryanto. "Kendalanya, Sekarang tidak tahu kemana dia (Salman Nuryanto)," ujar Argo di Mapolda Metro Jaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (10/2/2017).

Argo menambahkan, saat ini pihak kepolisian baru memeriksa korban dan beberapa pegawai KSP Pandawa Grup. Hal tersebut guna menyusuri, adanya keterkaitan Salman dengan beberapa petinggi bisnis yang diduga menelan kerugian hingga triliunan rupiah.

"Ada beberapa yang sudah diperiksa. Sementara itu dulu. Karena kami belum tahu strukturnya di sana apa saja belum tahu. Nanti kamu tanya strukturnya ada bendahara, ada siap disitu," tukas Argo.







Kebayoran > Laporan Utama

Bos Pandawa Grup Dicekal Keluar Negeri

Jumat, 10 Februari 2017 15:00 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Bos Pandawa Grup Salman Nuryanto
Bos Pandawa Grup Salman Nuryanto

Share this





Pihak kepolisian akan memburu keberadaan Salman untuk dimintai keterangan.

KEBAYORAN BARU - Bos Pandawa Grup Salman Nuryanto yang dilaporkan karena penipuan investasi bodong, dicekal oleh pihak kepolisian untuk keluar negeri. Pencekalan tersebut, merujuk pada banyaknya laporan yang dibuat di Polda Metro Jaya.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, pihaknya sudah bekerja sama dengan pihak imigrasi untuk mengeluarkan surat pencekalan.

"Dan dia juga sudah kami cekal. Dicekal ke imigrasi agar tidak keluar," kata dia saat dikonfirmasi wartawan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (10/2/2017).

Sementara itu, saat ini Salman Nuryanto masih berstatus saksi terlapor. Nantinya, pihak kepolisian akan memburu keberadaan Salman untuk dimintai keterangan.

"Sampai sekarang kami belum dapatkan yang bersangkutan dan nantinya kami cari tahu dulu tentang keberadaan yang bersangkutan," beber Argo.

Sementara itu, Argo menjelaskan kerja sama pihak kepolisian dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurut Argo, hal tersebut untuk menentukan apakah kasus penipuan tersebut masuk kategori perbankan.

"Kami koordinasi dengan OJK apakah ini perbankan atau bukan, karena ini berkaitan dengan koperasi," tukas Argo.







Kebayoran > Laporan Utama

Debat Paslon Terakhir, Polisi Siapkan Tambahan Personil

Kamis, 09 Februari 2017 15:58 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Debat Cagub DKI
Debat Cagub DKI

Share this





Polisi yakin animo masyarakat DKI dalam debat terakhir semakin tinggi. Oleh karena itu penjagaan harus diperketat.

KEBAYORAN BARU – Polda Metro Jaya akan menambah kekuatan personel kepolisian yang akan menjaga jalannya debat kandidat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur sesi terakhir yang akan dilangsungkan Jumat (10/2/2017).

Kapolda Metro Jaya, Irjen M. Iriawan mengatakan, polisi yakin animo masyarakat DKI dalam debat terakhir semakin tinggi. Oleh karena itu penjagaan harus diperketat. Polisi sudah menyiapkan personil tambahan untuk menjaga jalannya debat terbuka Paslon Gubernur DKI Jakarta.

"Kalau memang ada tambahan lagi dari Paslon para pendukung datang tentu kami tambahkan," ujar Iriawan di Mapolda Metro Jaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (9/2/2017).

Meskipun siap menambah personil kepolisian, Iriawan meminta agar massa pendukung Paslon tetap akan menjaga situasi dan kondisi yang aman. Hal tersebut berkaca pada dua debat sebelumnya, yang berjalan kondusif.

"Saya meminta kepada seluruh Paslon dan semua pendukungnya tetap seperti kemarin melaksanakan debat seperti biasa dan terbuka, semua pendukungnya pintar-pintar, semua santun sehingga ditontonnya enak," tukas dia.







Kebayoran > Laporan Utama

Kapolda : Siapapun Gubernurnya, Jakarta Harus Tetap Aman

Kamis, 09 Februari 2017 15:49 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan
Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan

Share this





Meskipun terjadi silang pendapat antara pasangan calon dan para pendukungnya, hal ini diharapkan tidak akan mempengaruhi kedamaian di Jakarta.

KEBAYORAN BARU –Jelang Pilkada DKI Jakarta 15 Februari2017, Kapolda Metro Jaya, Irjen M. Iriawan mengungkapkan siapapun yang akan menduduki kursi panas DKI satu, Ibu Kota harus tetap dalam kondisi aman.

