Kebayoran > Laporan Utama

IBEF 2017, Ajang Startup Kenalkan Label Baru

Kamis, 07 Desember 2017 17:19 WIB
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Rachli Anugrah Rizky

IBEF 2017
Startup label Biru Apparel yang diangkat oleh Saskya kenalkan pakaian simple ready to wear dengan Jakarta.
Foto : Rachli Anugrah Rizky

Share this








Di ajang IBEF 2017 menjadi wadah sekaligus kesempatan para startup baru mengenalkan produk kreasi dengan label baru.

KEBAYORAN – Dalam The 7th International Business Adminitration Entrepreneurship Festival (IBEF) 2017 yang diadakan oleh Jurusan Adminitrasi Bisnis - Swiss German University (SGU), menampilkan produk kreasi label baru dari delapan group startup. 

Startup tersebut di antaranya Biru Apparel, Ethos, Jars, Myth, Pocket Space, Kataku, Guanabana, dan Das. Mereka menawarkan berbagai produk, mulai dari alas kaki, dompet, jaket, hingga pakaian.

Dijelaskan oleh Head of IBEF 2017 Saskya Citrananda, start up ini merupakan label baru yang menampilkan berbagai produk hasil kreasi, seperti mengkreasiakan motif kain Songet dijadikan pakaian maupun tas.

"Banyak produk kreasi Songket dijadikan berbagai prpduk. Meskipun lebel baru, mereka rata-rata sudah terlebih dahulu memiliki website atau online store," ucapnya di Piazza Hall Gandaria City Mall, Jakarta Selatan.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari (7-9/12/2017) ini, terbuka untuk umum. Berbagai produk dijual dengan variasi harga mulai dari di bawah Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu. 

Salah satu startup yang ikut dalam IBEF 2017 ini adalah start up label Biru Apparel yang diangkat oleh Saskya . Dia menerangkan kegiatan ini memang salah satu praktik dari tugas penjurusan di Semester V. Namun, secara ilmu entrepreneurship sudah dibekali sejak Semester III.

Pada poduk ditawarkan berupa pakaian simple ready to wear dengan Jakarta. Hasil karya dia tuangkan dengan cara memfoto dan mendesain objek isi Kota Jakarta.

Dalam proses pembuatan labelnya, Saskya tak menampik adanya kesulitan. Namun hal itu dapat dilaluinya karena sudah merasa passion di bidangnya. "Kesulitannya saat ini mencari vendor yang tepat," katanya.

Ke depannya sendiri, Saskya berharap bisa terus menjual hasil karyanya. Meskipun sebagai salah satu tugas, selepas kegiatan IBEF dapat mengembangkan labelnya sendiri, bahkan membuka offline store.