Hal tersebut disampaikan oleh Iriawan, usai berkoordinasi dengan Pangdam Jaya, Mayjen Teddy Lhaksmana dalam rangka menjaga keamanan saat pelaksanaan Pilkada DKI. "Siapapun gubernurnya yang penting Jakarta tetap dalam keadaan aman, karena Jakarta ini barometer Indonesia," tegas Iriawan di Mapolda Metro Jaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (9/2/2017).

Selain itu, meskipun terjadi silang pendapat antara pasangan calon dan para pendukungnya, hal ini diharapkan tidak akan mempengaruhi kedamaian di Jakarta. Bahkan, Iriawan menegaskan, tidak ada perpecahan antar golongan di DKI.

"Tidak ada masalah, buktinya debat publik kanan kiri satu dua tiga tidak ada masalah. Kemarin ada nomor tiga di Jakarta Utara tidak ada masalah. Semua komitmen damai," jelas Iriawan.

Lebih jauh, mantan Kadiv Propam Mabes Polri ini menanggapi banyaknya berita hoax yang bermunculan. Menurut Iriawan, masyarakat sudah pandai memilah milih bahan bacaan. Mana yang patut diserap mana yang patut dipertanyakan kebenarannya.

"Isu itukan banyak di medsos (media sosial). Media mainstream juga tidak mengangkat itu karena memang itu jamannya digital. Jaman media sosial yang luar biasa sehingga ada berita hoax," tukas pria yang pernah menjabat Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya.







Kebayoran > Laporan Utama

Lagi, korban Pandawa Grup Bermunculan di Polda Metro Jaya

Rabu, 08 Februari 2017 20:55 WIB
Editor : Waritsa Asri | Reporter : Chandra Purnama

Kuasa hukum Muhammad Linggar Afriyadi untuk 72 korban Pandawa Grup
Kuasa hukum Muhammad Linggar Afriyadi untuk 72 korban Pandawa Grup

Share this





Ada 72 orang yang kembali melaporkan penipuan yang dilakukan salah seorang leader Pandawa Grup ke Polda Metro Jaya

KEBAYORAN BARU - Korban Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa Grup kembali mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Metro Jaya, untuk melaporkan bos Pandawa Grup beserta para leadernya. Kali ini korban yang berjumlah 72 orang, diwakili oleh kuasa hukum Muhammad Linggar Afriyadi.

Menurut Linggar, klien-kliennya tertipu oleh seorang leader Pandawa Grup bernama Yeni Silva yang berasal dari Depok, Jawa Barat. Total kerugian semuanya mencapai Rp 5 miliar.

"Yeni Silva ini sebagai suaminya Bambang Supriyanto yang diketahui sebagai leader dengan jabatan diamond," kata Linggar di SPKT Polda Metro Jaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (8/2/2017).

Linggar menambahkan, para korban kasus berharap Yani Silva dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya. Malahan, dari penelusuran diketahui aset dari para leader Pandawa Grup memiliki benda bergerak maupun tidak bergerak.

"Jadi kami mengharapkan para yang tadi saya laporkan segera kooperatif kemudian bisa menyelesaikan kerugian yang ada pada klien kami ini. Karena hampir dari para leader ini diduga memiliki kekayaan atau benda bergerak maupun tidak bergerak seperti rumah, apartemen ini ternyata berkeliaran di mana mana," jelas Linggar.







Kebayoran > Laporan Utama

Polisi Belum Masukan Pemilik Pandawa Grup Sebagai DPO

Rabu, 08 Februari 2017 18:11 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono

Share this





Pihak kepolisian juga belum mengetahui keberadaan bos Pandawa Grup.

KEBAYORAN BARU - Polda Metro Jaya belum memasukan pemilik Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa Grup, Salman Nuryanto kedalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Alasannya, hingga saat ini Nuryanto masih berstatus saksi atas kasus yang diduga menelan ribuan korban.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, meskipun sudah menerima delapan limpahan berkas kasus Pandawa Grup dari Polres Kota Depok dan rincian pemeriksaan saksi-saksi, pemilik Pandawa Grup masih berstatus saksi terlapor.

"Belum ini kan masih saksi jadi balum buron," kata Argo kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (8/2/2017).

Selain itu, pihak kepolisian juga belum mengetahui keberadaan bos Pandawa Grup. Malahan, sampai saat pihaknya belum meminta keterangan sebagai saksi dari pihak keluarga Nuryanto. "Belum ada (pemeriksaan keluarga terlapor) nanti tunggu saja," tukas Argo.

Sebelumnya diberitakan, kuasa hukum dari 173 korban investasi bodong Pandawa Grup, Koto Sitorus mendatangi Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya untuk menanyakan perkembangan penyelidikan sekaligus mendesak pihak kepolisian segera mengusut kasus yang diduga menelan kerugian hingga triliunan rupiah.







Kebayoran > Laporan Utama

Pengacara Korban Minta Polisi Segera Selidiki Kasus Pandawa Grup

Rabu, 08 Februari 2017 15:35 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Pengacara korban Pandawa Grup Koto Sitorus (kanan) di Polda Metro Jaya.
Pengacara korban Pandawa Grup Koto Sitorus (kanan) di Polda Metro Jaya.

Share this





Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya belum bisa memberi tanggapan karena sampai saat ini laporan yang dilayangkan masih tertahan di SPKT Polda Metro Jaya.

KEBAYORAN BARU – Kuasa Hukum dari 178 korban investasi bodong Pandawa Grup, Koto Sitorus meminta pihak penyidik Polda Metro Jaya segera mengusut kasus tersebut. Untuk itu, dirinya mendatangi Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) untuk menanyakan perkembangan penyelidikan yang menelan kerugian hingga triliunan rupiah ini.

"Kami itu tim kuasa hukum mau follow up ke Krimsus, terutama karena kami buat laporan kan hari Jumat (3/2/2017) lalu. Kami mau tanya, panggilan saksi korban kapan dan siapa-siapa saja yang dipanggil. Supaya kami persiapkan juga bahan materinya dan bukti-bukti awal yang akan kami serahkan," kata Koto di Polda Metro Jaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (8/2/2017).

Koto melanjutkan, pihak Dit Reskrimsus belum bisa memberi tanggapan karena sampai saat ini laporan yang dilayangkan masih tertahan di SPKT Polda Metro Jaya.

"Ternyata laporan hari Jumat ini kan baru berapa hari ya, mereka janji satu minggu ini udah ditentukan diunit mana akan diperiksa, minggu depan akan ditentukan siapa-siapa saja yang di panggil," beber Koto.

Sebelumnya diketahui, korban investasi bodong Pandawa Group mendatangi SPKT Polda Metro Jaya pada Jumat (3/2/2017) lalu. Dalam laporan tersebut, pihak korban melaporkan Nuryanto selaku pemilik Pandawa Grup beserta jajarannya karena telah melakukan praktik pencucian uang.







Kebayoran > Laporan Utama

Perwira Polisi Jadi Leader Pandawa Grup

Rabu, 08 Februari 2017 13:56 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

KSP Pandawa Grup
KSP Pandawa Grup

Share this





Oknum perwira polisi tersebut menjadi leader untuk merayu para nasabah agar menanamkan investasinya di Pandawa Grup.

KEBAYORAN BARU – Kasus investasi bodong Pandawa Grup menyeret nama seorang yang diduga anggota kepolisan berpangkat perwira menengah (Pamen). Oknum polisi tersebut diduga menjadi leader untuk merayu para nasabah. Hal tersebut dibenarkan oleh kuasa hukum korban Pandawa Grup, Oto Sitorus.

"Iya benar ada anggota kepolisian. Pangkatnya Pamen. Dia itu sebagai leader Pandawa Grup," ujarnya di Polda Metro Jaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (8/2/2017).

Meskipun begitu, sambung Oto, dirinya enggan menyebutkan nama perwira kepolisian tersebut. Pasalnya, saat ini pihaknya masih mengumpulkan data-data leader yang bekerja untuk menyaring para nasabah.

"Total ada ratusan leader, didata kami baru 80-an yang terdata. Pokoknya nanti kami beberkan semua datanya," pungkas Oto.

Sebelumnya diketahui, kuasa hukum 178 korban investasi bodong Pandawa Grup mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Metro Jaya pada Jumat (3/2/2017) lalu.

Laporan yang tertuang dalam LP/593/II/2017/PMJ/http://dit.reskrimsus/" Dit.Reskrimsus tanggal 3 Februari 2017, dengan terlapornya Nuryanto, Agustinus Budi, Yenny Selva dan Vita Lestari. Mereka disangkakan dengan Pasal 378 dan 372 KUHP dan atau Pasal 3, 4 dan 5 UU Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).